jjaewookims

Our Wedding Day

Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.

Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?

Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.

Sama seperti sekarang.

Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.

Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.

Katanya, “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”

© jjaewookims.


Pagi ini jalanan diluar sana nampak cukup ramai untuk dilewati kendaraan bermotor dan mobil yang berlalu lalang, hal itu tentu saja membuat Hanna harus terjebak macet yang sukses membuat emosinya naik bukan main. Ditambah lagi dengan panggilan teleponnya yang terus menerus tidak terhubung ke Papa membuat Hanna ketakutan. Bukan takut karena khawatir Papa sakit, melainkan takut karena Papa menemui Zaffran dan menjadikan hubungannya dengan Zaffran hari ini berakhir begitu saja.

Sementara itu, Zaffran yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran sang Papa yang tengah duduk di kursi.

“Papa?” ucap lelaki itu sambil melepas jas kebesarannya, kemudian ia taruh jas itu di kursi lalu duduk menghampiri Papa.

“Tumben Papa ke sini,” katanya sambil menyeduh secangkir kopi untuk Hasan.

Pria paruh baya itu hanya tertawa dan langsung menyeruput kopi yang sudah dibuat menantunya itu.

“Zaff, Papa udah dengar semuanya dari Husein.”

Ah, itu. Zaffran sangat terkejut mendengarnya. Matanya tak bisa dipungkiri bahwa ia khawatir Papa akan memarahinya karena sudah mencari tahu tentang masalah Mama dan Hanna yang terjadi dimasa lalu. Tapi nyatanya, Papa sama sekali tidak marah. Beliau justru khawatir akan hubungan Zaffran dan putrinya itu.

“Zaff, dengar Nak … kalau dengan melakukan ini hanya akan membuat rumah tanggamu dan hubunganmu dan Hanna hancur, lebih baik jangan dilakukan, Nak.” Hasan berujar memberi saran. “Lagi pula Papa sudah ikhlas dengan semuanya kok,” sambung Hasan.

Lelaki itu menggeleng yakin. Ia tetap tidak akan mengubah rencananya yang sudah ia susun itu begitu saja. Katanya, jikalau hari ini, esok, lusa, ataupun hari-hari selanjutnya akan menjadi akhir dari hubungannya dan Hanna berakhir, maka Zaffran sudah siap untuk itu.

Katanya, Pa, nggak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan Hanna. Meskipun Zaffran harus mengorbankan rumah tangganya, bagi lelaki itu kebahagiaan Hanna jauh lebih penting dari apapun itu.

Ucapan Zaffran barusan itu sukses menuai ketidaksetujuan dari Papa mertuanya. Jelas sekali Hasan tetap menolak keinginan Zaffran yang ingin mempertemukan Hanna dengan istrinya itu. Bukan apa-apa, Hasan memang tidak ingin hubungan Zaffran dan Hanna hancur hanya karena itu. Hasan tahu Hanna tidak akan tinggal diam untuk itu, tapi Zaffran tetap bersikukuh tidak akan mengubah rencananya.

“Nak, pikirkan lagi....”

Ia menggenggam erat kedua tangan Hasan. “Pa, percaya sama Zaffran. Semua akan baik-baik aja, semua akan kembali seperti semula.”

“Zaffrannn!”

“Pa, Zaffran mohon....”

Disela perdebatan mereka, Hanna yang telah sampai di rumah sakit itu dengan langkah terburu-buru ia segera menelusuri setiap ruangan yang ada. Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan bertanya, “Sus, maaf. Ruangan dokter Zaffran di mana, ya?”

“Lantai dua paling ujung, Bu.”

“Baik, Sus, terimakasih.”

Setelah bertanya, ia segera menelusuri lift-lift yang menuju lantai dua itu. Sementara Galaksi yang melihat Hanna sedang mencari sesuatu pun segera mendekatinya. “Hey, Han,” panggil Galaksi sambil meraih tangan Hanna. Namun nahas, Hanna justru menepisnya dan mencampakkannya lalu masuk ke dalam lift.

“Wah,” ucap Galaksi tidak percaya. Bagaimana bisa Hanna menepis tangannya begitu saja. Laki-laki itu terus mengeluh karena merasa tidak adil Hanna mencampakkan dirinya. Tanpa ragu, ia justru menyusul Hanna tanpa sepengetahuan gadis itu.

Dan di sinilah sekarang, tepat di depan ruangan Zaffran. Hanna terdiam sambil memegangi gagang pintu itu dengan wajah yang sudah berapi-api. Ya, ia mendengar semuanya.

“Tapi, Zaff, kamu tau kan apa resikonya kamu berbuat gini, hah?”

Zaffran mengangguk. Ia sangat tahu seperti apa akibat dari ulahnya itu. Hasan berdecak kesal. “Zaff, Papa nggak bis—”

Plak!

