jjaewookims

tw // bullying, accident, mention of death

Di rooftop sana, Haidan yang sedang sendirian, tiba-tiba saja ia mendapat rangkulan dari seorang pria. Itu Rangga dan Nathan.

“Sendirian aja, Dan, nggak main sama Atlas?” ujar Rangga memulai pembicaraan.

Haidan mencoba melepaskan rangkulan itu, bukan takut, tetapi ia tidak suka di rangkul-rangkul. “Nggak, lagi mau sendiri,” jawab Haidan singkat.

“Ohhh, lagi mau sendiri,” ucap Nathan sembari melirik ke yang lainnya.

“Iya, jadi, kalian semua bisa tolong pergi nggak?” pinta Haidan.

“Gue bakal pergi kok, tapi—”

Bughh!

Haidan terjatuh, ia meringis kesakitan. Pukulan dari Rangga sukses membuatnya menjadi tidak berdaya.

“Pukul!” perintah Iqbal kepada yang lainnya.

Rangga, Nathan, Kaluna, Dita, dan Rachel pun segera memukul Haidan habis-habisan. Haidan menghindar, bahkan sesekali ia membalas pukulannya. Tetapi, lagi dan lagi ia terjatuh.

“Lo tuh, penghambat nilai kami,” ucap Rangga sambil mencengkram dagunya. “Dan lo juga yang udah bikin nilai gue merosot ke bawah,” ujar Rangga.

“HAJAR LAGI!” perintah Iqbal lagi. Dan semuanya pun mengikuti.

Lagi, Haidan kalah. Jupiter telah menyiksanya habis-habisan. Melihat Haidan yang sudah babak belur, para geng Jupiter pun bubar serentak.

Setelahnya, Haidan mencoba mengambil ponselnya yang jatuh. Ia pun menelepon saudara kembarnya, Ardhan dan Darren. Namun nahas, mereka tak menjawab panggilan dari Haidan.


Bel sekolah berbunyi, semua murid-murid telah pulang. Haidan yang berada di rooftop mencoba berdiri menuju pintu keluar. Tetapi, saat hari mulai malam, tiba-tiba saja…

Seorang pria berjaket hitam, memakai masker yang nyaris tak dikenali—mencekik lehernya dengan keras.

Haidar sesak, bahkan ia melawan pria tersebut sekuat tenaga. Namun, orang tersebut jauh lebih kuat dari yang ia duga. Sampai akhirnya, ia berada diposisi dinding rooftop sana, terbaring seakan orang tersebut akan menjatuhkannya.

“Kamu itu harusnya mati!” ujar pria itu yang mencekiknya lagi.

“Si-si-a-pa?” ucap Haidan terbata-bata.

“Kamu itu harusnya nggak lahir di dunia ini,” ucap pria itu lagi.

Haidan semakin sesak pernapasannya, memohon agar orang itu mengampuninya. Tetapi, malang sekali nasib Haidan, orang tersebut menjatuhkan Haidan ke bawah.

Dari bawah sana, tubuh Haidan penuh dengan darah yang bercucuran. Apakah Haidan mati?

© jjaewookim.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Begitu juga dengan Hana, gadis yang memakai gaun putih itu amat sangat memimpikan pernikahan bersama lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika pada kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya karena sebuah wasiat, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

Hana membelalak sempurna. “Sah? S-sah?” beo Hana tidak percaya.

Jabat tangan Zaffran dan Hasan pun terlepas, lalu Zaffran dan tamu undangan lainnya mengangkat tangan untuk berdoa, begitu juga dengan Hana dan Oma.

Zaffran menghembuskan napas lega sambil menggosokkan tangannya yang dirasa berkeringat.

“Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” tanya Hana dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan lembut. “Iya, udah, Sayang.”

Hana menghela napas pasrah, ia pun berdecak sebal. “Tamat sudah riwayat gue,” lirih Hana.

“Enggak, Sayang ... dalam pernikahan itu nggak ada kata tamat, jangan khawatir, ya? Jalani saja, oke?” tutur Oma sembari mengelus kepala Hana.

Hana menghela napasnya lagi, kali ini terdengar helaan yang begitu berat.

“Udah ayo! Suamimu menunggumu,” ucap Oma.

Lagi. Hana membelalakkan matanya kemudian menghembuskan napasnya lagi.

