62; RETAK


Pagi ini jalanan diluar sana nampak cukup ramai untuk dilewati kendaraan bermotor dan mobil yang berlalu lalang, hal itu tentu saja membuat Hanna harus terjebak macet yang sukses membuat emosinya naik bukan main. Ditambah lagi dengan panggilan teleponnya yang terus menerus tidak terhubung ke Papa membuat Hanna ketakutan. Bukan takut karena khawatir Papa sakit, melainkan takut karena Papa menemui Zaffran dan menjadikan hubungannya dengan Zaffran hari ini berakhir begitu saja.

Sementara itu, Zaffran yang baru saja masuk ke dalam ruangannya, ia sudah dikejutkan dengan kehadiran sang Papa yang tengah duduk di kursi.

“Papa?” ucap lelaki itu sambil melepas jas kebesarannya, kemudian ia taruh jas itu di kursi lalu duduk menghampiri Papa.

“Tumben Papa ke sini,” katanya sambil menyeduh secangkir kopi untuk Hasan.

Pria paruh baya itu hanya tertawa dan langsung menyeruput kopi yang sudah dibuat menantunya itu.

“Zaff, Papa udah dengar semuanya dari Husein.”

Ah, itu. Zaffran sangat terkejut mendengarnya. Matanya tak bisa dipungkiri bahwa ia khawatir Papa akan memarahinya karena sudah mencari tahu tentang masalah Mama dan Hanna yang terjadi dimasa lalu. Tapi nyatanya, Papa sama sekali tidak marah. Beliau justru khawatir akan hubungan Zaffran dan putrinya itu.

“Zaff, dengar Nak … kalau dengan melakukan ini hanya akan membuat rumah tanggamu dan hubunganmu dan Hanna hancur, lebih baik jangan dilakukan, Nak.” Hasan berujar memberi saran. “Lagi pula Papa sudah ikhlas dengan semuanya kok,” sambung Hasan.

Lelaki itu menggeleng yakin. Ia tetap tidak akan mengubah rencananya yang sudah ia susun itu begitu saja. Katanya, jikalau hari ini, esok, lusa, ataupun hari-hari selanjutnya akan menjadi akhir dari hubungannya dan Hanna berakhir, maka Zaffran sudah siap untuk itu.

Katanya, Pa, nggak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan Hanna. Meskipun Zaffran harus mengorbankan rumah tangganya, bagi lelaki itu kebahagiaan Hanna jauh lebih penting dari apapun itu.

Ucapan Zaffran barusan itu sukses menuai ketidaksetujuan dari Papa mertuanya. Jelas sekali Hasan tetap menolak keinginan Zaffran yang ingin mempertemukan Hanna dengan istrinya itu. Bukan apa-apa, Hasan memang tidak ingin hubungan Zaffran dan Hanna hancur hanya karena itu. Hasan tahu Hanna tidak akan tinggal diam untuk itu, tapi Zaffran tetap bersikukuh tidak akan mengubah rencananya.

“Nak, pikirkan lagi....”

Ia menggenggam erat kedua tangan Hasan. “Pa, percaya sama Zaffran. Semua akan baik-baik aja, semua akan kembali seperti semula.”

“Zaffrannn!”

“Pa, Zaffran mohon....”

Disela perdebatan mereka, Hanna yang telah sampai di rumah sakit itu dengan langkah terburu-buru ia segera menelusuri setiap ruangan yang ada. Sampai akhirnya ia lelah sendiri dan bertanya, “Sus, maaf. Ruangan dokter Zaffran di mana, ya?”

“Lantai dua paling ujung, Bu.”

“Baik, Sus, terimakasih.”

Setelah bertanya, ia segera menelusuri lift-lift yang menuju lantai dua itu. Sementara Galaksi yang melihat Hanna sedang mencari sesuatu pun segera mendekatinya. “Hey, Han,” panggil Galaksi sambil meraih tangan Hanna. Namun nahas, Hanna justru menepisnya dan mencampakkannya lalu masuk ke dalam lift.

“Wah,” ucap Galaksi tidak percaya. Bagaimana bisa Hanna menepis tangannya begitu saja. Laki-laki itu terus mengeluh karena merasa tidak adil Hanna mencampakkan dirinya. Tanpa ragu, ia justru menyusul Hanna tanpa sepengetahuan gadis itu.

Dan di sinilah sekarang, tepat di depan ruangan Zaffran. Hanna terdiam sambil memegangi gagang pintu itu dengan wajah yang sudah berapi-api. Ya, ia mendengar semuanya.

“Tapi, Zaff, kamu tau kan apa resikonya kamu berbuat gini, hah?”

Zaffran mengangguk. Ia sangat tahu seperti apa akibat dari ulahnya itu. Hasan berdecak kesal. “Zaff, Papa nggak bis—”

Plak!

Belum saja Hasan selesai bicara, Hanna tiba-tiba saja masuk dan langsung menampar pipi Zaffran dengan kerasnya. Zaffran terkejut bukan main. Sedangkan Hasan yang melihatnya tentu saja marah, namun ia pendam karena Zaffran memberi kode untuk tidak ikut campur.