Belum saja Hasan selesai bicara, Hanna tiba-tiba saja masuk dan langsung menampar pipi Zaffran dengan kerasnya. Zaffran terkejut bukan main. Sedangkan Hasan yang melihatnya tentu saja marah, namun ia pendam karena Zaffran memberi kode untuk tidak ikut campur.

“Zaffrannn!” Hasan bicara dengan pelan.

“Hanna, dengarkan say—”

Plak!

Lagi, ia menampar pipi Zaffran dengan keras. Tentu saja lelaki itu kesakitan, namun ia tahan.

“Hanna....”

Hanna mencengkeram kuat kerah baju Zaffran dengan tatapan matanya yang mulai basah. Ia hancur, ia menangis, ia kecewa, ia marah terhadapnya.

“Anjing tau nggak lo!” kata Hanna tepat di depan wajahnya.

Hasan yang mendengar itu semakin erat mengepal tangannya. Rasanya, ia ingin sekali menampar wajah putrinya itu. Bisa-bisanya dia menampar suaminya tepat dihadapan Papa-nya sendiri.

“Hanna, maaf,” lirih pria itu. Jujur, ia benar-benar sedih bukan main. Ia sedih karena membuat Hanna menangis.

Plak!

“Maaf kata lo? Lo pikir, apa yang lo lakuin ini pantas gue maafin?”

“Hanna....”

“ZAFFRAN!” bentak Hanna dan sukses membuat Zaffran terpaku diam. “Anjing tau gak lo! Lo tuh udah bohongin gue, lo udah ngelanggar peraturan gue, dan dengan beraninya lo masih bisa bilang maaf ke gue?” ucap Hanna dengan nada sedikit emosi, kali ini lengkap dengan deras air matanya.

“Hanna, maaf. Saya tau saya salah, saya tau saya salah udah bohongi kamu. Tapi, Han, saya nggak bermaks—”

“Ya! Lo emang nggak bermaksud buat nyakitin gue. Tapi lo? Lo udah ngerusak kepercayaan gue Zaffran!”

“Lo tau kan, gue udah pernah bilang sama lo untuk jangan bahas Mama ataupun cari tau soal gue dan Mama!” ujar Hanna mengingatkan. “Tapi kenapa lo masih kekeh buat cari tauuu?” sambungnya.

Maaf, katanya. Ya, mungkin kata maaf hanyalah kata yang bisa Zaffran ucapkan kepada gadis itu. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia benar-benar menyesal namun setengah hatinya berkata tidak.

“Hanna,” panggil Zaffran pelan.

“JANGAN PANGGIL NAMA GUE TERUS! GUE BUTUH JAWABAN LO, JING!” teriak Hanna dengan kesal.

Zaffran menundukkan kepala. Entah kenapa hatinya benar-benar sakit saat gadis itu memanggilnya anjing dan bukannya Zaffran. Tak hanya itu, Hasan selaku Papa-nya pun sangat kecewa dengan sikap anaknya itu. Dulu ia memang tidak pernah ada disaat Hanna butuh, tapi ia tidak pernah lupa untuk selalu mengajarkan etika bicara Hanna kepada orang lain.

“ZAFF, JAWAB!” Ia menggerak-gerakkan tubuh suaminya.

Zaffran mendongak ke arah Hanna. Ditatapnya mata gadis itu sedalam mungkin lalu berkata, “Maaf,” ucap lelaki itu dengan meneteskan air mata, kali ini nampak penuh penyesalan.

Hanna menghela napas berat. “Okey, kalo itu yang lo mau. Sesuai kesepakatan diawal, lo tau kan apa itu?” ujar Hanna mengingatkan dan lelaki itu pun mengangguk. “Mulai sekarang, jangan pernah lagi muncul dihadapan gue. Kita ... selesai sampai di sini,” final Hanna lalu pergi meninggalkan Zaffran dan juga Papa-nya.

“Hah? Se-selesai? Selesai apa, Zaff maksudnya?” beo Hasan.

Zaffran menegakkan kepalanya sembari menatap langit ruangan itu. Ia tak mampu berkata-kata lagi.

“ZAFFRAN JAWAB!”

“Kita akan berpisah, Pa.”

“APA?!” Hasan berteriak dengan terkejut. “Nggak! Nggak boleh! Kalian nggak boleh berpisah,” ucap Hasan dengan gelisah.

“Pa….”

“Kenapa? Kamu mau susul Hanna?”

Zaffran mengangguk. “Hmm.”

“Kalau gitu susul lah dia!” perintah Hasan.

Tanpa lama-lama, ia pun mengambil kunci mobilnya dan berlari sekencang mungkin. Ia yakin Hanna belum jauh dari rumah sakitnya. Ia terus berlari menelusuri rumah sakit dan melewati desakan ramai orang-orang di sana.