Oma menuntun Hana menuju altar, semua orang yang hadir di sana takjub melihat Hana yang begitu anggun dengan gaun pengantinnya, begitu juga dengan Zaffran yang tak henti-hentinya bermunajat.

Oma segera menyerahkan tangan Hana kepada Zaffran, dan dengan gemetar pria itu pun meraihnya.

Chelsea menabrakkan bahu ke bahu Kakaknya. “Kak, buruan dipasang cincinnya,” ledek Chelsea kepada Zaffran.

Tanpa basa basi, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana lalu ia kecup punggung tangannya.

Sontak Hana melepaskan tangannya. “Astaghfirullah,” pekik Hana, dan sukses membuat semua orang dan juga Zaffran terkekeh melihatnya.

Aksa menepuk bahu Hana. “Santai woi, udah sah kali,” ledek Aksa dengan gemas.

Setelah itu, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas lega. “Untunggg aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menyenggol bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Harus banget, ya, Oma?” bisik Hana.

Oma mencubit lengannya. “Iya harus atuh,” balas Oma dengan berbisik juga.

“Harus? Yang bener aja anjir,” gumam Hana.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana, lalu tangan kanannya ia letakkan di atas ubun-ubun kepala Hana sembari berdoa yang sebelumnya tidak sempat ia lakukan. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Tanpa basa-basi Zaffran dan Hana pun mendekat lalu menundukan diri ke bawah, tepatnya sungkem kepada Ayah Zaffran untuk meminta doa dan restunya. Dan secara bergiliran, mereka pun sungkem juga kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Begitu juga dengan Hana, gadis yang memakai gaun putih itu amat sangat memimpikan pernikahan bersama lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika pada kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya karena sebuah wasiat, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

Hana membelalak sempurna. “Sah? S-sah?” beo Hana tidak percaya.

Jabat tangan Zaffran dan Hasan pun terlepas, lalu Zaffran dan tamu undangan lainnya mengangkat tangan untuk berdoa, begitu juga dengan Hana dan Oma.

Zaffran menghembuskan napas lega sambil menggosokkan tangannya yang dirasa berkeringat.

“Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” tanya Hana dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan lembut. “Iya, udah, Sayang.”

Hana menghela napas pasrah, ia pun berdecak sebal. “Tamat sudah riwayat gue,” lirih Hana.

“Mmm,” Oma menggeleng. “Han, dalam pernikahan itu nggak ada kata tamat, jalani saja, ya?” tutur Oma sembari mengelus kepala Hana.

Hana menghela napasnya lagi, kali ini terdengar helaan yang begitu berat.

“Udah ayo! Suamimu menunggumu,” ucap Oma.

Lagi. Hana membelalakkan matanya kemudian menghembuskan napasnya lagi.

Oma menuntun Hana menuju altar, semua orang yang hadir di sana takjub melihat Hana yang begitu anggun dengan gaun pengantinnya, begitu juga dengan Zaffran yang tak henti-hentinya bermunajat.

Oma segera menyerahkan tangan Hana kepada Zaffran, dan dengan gemetar pria itu pun meraihnya.

Chelsea menabrakkan bahu ke bahu Kakaknya. “Kak, buruan dipasang cincinnya,” ledek Chelsea kepada Zaffran.

Tanpa basa basi, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana lalu ia kecup punggung tangannya.

Sontak Hana melepaskan tangannya. “Astaghfirullah,” pekik Hana, dan sukses membuat semua orang dan juga Zaffran terkekeh melihatnya.

Aksa menepuk bahu Hana. “Santai woi, udah sah kali,” ledek Aksa dengan gemas.

Setelah itu, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas lega. “Untunggg aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menyenggol bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Harus banget, ya, Oma?” bisik Hana.

Oma mencubit lengannya. “Iya harus atuh,” balas Oma dengan berbisik juga.

“Harus? Yang bener aja anjir,” gumam Hana.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana, lalu tangan kanannya ia letakkan di atas ubun-ubun kepala Hana sembari berdoa yang sebelumnya tidak sempat ia lakukan. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Tanpa basa-basi Zaffran dan Hana pun mendekat lalu menundukan diri ke bawah, tepatnya sungkem kepada Ayah Zaffran untuk meminta doa dan restunya. Dan secara bergiliran, mereka pun sungkem juga kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Begitu juga dengan Hana, gadis yang memakai gaun putih itu amat sangat memimpikan pernikahan bersama lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika pada kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya karena sebuah wasiat, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

Hana membelalak sempurna. “Sah? S-sah?” beo Hana tidak percaya.

