000.

Our Wedding Day

Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.

Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?

Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.

Sama seperti sekarang.

Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.

Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.

Katanya, “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”

© jjaewookims.