Ting!

Ting!

Bunyi notifikasi dari ponsel Zaffran membuat dirinya berhenti berlari. Zaffran meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

Fahri Zaff, istri lo di apart temennya. Alamatnya di jalan Taman Raya 2, kamar nomor 601, lantai 5.

Setelah membaca pesan dari Fahri, lelaki itu berlari kembali dan pergi menuju parkiran mobil. Setelah tiba, ia nyalakan mesin mobil lalu ia laju dengan kecepatan setinggi mungkin menuju alamat itu.

© jjaewookims.


Pagi ini jalanan diluar sana nampak cukup ramai untuk dilewati kendaraan bermotor dan mobil yang berlalu lalang, hal itu tentu saja membuat Hanna harus terjebak macet yang sukses membuat emosinya naik bukan main. Ditambah lagi dengan panggilan teleponnya yang terus menerus tidak terhubung ke Papa membuat Hanna ketakutan. Bukan takut karena khawatir Papa sakit, melainkan takut karena Papa menemui Zaffran dan menjadikan hubungannya dengan Zaffran hari ini berakhir begitu saja.

Sementara itu, Zaffran yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran sang Papa yang tengah duduk di kursi.

“Papa?” ucap lelaki itu sambil melepas jas kebesarannya, kemudian ia taruh jas itu di kursi lalu duduk menghampiri Papa.

“Tumben Papa ke sini,” katanya sambil menyeduh secangkir kopi untuk Hasan.

Pria paruh baya itu hanya tertawa dan langsung menyeruput kopi yang sudah dibuat menantunya itu.

“Zaff, Papa udah dengar semuanya dari Husein.”

Ah, itu. Zaffran sangat terkejut mendengarnya. Matanya tak bisa dipungkiri bahwa ia khawatir Papa akan memarahinya karena sudah mencari tahu tentang masalah Mama dan Hanna yang terjadi dimasa lalu. Tapi nyatanya, Papa sama sekali tidak marah. Beliau justru khawatir akan hubungan Zaffran dan putrinya itu.

“Zaff, dengar Nak … kalau dengan melakukan ini hanya akan membuat rumah tanggamu dan hubunganmu dan Hanna hancur, lebih baik jangan dilakukan, Nak.” Hasan berujar memberi saran. “Lagi pula Papa sudah ikhlas dengan semuanya kok,” sambung Hasan.

Lelaki itu menggeleng yakin. Ia tetap tidak akan mengubah rencananya yang sudah ia susun itu begitu saja. Katanya, jikalau hari ini, esok, lusa, ataupun hari-hari selanjutnya akan menjadi akhir dari hubungannya dan Hanna berakhir, maka Zaffran sudah siap untuk itu.

Katanya, Pa, nggak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan Hanna. Meskipun Zaffran harus mengorbankan rumah tangganya, bagi lelaki itu kebahagiaan Hanna jauh lebih penting daripada semua itu.

Ucapan Zaffran barusan itu sukses menuai ketidaksetujuan dari Papa mertuanya. Jelas sekali Hasan tetap menolak keinginan Zaffran yang ingin mempertemukan Hanna dengan istrinya itu. Bukan apa-apa, Hasan memang tidak ingin hubungan Zaffran dan Hanna hancur hanya karena itu. Hasan tahu Hanna tidak akan tinggal diam untuk itu, tapi Zaffran tetap bersikukuh tidak akan mengubah rencananya.

“Nak, pikirkan lagi....”

Ia menggenggam erat kedua tangan Hasan. “Pa, percaya sama Zaffran. Semua akan baik-baik aja, semua akan kembali seperti semula.”

“Zaffrannn!”

“Pa, Zaffran mohon....”

Disela perdebatan mereka, Hanna yang telah sampai di rumah sakit itu dengan langkah terburu-buru ia segera menelusuri setiap ruangan yang ada. Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan bertanya, “Sus, maaf. Ruangan dokter Zaffran di mana, ya?”

“Lantai dua paling ujung, Bu.”

“Baik, Sus, terimakasih.”

Setelah bertanya, ia segera menelusuri lift-lift yang menuju lantai dua itu. Sementara Galaksi yang melihat Hanna sedang mencari sesuatu pun segera mendekatinya. “Hey, Han,” panggil Galaksi sambil meraih tangan Hanna. Namun nahas, Hanna justru menepisnya dan mencampakkannya lalu masuk ke dalam lift.

“Wah,” ucap Galaksi tidak percaya. Bagaimana bisa Hanna menepis tangannya begitu saja. Laki-laki itu terus mengeluh karena merasa tidak adil Hanna mencampakkan dirinya. Tanpa ragu, ia justru menyusul Hanna tanpa sepengetahuan gadis itu.