Jabat tangan Zaffran dan Hasan pun terlepas, lalu Zaffran dan tamu undangan lainnya mengangkat tangan untuk berdoa, begitu juga dengan Hana dan Oma.

Zaffran menghembuskan napas lega sambil menggosokkan tangannya yang dirasa berkeringat.

“Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” tanya Hana dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan lembut. “Iya, udah, Sayang.”

Hana menghela napas pasrah, ia pun berdecak sebal. “Tamat sudah riwayat gue,” lirih Hana.

“Mmm,” Oma menggeleng. “Han, dalam pernikahan itu nggak ada kata tamat, jalani saja, ya?” tutur Oma sembari mengelus kepala Hana.

Hana menghela napasnya lagi, kali ini terdengar helaan yang begitu berat.

“Udah ayo! Suamimu menunggumu,” ucap Oma.

Lagi. Hana membelalakkan matanya kemudian menghembuskan napasnya lagi.

Oma menuntun Hana menuju altar, semua orang yang hadir di sana takjub melihat Hana yang begitu anggun dengan gaun pengantinnya, begitu juga dengan Zaffran yang tak henti-hentinya bermunajat.

Oma segera menyerahkan tangan Hana kepada Zaffran, dan dengan gemetar pria itu pun meraihnya.

Chelsea menabrakkan bahu ke bahu Kakaknya. “Kak, buruan dipasang cincinnya,” ledek Chelsea kepada Zaffran.

Tanpa basa basi, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana lalu ia kecup punggung tangannya.

Sontak Hana melepaskan tangannya. “Astaghfirullah,” pekik Hana, dan sukses membuat semua orang dan juga Zaffran terkekeh melihatnya.

Aksa menepuk bahu Hana. “Santai woi, udah sah kali,” ledek Aksa dengan gemas.

Setelah itu, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas lega. “Untunggg aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menyenggol bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Harus banget, ya, Oma?” bisik Hana.

Oma mencubit lengannya. “Iya harus atuh,” balas Oma dengan berbisik juga.

“Harus? Yang bener aja anjir,” gumam Hana.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana, lalu tangan kanannya ia letakkan di atas ubun-ubun kepala Hana sembari berdoa yang sebelumnya tidak sempat ia lakukan. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Tanpa basa-basi Zaffran dan Hana pun mendekat lalu menundukan diri ke bawah, tepatnya sungkem kepada Ayah Zaffran untuk meminta doa dan restunya. Dan secara bergiliran, mereka pun sungkem juga kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah …”

Riuh semua orang sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk kebaikan pernikahan Zaffran dan Hana.

Deg!

Hana membelalak sempurna ke arah Oma-nya. “Sah? S-sah?” gumam Hana tak percaya. “Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” lanjut Hana bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan penuh lembut. “Udah, Sayang.”

Hana menghela napas pasrah, ia pun berdecak sebal. “Tamat sudah riwayat gue,” lirih Hana.

“Mmm,” Oma menggeleng. “Han, dalam pernikahan itu nggak ada kata tamat, jalani saja, ya?” tutur Oma sembari mengelus kepala Hana.

Hana menghela napasnya lagi, kali ini terdengar helaan yang begitu berat.

“Sudah ayo! Suamimu telah menunggumu loh, Nak.”

Lagi. Hana menghela napasnya lagi.

Oma menuntun Hana menuju altar, semua orang yang hadir di sana takjub melihat Hana yang begitu anggun dengan gaun pengantinnya, begitu juga dengan Zaffran yang tak henti-hentinya bermunajat.

Oma segera menyerahkan tangan Hana kepada Zaffran, dan dengan gemetar pria itu pun meraihnya.

Chelsea menabrakkan bahu ke bahu Kakaknya. “Kak, buruan dipasang cincinnya,” ledek Chelsea kepada Zaffran.

Tanpa basa basi, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana lalu ia kecup punggung tangannya.

“Astaghfirullah,” pekik Hana, dan sukses membuat semua orang dan juga Zaffran terkekeh melihatnya.

Aksa menepuk bahu Hana. “Santai woi, udah sah kali,” ledek Aksa dengan gemas.