“Zaffrannn!” Hasan bicara dengan pelan.

“Hanna, dengarkan say—”

Plak!

Lagi, ia menampar pipi Zaffran dengan keras. Tentu saja lelaki itu kesakitan, namun ia tahan.

“Hanna....”

Hanna mencengkeram kuat kerah baju Zaffran dengan tatapan matanya yang mulai basah. Ia hancur, ia menangis, ia kecewa, ia marah terhadapnya.

“Anjing tau nggak lo!” kata Hanna tepat di depan wajahnya.

Hasan yang mendengar itu semakin erat mengepal tangannya. Rasanya, ia ingin sekali menampar wajah putrinya itu. Bisa-bisanya dia menampar suaminya tepat dihadapan Papa-nya sendiri.

“Hanna, maaf,” lirih pria itu. Jujur, ia benar-benar sedih bukan main. Ia sedih karena membuat Hanna menangis.

Plak!

“Maaf kata lo? Lo pikir, apa yang lo lakuin ini pantas gue maafin?”

“Hanna....”

“ZAFFRAN!” bentak Hanna dan sukses membuat Zaffran terpaku diam. “Anjing tau gak lo! Lo tuh udah bohongin gue, lo udah ngelanggar peraturan gue, dan dengan beraninya lo masih bisa bilang maaf ke gue?” ucap Hanna dengan nada sedikit emosi, kali ini lengkap dengan deras air matanya.

“Hanna, maaf. Saya tau saya salah, saya tau saya salah udah bohongi kamu. Tapi, Han, saya nggak bermaks—”

“Ya! Lo emang nggak bermaksud buat nyakitin gue. Tapi lo? Lo udah ngerusak kepercayaan gue Zaffran!”

“Lo tau kan, gue udah pernah bilang sama lo untuk jangan bahas Mama ataupun cari tau soal gue dan Mama!” ujar Hanna mengingatkan. “Tapi kenapa lo masih kekeh buat cari tauuu?” sambungnya.

Maaf, katanya. Ya, mungkin kata maaf hanyalah kata yang bisa Zaffran ucapkan kepada gadis itu. Ia tak tahu harus berkata apa lagi. Ia benar-benar menyesal namun setengah hatinya berkata tidak.

“Hanna,” panggil Zaffran pelan.

“JANGAN PANGGIL NAMA GUE TERUS! GUE BUTUH JAWABAN LO, JING!” teriak Hanna dengan kesal.

Zaffran menundukkan kepala. Entah kenapa hatinya benar-benar sakit saat gadis itu memanggilnya anjing dan bukannya Zaffran. Tak hanya itu, Hasan selaku Papa-nya pun sangat kecewa dengan sikap anaknya itu. Dulu ia memang tidak pernah ada disaat Hanna butuh, tapi ia tidak pernah lupa untuk selalu mengajarkan etika bicara Hanna kepada orang lain.

“ZAFF, JAWAB!” Ia menggerak-gerakkan tubuh suaminya.

Zaffran mendongak ke arah Hanna. Ditatapnya mata gadis itu sedalam mungkin lalu berkata, “Maaf,” ucap lelaki itu dengan meneteskan air mata, kali ini nampak penuh penyesalan.

Hanna menghela napas berat. “Okey, kalo itu yang lo mau. Sesuai kesepakatan diawal, lo tau kan apa itu?” ujar Hanna mengingatkan dan lelaki itu pun mengangguk. “Mulai sekarang, jangan pernah lagi muncul dihadapan gue. Kita ... selesai sampai di sini,” final Hanna lalu pergi meninggalkan Zaffran dan juga Papa-nya.

“Hah? Se-selesai? Selesai apa, Zaff maksudnya?” beo Hasan.

Zaffran menegakkan kepalanya sembari menatap langit ruangan itu. Ia tak mampu berkata-kata lagi.

“ZAFFRAN JAWAB!”

“Kita akan berpisah, Pa.”

“APA?!” Hasan berteriak dengan terkejut. “Nggak! Nggak boleh! Kalian nggak boleh berpisah,” ucap Hasan dengan gelisah.

“Pa….”

“Kenapa? Kamu mau susul Hanna?”

Zaffran mengangguk. “Hmm.”

“Kalau gitu susul lah dia!” perintah Hasan.

Tanpa lama-lama, ia pun mengambil kunci mobilnya dan berlari sekencang mungkin. Ia yakin Hanna belum jauh dari rumah sakitnya. Ia terus berlari menelusuri rumah sakit dan melewati desakan ramai orang-orang di sana.

Ting!

Ting!

Bunyi notifikasi dari ponsel Zaffran membuat dirinya berhenti berlari. Zaffran meraih ponselnya dan membaca pesan yang masuk.

Fahri Zaff, istri lo di apart temennya. Alamatnya di jalan Taman Raya 2, kamar nomor 601, lantai 5.

Setelah membaca pesan dari Fahri, lelaki itu berlari kembali dan pergi menuju parkiran mobil. Setelah tiba, ia nyalakan mesin mobil lalu ia laju dengan kecepatan setinggi mungkin menuju alamat itu.

© jjaewookims.