Dan di sinilah sekarang, tepat di depan ruangan Zaffran. Hanna terdiam sambil memegangi gagang pintu itu dengan wajah yang sudah berapi-api. Ya, ia mendengar semuanya.

“Tapi, Zaff, kamu tau kan apa resikonya kamu berbuat gini, hah?”

Zaffran mengangguk. Ia sangat tahu seperti apa akibat dari ulahnya itu. Hasan berdecak kesal. “Zaff, Papa nggak bis—”

Plak!

Belum saja Hasan selesai bicara, Hanna tiba-tiba saja masuk dan langsung menampar pipi Zaffran dengan kerasnya. Zaffran terkejut bukan main. Sedangkan Hasan yang melihatnya tentu saja marah, namun ia pendam karena Zaffran memberi kode untuk tidak ikut campur.

“Zaffrannn!” Hasan bicara dengan pelan.

“Hanna, dengarkan say—”

Plak!

Lagi, ia menampar pipi Zaffran dengan keras. Tentu saja lelaki itu kesakitan, namun ia tahan.

“Hanna....”

Hanna mencengkeram kuat kerah baju Zaffran dengan tatapan matanya yang mulai basah. Ia hancur, ia menangis, ia kecewa, ia marah terhadapnya.

“Anjing tau nggak lo!” kata Hanna tepat di depan wajahnya.

Hasan yang mendengar itu semakin erat mengepal tangannya. Rasanya, ia ingin sekali menampar wajah putrinya itu. Bisa-bisanya dia menampar suaminya tepat dihadapan Papa-nya sendiri.

“Hanna, maaf,” lirih pria itu. Jujur, ia benar-benar sedih bukan main. Ia sedih karena membuat Hanna menangis.

Plak!

“Maaf kata lo? Lo pikir, apa yang lo lakuin ini pantas gue maafin?”

“Hanna....”

“ZAFFRAN!” bentak Hanna dan sukses membuat Zaffran terpaku diam. “Anjing tau gak lo! Lo tuh udah bohongin gue, lo udah ngelanggar peraturan gue, dan dengan beraninya lo masih bisa bilang maaf ke gue?” ucap Hanna dengan nada sedikit emosi, kali ini lengkap dengan deras air matanya.

“Hanna, maaf. Saya tau saya salah, saya tau saya salah udah bohongi kamu. Tapi, Han, saya nggak bermaks—”

“Ya! Lo emang nggak bermaksud buat nyakitin gue. Tapi lo? Lo udah ngerusak kepercayaan gue Zaffran!”

“Lo tau kan, gue udah pernah bilang sama lo untuk jangan bahas Mama ataupun cari tau soal gue dan Mama!” ujar Hanna mengingatkan. “Tapi kenapa lo masih kekeh buat cari tauuu?” sambungnya.

Maaf, katanya. Ya, mungkin kata maaf hanyalah kata yang bisa Zaffran ucapkan kepada gadis itu. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia benar-benar menyesal namun setengah hatinya berkata tidak.

“Hanna,” panggil Zaffran pelan.

“JANGAN PANGGIL NAMA GUE TERUS! GUE BUTUH JAWABAN LO, JING!” teriak Hanna dengan kesal.

Zaffran menundukkan kepala. Entah kenapa hatinya benar-benar sakit saat gadis itu memanggilnya anjing dan bukannya Zaffran. Tak hanya itu, Hasan selaku Papa-nya pun sangat kecewa dengan sikap anaknya itu. Dulu ia memang tidak pernah ada disaat Hanna butuh, tapi ia tidak pernah lupa untuk selalu mengajarkan etika bicara Hanna kepada orang lain.

“ZAFF, JAWAB!” Ia menggerak-gerakkan tubuh suaminya.

Zaffran mendongak ke arah Hanna. Ditatapnya mata gadis itu sedalam mungkin lalu berkata, “Maaf,” ucap lelaki itu dengan meneteskan air mata, kali ini nampak penuh penyesalan.

Hanna menghela napas berat. “Okey, kalo itu yang lo mau. Sesuai kesepakatan diawal, lo tau kan apa itu?” ujar Hanna mengingatkan dan lelaki itu pun mengangguk. “Mulai sekarang, jangan pernah lagi muncul dihadapan gue. Kita ... selesai sampai di sini,” final Hanna lalu pergi meninggalkan Zaffran dan juga Papa-nya.

“Hah? Se-selesai? Selesai apa, Zaff maksudnya?” beo Hasan.

Zaffran menegakkan kepalanya sembari menatap langit ruangan itu. Ia tak mampu berkata-kata lagi.

“ZAFFRAN JAWAB!”

“Kita akan berpisah, Pa.”

“APA?!” Hasan berteriak dengan terkejut. “Nggak! Nggak boleh! Kalian nggak boleh berpisah,” ucap Hasan dengan gelisah.