Setelah itu, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas pasrah. “Untunggg aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menoel bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Harus banget, ya, Oma?” bisik Hana.

Oma mencubit lengannya. “Iya harus atuh,” balas Oma dengan berbisik juga.

“Cium? Yang bener aja anjir,” gumam Hana.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana, lalu tangannya ia letakkan di atas ubun-ubun kepala Hana sembari berdoa yang sebelumnya tidak sempat ia lakukan. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Dengan segera, Zaffran dan Hana pun langsung sungkem kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya itu.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah …”

Riuh semua orang sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk kebaikan pernikahan Zaffran dan Hana.

Deg!

Hana membelalak sempurna ke arah Oma-nya. “Sah? S-sah?” gumam Hana tak percaya. “Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” lanjut Hana bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan penuh lembut. “Udah, Sayang.”

Hana berdecak sebal. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Awas aja lo ya …, malam pertama gue tagih talak baru tau rasa lo,” batin Hana bicara.

Usai melaksanakan ijab qobul, Oma dan Bude Nisa segera mengantar Hana ke arah Zaffran yang tengah menjemput dirinya itu.

Diraihnya tangan Zaffran, lalu ia pegang dan berjalan bersama menuju kursi pelaminan.

“Zaff, dipasang cincinnya,” peringat Bunda kepada Zaffran.

Dengan segera, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana yang begitu indah itu. Setelahnya, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas lega. “Untunggg aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menoel bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Cium? Yang bener aja anjir,” gumam Hana lagi.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Dengan segera, Zaffran dan Hana pun langsung sungkem kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya itu.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah …”

Riuh semua orang sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk kebaikan pernikahan Zaffran dan Hana.

Deg!

Hana membelalak sempurna ke arah Oma-nya. “Sah? S-sah?” gumam Hana tak percaya. “Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” lanjut Hana bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan penuh lembut. “Udah, Sayang.”

Hana berdecak sebal. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Awas aja lo ya …, malam pertama gue tagih talak baru tau rasa lo,” batin Hana bicara.

Usai melaksanakan ijab qobul, Oma dan Bude Nisa segera mengantar Hana ke arah Zaffran yang tengah menjemput dirinya itu.

Diraihnya tangan Zaffran, lalu ia pegang dan berjalan bersama menuju kursi pelaminan.

“Zaff, dipasang cincinnya,” peringat Bunda kepada Zaffran.

Dengan segera, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana yang begitu indah itu. Setelahnya, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” ucap Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas pasrah. “Untung aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menoel bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Cium? Yang bener aja anjir,” gumam Hana lagi.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, ia pun segera mencium punggung tangan Zaffran kemudian melepaskannya dengan kasar. Sehingga Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana pun terpaksa menurunkan kembali tangannya ke dalam saku.

Zaffran menghela napas berat. “Gak apa-apa, belum rezeki kamu, Zaff. “Zaffran bermonolog, kemudian ia pergi menyusul sang istri yang tengah berkumpul bersama keluarga besar lainnya itu.

Zaffran merangkul di bahunya Hana. Dan yang dirangkulnya pun terkejut bukan main, ingin sekali Hana menepisnya, tetapi tatapan penuh kasih dan sayang keluarga ..., membuat Hana terpaksa menurunkan egonya. Alhasil, ia pun dengan berat harus menerima rangkulan tangannya itu.

“Sini, Kak!” perintah Ayah Zaffran kepada mereka.

Dengan segera, Zaffran dan Hana pun langsung sungkem kepada orang tua dan para tetua lainnya untuk meminta doa dan restunya itu.

“Selamat ya, Kak, Han, semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah,” ucap Bunda sembari memeluk mereka berdua.

“Makasih, Bun,” jawab Zaffran.

Lantas Hana? Ia berdoa semoga pernikahannya diberi umur yang sedikit.

Dengan kata lain, semoga cepat cerai. Hana membatin.

© jjaewookims.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah …”

Riuh semua orang sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk kebaikan pernikahan Zaffran dan Hana.

Deg!

Hana membelalak sempurna ke arah Oma-nya. “Sah? S-sah?” gumam Hana tak percaya. “Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” lanjut Hana bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan penuh lembut. “Udah, Sayang.”

Hana berdecak sebal. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Awas aja lo ya …, malam pertama gue tagih talak baru tau rasa lo,” batin Hana bicara.

