38. Dia, Dokter Mahendra Zaffran Al-Ghifari.


Waktu kedua kakinya memasuki kamar pasien dan tangannya mulai memeriksa seorang pasien anak kecil. Zaffran kembali memikirkan bagaimana gadis sekecil itu harus menahan luka sedalam mungkin.

Rasanya, itu seperti lautan besar yang tidak mudah dan tidak mungkin untuk seseorang lewati. Seperti itulah Hanna, ia sama sulitnya harus berpura-pura bahwa dirinya baik-baik saja.

Tepat di mana saat ini harusnya ia mencari tahu tentang masa lalu Hanna dan Mama, ia abaikan semua masalah itu. Kakinya kembali melangkah memeriksa pasien satu dan pasien lainnya, memeriksa dengan segenap hati dan cinta yang sudah menjadi kewajibannya. Tangannya mulai memegang penlight hitam di kanan, sedangkan yang satu lagi tengah sibuk memegangi wajah sang anak guna mengecek kondisi pasien sedetail mungkin.

“Keadaannya bagus, dan kesehatan Nabila juga udah mulai stabil. Tetapi tetap harus dirawat di sini untuk melihat perkembangannya.”

Nabila dan juga Ibu Nadiya, selaku orang tua dari Nabila pun tersenyum lega mendengarnya.

“Dokter, kalo aku udah sehat, aku boleh kan makan coklat lagi?” Nabila bertanya.

Zaffran mengelus lembut rambut anak itu. “Tentu, makanya Nabila harus cepat sembuh, oke?”

“Oke, dokter ganteng. Upss,” Nabila menutup mulut dengan tangannya, “dokter baik maksudnya.”

Zaffran dan juga Ibu Nadiya terkekeh mendengarnya. Memang sudah tidak asing lagi ia mendengar kalimat itu dari pasiennya. Beberapa menit kemudian, ia pun berpamitan kepada mereka dan kembali ke ruangannya.

RUANG BEDAH ANAK, DOKTER M. ZAFFRAN AL-GHIFARI

Setelah tiba di ruangannya, ia kembali merebahkan diri di kursi kebesarannya itu. Dan terlihat jelas papan nama dengan gelar yang penuh perjuangan itu. Gelar dan jabatan yang di mana ia pakai guna memenuhi sumpahnya. Ya, sumpahnya sebagai dokter.

dr. M. Zaffran Al-Ghifari, Sp.Ba.


Notes: penlight atau senter medis adalah alat medis yang digunakan untuk mengecek kondisi mata, telinga, hidung, dan mulut pasien.

© jjaewookims, 2022.