“Pa….”

“Kenapa? Kamu mau susul Hanna?”

Zaffran mengangguk. “Hmm.”

“Kalau gitu susul lah dia!” perintah Hasan.

Tanpa lama-lama, ia pun mengambil kunci mobilnya dan berlari sekencang mungkin. Ia yakin Hanna belum jauh dari rumah sakitnya. Ia terus berlari menelusuri rumah sakit dan melewati desakan ramai orang-orang di sana.

Ting!

Ting!

Bunyi notifikasi dari ponsel Zaffran membuat dirinya berhenti berlari. Zaffran meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

Fahri Zaff, istri lo di apart temennya. Alamatnya di jalan Taman Raya 2, kamar nomor 601, lantai 5.

Setelah membaca pesan dari Fahri, lelaki itu berlari kembali dan pergi menuju parkiran mobil. Setelah tiba, ia nyalakan mesin mobil lalu ia laju dengan kecepatan setinggi mungkin menuju alamat itu.

©jjaewookims.


Waktu kedua kakinya memasuki kamar pasien dan tangannya mulai memeriksa seorang pasien anak kecil. Zaffran kembali memikirkan bagaimana gadis sekecil itu harus menahan luka sedalam mungkin.

Rasanya, itu seperti lautan besar yang tidak mudah dan tidak mungkin untuk seseorang lewati. Seperti itulah Hanna, ia sama sulitnya harus berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.

Tepat di mana saat ini harusnya ia mencari tahu tentang masa lalu Hanna dan Mama, ia abaikan semua masalah itu. Kakinya kembali melangkah memeriksa pasien satu dan pasien lainnya, memeriksa dengan segenap hati dan cinta yang sudah menjadi kewajibannya. Tangannya mulai memegang penlight hitam di kanan, sedangkan yang satu lagi tengah sibuk memegangi wajah sang anak guna mengecek kondisi pasien sedetail mungkin.

“Keadaannya bagus, dan kesehatan Nabila juga udah mulai stabil. Tetapi tetap harus dirawat di sini untuk melihat perkembangannya.”

Nabila dan juga Ibu Nadiya, selaku orang tua dari Nabila pun tersenyum lega mendengarnya.

“Dokter, kalo aku udah sehat, aku boleh kan makan coklat lagi?” Nabila bertanya.

Zaffran mengelus lembut rambut anak itu. “Tentu, makanya Nabila harus cepat sembuh, oke?”

“Oke, dokter ganteng. Upss,” Nabila menutup mulut dengan tangannya, “dokter baik maksudnya.”

Zaffran dan juga Ibu Nadiya terkekeh mendengarnya. Memang sudah tidak asing lagi ia mendengar kalimat itu dari pasiennya. Beberapa menit kemudian, ia pun berpamitan kepada mereka dan kembali ke ruangannya.

RUANG BEDAH ANAK, DOKTER M. ZAFFRAN AL-GHIFARI

Setelah tiba di ruangannya, ia kembali merebahkan diri di kursi kebesarannya itu. Dan terlihat jelas papan nama dengan gelar yang penuh perjuangan itu. Gelar dan jabatan yang di mana ia pakai guna memenuhi sumpahnya. Ya, sumpahnya sebagai dokter.

dr. M. Zaffran Al-Ghifari, Sp.Ba.


Notes: penlight atau senter medis adalah alat medis yang digunakan untuk mengecek kondisi mata, telinga, hidung, dan mulut pasien.

© jjaewookims, 2022.


Waktu kedua kakinya memasuki kamar pasien dan tangannya mulai memeriksa seorang pasien anak kecil. Zaffran kembali memikirkan bagaimana gadis sekecil itu harus menahan luka sedalam mungkin.

Rasanya, itu seperti lautan besar yang tidak mudah dan tidak mungkin untuk seseorang lewati. Seperti itulah Hanna, ia sama sulitnya harus berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.

Tepat di mana saat ini harusnya ia mencari tahu tentang masa lalu Hanna dan Mama, ia abaikan semua masalah itu. Kakinya kembali melangkah memeriksa pasien satu dan pasien lainnya, memeriksa dengan segenap hati dan cinta yang sudah menjadi kewajibannya. Tangannya mulai memegang penlight hitam di kanan, sedangkan yang satu lagi tengah sibuk memegangi wajah sang anak guna mengecek kondisi pasien sedetail mungkin.

“Keadaannya bagus, dan kesehatan Nabila juga udah mulai stabil. Tetapi tetap harus dirawat di sini untuk melihat perkembangannya.”

Nabila dan juga Ibu Nadiya, selaku orang tua dari Nabila pun tersenyum lega mendengarnya.

“Dokter, kalo aku udah sehat, aku boleh kan makan coklat lagi?” Nabila bertanya.