Usai melaksanakan ijab qobul, Oma dan Bude Nisa segera mengantar Hana ke arah Zaffran yang tengah menjemput dirinya itu.

Diraihnya tangan Zaffran, lalu ia pegang dan berjalan bersama menuju kursi pelaminan.

“Zaff, dipasang cincinnya,” peringat Bunda kepada Zaffran.

Dengan segera, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana yang begitu indah itu. Setelahnya, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” tegur Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas pasrah. “Untung aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menoel bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Cium? Yang bener aja anjir,” gumam Hana lagi.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, Hana pun segera mencium punggung tangan Zaffran dan melepaskannya dengan kasar. Namun Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana, ia hanya bisa menggeleng pasrah melihat tingkah lakunya itu.

“Lucu,” lirih Zaffran.

Dan setelah pemasangan cincin, mereka pun segera sungkem kepada orang tua dan keluarga besar lainnya untuk meminta doa dan restunya itu.

© jjaewookims.

Semua berawal saat aku membuat keributan untuk pertama kalinya. Dan kamu, orang pertama yang menghiburku.

Dia, Mahendra Zaffran Al-Ghifari. Datang membujukku, dan menghapus semua bebanku saat itu.

Flashback On. 10 Tahun yang lalu...

“Ekhem ….” Zaffran berdeham pelan, membuat gadis di tepi atap sana menoleh ke arahnya. “Kamu yang namanya Hana?” tanya Zaffran memastikan.

Hana tak menjawab, sepertinya ia enggan bicara dengan siapapun.

Zaffran pun duduk di sebelahnya. “Ngapain di sini?” tanya Zaffran memulai pembicaraan.

“Lo gak liat gue lagi ngapain?” ucap Hana dengan nada penuh kesal.

“Lagi duduk … persis seperti pengangguran yang gak punya tujuan dan arah,” jawab Zaffran.

Bughhh!

Tinjuan Hana sukses membuat Zaffran meringis kesakitan. “Sakit tau,” katanya sambil mengelus pipinya yang sakit.

“Lagian lo ngapain sih di sini?” omel Hana.

“Mau cari angin,” celetuk Zaffran.

“Gak ada tempat lain?” tanya Hana dengan ketus.

“Nggak ada, enak di sini,” jawab Zaffran sembari melihat-lihat ke atas langit.

Mendengar jawaban darinya, Hana menajamkan mata ke arahnya. “Jangan galak-galak, Mba,” ucap Zaffran sambil menutup mata gadis itu dengan tangannya.

Hana membuang muka. “Apaan sih?”

“Saya di kiri bukan di kanan, jangan dicuekin dong, dicuekin tuh gak enak tau,” ujar Zaffran yang masih berusaha mengajaknya bicara.

Hana menghela napas pasrah. “Ck, lo siapa sih sebenernya? Anaknya Pak Harto?” tanya Hana sarkastik.

“Bukan.”

“Terusss?”

Zaffran menjulurkan tangannya. “Zaffran, anaknya Bapak Abdul, siswa kelas 12 MIPA 6 atau lebih tepatnya Kakak kelas kamu,” ujar Zaffran memperkenalkan diri.

“Eh … sorry, Kak,” ucap Hana sopan sembari menunduk-nunduk.

“Gak apa-apa, santai aja,” balas Zaffran, “lagi sedih, ya?” tanyanya.

“Enggak, biasa aja sih,” jawab Hana sembari menendang-nendang kaki ke dinding.

“Ohhh, biasa aja,” gumam Zaffran. “Terus kenapa kamu ngehindar dari orang tua kamu?” celetuk Zaffran.

“Gak apa-apa, aku gak suka aja liat mereka berantem,” ujar Hana memberitahu. “Lagian kayak gak ada tempat berantem lagi aja tuh,” protesnya.

“Oh, gitu, masalahnya.” Zaffran mengangguk-angguk.

“Lagian aku tuh kesel banget liat mereka berantem terus tuh, Kak … capek tau,” ujar Hana bercerita.

“Kalo gitu, sebagai anak harusnya kamu yang membantu mereka berdamai bukan?” ujar Zaffran memberi saran.

Hana mengernyit tak mengerti. “Caranya?” tanya Hana.