Zaffran mengelus lembut rambut anak itu. “Tentu, makanya Nabila harus cepat sembuh, oke?”

“Oke, dokter ganteng. Upss,” Nabila menutup mulut dengan tangannya, “dokter baik maksudnya.”

Zaffran dan juga Ibu Nadiya terkekeh mendengarnya. Memang sudah tidak asing lagi ia mendengar kalimat itu dari pasiennya. Beberapa menit kemudian, ia pun berpamitan kepada mereka dan kembali ke ruangannya.

RUANG BEDAH ANAK, DOKTER M. ZAFFRAN AL-GHIFARI

Setelah tiba di ruangannya, ia kembali merebahkan diri di kursi kebesarannya itu. Dan terlihat jelas papan nama dengan gelar yang penuh perjuangan itu. Gelar dan jabatan yang di mana ia pakai guna memenuhi sumpahnya. Ya, sumpahnya sebagai dokter.

dr. M. Zaffran Al-Ghifari, Sp.Ba.

Notes: penlight atau senter medis adalah alat medis yang digunakan untuk mengecek kondisi mata, telinga, hidung, dan mulut pasien.

© jjaewookims, 2022.


Waktu kedua kakinya memasuki kamar pasien dan tangannya mulai memeriksa seorang pasien anak kecil. Zaffran kembali memikirkan bagaimana gadis sekecil itu harus menahan luka sedalam mungkin.

Rasanya, itu seperti lautan besar yang tidak mudah dan tidak mungkin untuk seseorang lewati. Seperti itulah Hanna, ia sama sulitnya harus berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.

Tepat di mana saat ini harusnya ia mencari tahu tentang masa lalu Hanna dan Mama, ia abaikan semua masalah itu. Kakinya kembali melangkah memeriksa pasien satu dan pasien lainnya, memeriksa dengan segenap hati dan cinta yang sudah menjadi kewajibannya. Tangannya mulai memegang penlight hitam di kanan, sedangkan yang satu lagi tengah sibuk memegangi wajah sang anak guna mengecek kondisi pasien sedetail mungkin.

“Keadaannya bagus, dan kesehatan Nabila juga udah mulai stabil. Tetapi tetap harus dirawat di sini untuk melihat perkembangannya.”

Nabila dan juga Ibu Nadiya, selaku orang tua dari Nabila pun tersenyum lega mendengarnya.

“Dokter, kalo aku udah sehat, aku boleh kan makan coklat lagi?” Nabila bertanya.

Zaffran mengelus lembut rambut anak itu. “Tentu, makanya Nabila harus cepat sembuh, oke?”

*“Oke, dokter ganteng. Upss,” Nabila menutup mulut dengan tangannya, “dokter baik maksudnya.”

Zaffran dan juga Ibu Nadiya terkekeh mendengarnya. Memang sudah tidak asing lagi ia mendengar kalimat itu dari pasiennya. Beberapa menit kemudian, ia pun berpamitan kepada mereka dan kembali ke ruangannya.

RUANG BEDAH ANAK, DOKTER M. ZAFFRAN AL-GHIFARI

Setelah tiba di ruangannya, ia kembali merebahkan diri di kursi kebesarannya itu. Dan terlihat jelas papan nama dengan gelar yang penuh perjuangan itu. Gelar dan jabatan yang di mana ia pakai guna memenuhi sumpahnya. Ya, sumpahnya sebagai dokter.

dr. Mahendra Zaffran Al-Ghifari, Sp.Ba.

Notes: penlight atau senter medis adalah alat medis yang digunakan untuk mengecek kondisi mata, telinga, hidung, dan mulut pasien.

© jjaewookims, 2022.

Setiap yang berpasangan pasti ingin sekali menikah dengan seseorang yang dicintainya. Begitu juga dengan Zaffran dan Hanna, mereka yang akan menikah hari ini pun pasti ingin sekali menikah dengan orang yang dicintainya. Namun, tidak semua yang kita inginkan harus selalu terjadi bukan?

Maka dari itu, mereka berdua pun mau tidak mau, rela tidak rela, ikhlas tidak ikhlas, mereka harus menerima itu. Lagi pula, tidak semua pernikahan atas dasar perjodohan akan berakhir nahas bukan? Seperti itulah yang Zaffran pikirkan sewaktu ia melamar Hanna.

Ia percaya, bahwa cinta bisa datang kapan saja. Dan ia juga percaya, bahwa Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati manusia. Siapa tahu, hati yang belum pernah bercinta itu akan bercinta juga di kemudian hari.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 88,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Imran selaku penghulu kepada para tamu undangan.

“SAHHH!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah....”

Riuh semua orang yang hadir di sana dan senantiasa berdoa bersama untuk kebaikan pernikahan mereka.

Selanjutnya, Oma membawa Hanna kepada sang suami. Dan kini mata mereka bertemu pandang. Sudah sah jadi halal untuk bertatapan.

“Kak, buruan dipasang cincinnya!” perintah Fadil yang tidak sabar memotret momen itu.

Zaffran tersenyum malu. “Sabar atuh, Dil,” sambung Ayah.

“Sudah Kak, ayo dipasang!” bisik Bunda.

Zaffran mengambil cincin dari kotak yang dibawa Chelsea, dan memasangkannya dijari manis Hanna. Semua itu Zaffran lakukan dengan perasaan gugup dan bahagia. Hanna juga melakukan hal sama untuk suaminya. Namun, apakah Hanna merasakan hal yang sama pula dengan Zaffran?

Setelahnya Hanna mencium tangan Zaffran dan lelaki itu meletakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Hanna sambil berdoa.

“Kak, kalau gue belum jatuh cinta sama lo juga, talak gue aja, ya? Gue ikhlas kok, serius deh,” bisik gadis itu.

Zaffran mendekat balik. “Saya nggak akan menceraikan kamu, Hanna.”

Hanna berdecak sebal. “Kak, jangan gitu!”

“Gini saja, kalau kamu udah jatuh cinta sama saya, boleh kita memulainya dari nol lagi?”

Hanna mengangguk pasti. “Terserah lo, gue juga janji gue bakal menyerahkan hidup gue sepenuhnya ke lo. Tapi, itu kalo gue beneran cinta sama lo,” jawab Hanna.

Zaffran tersenyum, “Iya istriku sayang,” sambung Zaffran sambil mengelus-elus kepala Hanna. Dan gadis itu hanya merespons dengan decak kesal.

Kini, mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami dan istri. Di mana jiwa raga mereka bersatu dalam kesatuan cinta yang suci dan abadi.

© jjaewookims.

Setiap yang berpasangan pasti ingin sekali menikah dengan seseorang yang dicintainya. Begitu juga dengan Zaffran dan Hanna, mereka yang akan menikah hari ini pun pasti ingin sekali menikah dengan orang yang dicintainya. Namun, tidak semua yang kita inginkan harus selalu terjadi bukan?

Maka dari itu, mereka berdua pun mau tidak mau, rela tidak rela, ikhlas tidak ikhlas, mereka harus menerima itu. Lagi pula, tidak semua pernikahan atas dasar perjodohan akan berakhir nahas bukan? Seperti itulah yang Zaffran pikirkan sewaktu ia melamar Hanna.

Ia percaya, bahwa cinta bisa datang kapan saja. Dan ia juga percaya, bahwa Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati manusia. Siapa tahu, hati yang belum pernah bercinta itu akan bercinta juga di kemudian hari.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 88,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Imran selaku penghulu kepada para tamu undangan.

“SAHHH!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah....”

Riuh semua orang yang hadir di sana dan senantiasa berdoa bersama untuk kebaikan pernikahan mereka.

Selanjutnya, Oma membawa Hanna kepada sang suami. Dan kini mata mereka bertemu pandang. Sudah sah jadi halal untuk bertatapan.

“Kak, buruan dipasang cincinnya!” perintah Fadil yang tidak sabar memotret momen itu.

Zaffran tersenyum malu. “Sabar atuh, Dil,” sambung Ayah.

“Sudah Kak, ayo dipasang!” bisik Bunda.

Zaffran mengambil cincin dari kotak yang dibawa Chelsea, dan memasangkannya dijari manis Hanna. Semua itu Zaffran lakukan dengan perasaan gugup dan bahagia. Hanna juga melakukan hal sama untuk suaminya. Namun, apakah Hanna merasakan hal yang sama pula dengan Zaffran?

Setelahnya Hanna mencium tangan Zaffran dan lelaki itu meletakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Hanna sambil berdoa.

“Kak, kalau gue belum jatuh cinta sama lo juga, talak gue aja, ya? Gue ikhlas kok, serius deh,” bisik gadis itu.

Zaffran mendekat balik. “Saya nggak akan menceraikan kamu, Hanna.”

Hanna berdecak sebal. “Kak, jangan gitu!”

“Gini saja, kalau kamu udah jatuh cinta sama saya, boleh kita memulainya dari nol lagi?”

Hanna mengangguk pasti. “Terserah lo, gue juga janji gue bakal menyerahkan hidup gue sepenuhnya ke lo. Tapi, itu kalo gue beneran cinta sama lo,” jawab Hanna.

Zaffran tersenyum, “Iya istriku sayang,” sambung Zaffran sambil mengelus-elus kepala Hanna. Dan gadis itu hanya merespons dengan decak kesal.

Kini, mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami dan istri. Di mana jiwa raga mereka bersatu dalam kesatuan cinta yang suci dan abadi.