“Ya, kamu harus cari tau dulu akar permasalahannya seperti apa,” jawab Zaffran. “Nah, kalo udah tau, baru deh kamu bantuin orang tua kamu buat baikkan. Kayak … kamu bantuin temen kamu yang lagi musuhan aja gitu,” lanjutnya memberitahu.

“Emang boleh, ya, ikut campur urusan orang tua, Kak?” tanya Hana tidak yakin.

“Selagi demi kebaikan bersama, ya, gak apa-apa,” jawab Zaffran. “Asalkan, kamu cari taunya jangan terlalu dalam, cukup inti permasalahannya aja,” lanjut Zaffran memberi saran.

Hana menoleh ke arahnya. “Oh, gitu … emang aku bisa?” tanya Hana memastikan.

“Bisa kok, kamu pasti bisa,” jawabnya meyakinkan.

“Kalo gak bisa?” Hana bertanya lagi.

Zaffran tersenyum. “Artinya kamu pesimis duluan,” jawabnya dengan jujur.

“Ck, nyebelin banget sih lo.” Hana memarahinya.

Zaffran terkekeh pelan. Kemudian ia berdiri sambil menjulurkan tangannya. “Jadi, bisakah kamu kembali ke kelas dan meredakan semua keributan ini?” pinta Zaffran. “Semua orang di bawah mencemaskan kamu tau,” lanjutnya memberitahu.

Hana berpikir sejenak kemudian mengelus dadanya. “Yaudah, ayo, Kak!” ajak Hana penuh semangat, dan kini ia bergandengan tangan dengannya.

Akhirnya, setelah Zaffran membujuk Hana, dia pun setuju untuk ikut bersamanya ke bawah. Mereka pun turun bersama, satu persatu anak tangga mereka lalui, dan sesampainya di bawah, bel tanda istirahat berbunyi, detik itu juga seluruh siswa beramai-ramai mengerubungi mereka. Tetapi Zaffran segera menghindar diri, pasalnya memang dia tidak suka dengan kebisingan. Kepergiannya, membuat Hana mendapat banyak pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Hingga akhirnya, matanya mendapati seorang pria yang tengah berjalan menuju kelasnya, sontak Hana pun berlari mengerjakannya.

Hana berlari sembari melambaikan tangan. “Kak Zaffran, tunggu!” panggil Hana dengan terengah-engah.

Zaffran menghentikan langkahnya, membuat gadis itu berhenti berlari juga. Kemudian Ia menoleh ke belakang. “Iya, kenapa?” Zaffran bertanya.

“Kalo udah besar dan seandainya kita masih bisa ketemu, Kakak mau nikah sama aku nggak?” Hana meminta dengan santainya.

Ucapannya sontak membuat semua siswa kelas 12 yang mendengarnya langsung bersorak heboh. “Cieee, Zaffrannn,” ledek semua orang di koridor itu.

Zaffran terdiam. Sorot matanya menatap gadis di hadapannya, ia berkesimpulan bahwa Hana sedang bergurau.

Zaffran menggeleng. “Nggak tertarik,” tolak Zaffran mentah-mentah, kemudian pergi meninggalkannya.

“Yahhh, ditolak deh,” sorak semua orang di koridor sana, kali ini terdengar seperti nada kecewa.

“Kak, bentar,“ panggil Hana.

Zaffran menghentikan langkahnya lagi, kemudian menoleh ke belakang. Kali ini ia tak menjawab apapun, yang artinya ia menunggu Hana mengatakannya langsung.

Hana menghela napas berat. “Kalo minta nomornya boleh?” Hana bertanya sembari menunjukkan ponselnya.

“Nggak boleh,” jawab Zaffran lalu pergi meninggalkannya.

“Jiahhh, nggak dapet nomornya juga,” ledek semua orang di koridor sana.

Hana tak mendengar apapun, ia hanya terdiam seperti orang linglung, dan matanya masih saja menatap punggung pria itu. “Gila kali, ya, gue,” gumam Hana, lalu pergi dari sana.

Flashback Off.

Hana tersenyum. Ia memegangi pipinya yang dirasa memerah. Sepertinya, rasa malu saat itu kembali datang menghampirinya.

Ia tersenyum lagi. “Astaga, ada apa dengan diriku yang dulu itu,” ucapnya tak percaya, kemudian ia menghela napas pasrah. “Sungguh memalukan kamu, Han,” monolog Hana sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seraya jijik.

Tetapi sekarang aku benar-benar tidak percaya, bahwa dulu seseorang yang menolakku berkali-kali, kini, aku dan dirinya akan menikah bulan depan.

Sungguh, rencana Tuhan benar-benar tak bisa dimengerti. Tapi apapun itu, aku sangat bersyukur karena dialah yang Tuhan pilih untuk mendampingiku seumur hidup.

Mengingat dirinya kalah taruhan dari sang adik. Azura pun dengan cepat memesan makanan dan juga minuman untuk adiknya itu lewat grab food.

Azura berdiri di depan cermin sambil memakai skincare rutin malamnya. “Tuhan, mengapa Engkau memihak adikku dan bukan diriku?” kata Azura dengan gaya bicaranya bak drama kolosal buatannya itu.

Bi Imas yang mendengarnya pun ikut tertawa melihat tingkah lakunya itu. “Si Neng teh aya-aya wae, ngomongnya make di nada kitu,” ujar Bi Imas.

Azura cengengesan. “Gimana Bi, aku cocok kan jadi bintang film gitu?”

“Cocok atuh, Neng,” kata Bi Imas sambil menjulurkan dua ibu jarinya.

Azura menepuk-nepuk bahu sang Bibi dengan geli. “Ah, si Bibi teh. Azura kan jadi malu.”

Bi Imas terkekeh. “Ehm, Neng, kalo kitu Bibi pamitan ke dapur heula, nya.”

Azura mengangguk.

Mendengar klakson Mamang grab, Azura pun bergegas turun ke bawah untuk mengambil pesanannya.

“Maaf, Mba. Apa benar ini rumahnya Mba Tiny Winy Bity?”

Azura mengangguk dengan cepat.

“Mba nya beneran Mba Tiny Winy Bity?”

“Beneran, Pak, masa saya bohongan sih.”

“Tapi, saya pernah liat Mba di gedung mewah gitu deh. Terus pakaian Mba juga kayak pimpinan gitu, apalagi di belakangnya ada banyak bodyguard dan juga asistennya gitu,” ujar Mamang grab.

“Salah orang kali,” kata gadis itu sambil membayar biaya pesanannya.

“Oh gitu, yowes kalo gitu selamat menikmati makanannya ya, Mba,” ucap Mamang grab. Kemudian pergi meninggalkan kediaman rumah Azura.

***

Usai mengambil pesanan, Azura pun bergegas pergi menuju kamar Dika sembari membawa sekantong plastik berisikan makanan dan juga minuman untuknya itu.

Ceklek!

“Astaghfirullahaladzim,” ucap Azura sembari membalikkan badannya.

Dika yang ikut terkejut, dengan cepat Ia pun memakai pakaiannya itu.

“Udah belum?” tanya Azura dengan nada tinggi.

“Udeh-udeh. Lagian masuk kamar orang bukannya ketuk pintu dulu malah main nyelonong aja.”

Azura berbalik. Namun, begitu melihat wajah Adiknya yang kesal karena ulahnya barusan, Azura pun langsung meletakkan kantong plastiknya itu.

Dika mengernyit bingung. Ia pun segera membuka kantong plastiknya itu dan langsung mengeluarkan makanan dan juga minumannya dari dalam plastik.

“Wow. Starbucks, pizza, burger, kfc, and spaghetti? Sebanyak ini untuk aku? Benarkah, Kakak gak salah?”

Azura menggeleng.

“Lah, terus semua ini apa dong?”

“Hukuman gue lah, kan gue kalah taruhan.”

“APA? JADI, BENERAN KAK DEVAN NERIMA KAKAK? PADAHAL AKU CUMA ASAL NEBAK AJA,” tanya Dika dengan meninggikan suaranya.

Azura mengangguk lagi.

“Terus, Kakak beneran mau nikah sama dia?”

“Iya mau gimana lagi? Sekalipun Kakak nolak juga nggak akan ada yang dengerin.”

Dika menghela napasnya, kemudian mengelus punggung sang Kakak.

“Sabar ya, Kak. Pokoknya Kakak harus sehat, jangan terlalu dipikirin ya.”

Azura menepis tangan sang Adik. “Bentar deh, kamu kenapa sih, Dik? Tiap Kakak kena masalah, pasti kamu selalu bilang 'jaga kesehatan ya, Kak. Jangan capek-capek ya, Kak.' Kenapa sih?” tanya gadis itu.