© jjaewookims.

Apa itu impian pernikahan?

Hakikatnya, setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang disukainya, begitu juga dengan Hanna Maheswari. Perempuan bergaun putih yang sedang duduk menunggu sang lelaki mengucap janji suci pernikahan itu pun, ia ingin sekali posisi pelaminan yang diinjaknya itu diisi oleh Galaksi—kekasih lama Hanna dan bukanlah Zaffran, lelaki yang dijodohkan oleh keluarganya. Namun, sekarang, di detik lelaki itu mengucapkan janji suci pernikahan, Hanna memutuskan untuk yakin dengan hubungan yang diambilnya ini. Ia memutuskan untuk membuka hati untuk lelaki yang telah menjadi suaminya itu, dan perlahan melupakan kekasihnya.

Bisakah Hanna melakukan itu? Dan sanggupkah Zaffran bertahan dengan pernikahan cinta sepihak ini?

Kalau dikata berat, jujur berat sekali. Tapi, beruntungnya Hanna, suaminya tidak mempermasalahkan hal itu. Ia justru menjanjikan Hanna dengan seluruh hidupnya. Janji bahwa Zaffran akan selalu menjadi suami terbaiknya, dan berjanji akan selalu disisi Hanna baik suka maupun duka.

Memang bukan pernikahan impian. Tapi, jika Tuhan lebih tahu impian pernikahan seperti apa yang baik untuk mereka, mereka bisa apa? Seperti itulah hidup, tidak semua hal yang terjadi di dunia ini harus selalu sesuai dengan keinginan kita. Karena Tuhan lebih tahu apa yang kita inginkan.

***

“Kak, kalo gue belum jatuh cinta sama lo juga, jangan nungguin gue, ya? Cerain gue aja, gue ikhlas kok.”

“Hann, tapi kalau kamu udah jatuh cinta sama saya, bisa kita mulai semuanya dari nol?”

Hanna mengangguk pasti. “Gue janji. Kalo gue udah cinta sama lo, gue siap menyerahkan hidup gue sepenuhnya ke lo, Kak. Tapi, kalo gue cinta beneran sama lo.”

Lelaki itu mengangguk paham.

Hanna mengulurkan tangannya, “Deal?” Zaffran membalas jabatan tangannya. “Deal, istriku sayang…,” ucapnya sambil tersenyum jahil.

“ISH, LO TUH YA!” teriak Hanna.

© jjaewookims.

1 bulan yang lalu...

“Kak,” panggil Hanna sambil memakan ice cream dan lelaki itu pun menoleh.

“Apa kakak udah punya pacar?” tanya Hanna tiba-tiba.

“Kenapa kamu nanya?” Zaffran bertanya balik.

“Apa kakak punya? tanya Hanna penasaran.

“Enggak,” jawab Zaffran singkat.

“Beneran?” tanya Hanna dengan mata yang berbinar-binar.

“Hmm.”

“Apa kakak bercanda?”

Zaffran menggeleng tidak.

“Ah, kalau gitu, apa kakak mau menikah denganku?” ujar Hanna bertanya dengan gugup.

Zaffran tercengang. Ia menelan ludahnya sendiri karena terkejut. “Tiba-tiba?”

“Kakak mau?”

Mendengar kata itu, membuat Zaffran teringat pada kejadian sepuluh tahun yang lalu.

Flashback on.

“Hanna…” panggil siswa laki-laki itu dengan napas yang terengah-engah karena usai berlari.

“Kenapa, Kak?”

“Ada yang mau kukatakan padamu,” jawabanya dengan nada yang masih terengah-engah.

“Apa itu, Kak?”

“Aku suka sama kamu. Jadi, apa kamu mau berkencan denganku?”

“Nggak!” tolak Hanna mentah-mentah.

“Kenapa?”

“Ya ... karena kakak bukan tipeku,” ucap Hanna jujur.

Flashback off.

“Wahhh,” ucap lelaki itu seraya tidak percaya dengan pertanyaan Hanna barusan. “Hann! Aku kan udah bilang sama kamu kalau waktu itu aku cuma bercanda. Jadi ... jangan dianggap serius ya?”

“Tapi aku serius, Kak, aku nggak bercanda. Aku ingin menikah denganmu.”

Sejak saat itu dan sejak Zaffran menyetujuinya, mereka berdua pun saling mengenal lebih dalam lagi dan mulai membuat rencana untuk pernikahannya.


“Kak, kamu nggak usah khawatir. Aku akan mulai belajar mencintaimu. Dan kamu bisa membantuku, kan?”

“Tentu. Aku akan melakukan apapun untukmu.”

“Benarkah?”

“Hmm, apapun. Jadi, kamu nggak usah khawatir. Aku di sini, aku akan selalu bersamamu,” tuturnya.

© jjaewookims.