Dika terdiam.

Azura menepuk tangannya. “Heh! Ditanyain malah diem.”

Dika tersadar. “Enggak apa-apa kok, Kak. Emangnya salah ya aku ngomong gitu?”

“Ya, enggak salah sih. Tapi aneh aja, soalnya kamu keliatannya kayak nyembunyiin sesuatu dari Kakak.”

“Ya, enggak lah, Kak.”

“Yaudah, kalo gitu di makan ya,” kata Azura sambil menepuk bahunya.

Dika mengangguk.

Azura yang hendak pergi, Dika pun meraih tangan Kakaknya itu.

“Kenapa, Dik?”

“Dika cuma mau bilang, hati-hati dengan Kak Devan. Dia itu punya tiga topeng yang nggak semua orang tau,” ujar Dika memberitahu.

Azura mengernyit.

“Dan juga, dia itu nggak se-nyebelin yang Kakak kira. Tapi, dia juga nggak sesedih yang Kakak dan Kak Citra pikirkan. Yang jelas, satu hal yang harus Kakak tau, kalo Kak Devan itu bukan CEO sungguhan.”

“Bentar deh, maksud kamu dia bukan CEO sungguhan itu apa?” Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.

“Nanti Kakak juga tau sendiri kok.”

“Tap-,”

Belum sempat bicara, Dika sudah menutup mulut Kakaknya itu lebih dulu.

“Satu hal lagi, Kak. Dia itu, bad boy berkedok CEO. Jadi, hati-hati aja sama dia, karena dia bisa aja meledak.”

“Kamu kok tau banyak tentang dia sih?”

“Kan, Dika udah bilang. Dika itu udah kenal lama sama Kak Devan.”

“Enggak, bukan itu. Tapi, kamu taunya detail banget. Apalagi sampai ngatain dia bad boy.”

Dika tersenyum sinis. “Iya tau dong, dia kan sering terpergok sama aku soalnya. Bahkan dari jaman aku SMA,” ujar Dika menjelaskan.

Azura menghela napasnya. “Sejak SMA, Dik? Kamu sering bolos?” tanyanya.

Dika terdiam tak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan Kakaknya barusan.

“Dik, jawab!” titah Azura yang tak bisa Ia abaikan lagi.

“Kalo iya kenapa? Mau bilang ke Papa, hah? Silahkan aja, Dika nggak takut. Lagian ini demi masa depan Dika juga kok,” tantang Dika.

“Dika.... Enggak gitu, Dik.”

“Lagi pula ya, Kak. Seseorang pernah bilang sama aku, bertindaklah sesuai keinginanmu, jika kamu nggak mau jadi mental pesuruh,” ujar Dika memberitahu, “karena kata-kata dia, aku jadi mengerti apa keinginanku sebenernya,” lanjutnya.

“Dika...,” lirih gadis itu.

“Kak, SMK perkantoran itu bukan jurusan yang Dika minat. Tapi apa? Papa jutsru daftarin aku paksa ke SMK itu, emangnya salah kalo Dika bolos? Dika capek, Kak,” jujur Dika dengan air matanya yang mulai berlinang-linang.

Azura menghela napasnya lagi. “Astaghfirullahaladzim, kamu kenapa nggak bilang sih?”

Lagi dan lagi anak itu terdiam tak menjawabnya. Namun, diamnya Dika kali ini memang tak bisa Ia katakan padanya. Mengapa demikian? Apa alasan Dika tak ingin menjawabnya?

“Dik, kok diem? Jawab dong!”

Tak ingin ketahuan oleh Kakaknya, Dika pun pergi dan meninggalkan Kakaknya di kamar seorang diri. Dika keluar dengan segenap air matanya yang mengalir deras di permukaan wajahnya itu.

Azura mengernyit bingung. Namun, seketika Ia melihat reaksi Adiknya, Azura yakin bahwa ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan oleh Adiknya itu.

***

Dika mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Sementara Devan yang melihatnya dari atas jendela, Ia pun mengernyit kebingungan. Tapi, tak heran lagi baginya. Karena dia tau ke mana anak itu akan pergi.

“Kak, Dika minta maaf. Maafin Dika, tapi, Dika beneran nggak bisa kasih tau ini semua ke Kakak sekarang.”

© axcelineee Titi.