Our Wedding Day
Setiap yang berpasangan pasti ingin sekali menikah dengan seseorang yang dicintainya. Begitu juga dengan Zaffran dan Hanna, mereka yang akan menikah hari ini pun pasti ingin sekali menikah dengan orang yang dicintainya. Namun, tidak semua yang kita inginkan harus selalu terjadi bukan?
Maka dari itu, mereka berdua pun mau tidak mau, rela tidak rela, ikhlas tidak ikhlas, mereka harus menerima itu. Lagi pula, tidak semua pernikahan atas dasar perjodohan akan berakhir nahas bukan? Seperti itulah yang Zaffran pikirkan sewaktu ia melamar Hanna.
Ia percaya, bahwa cinta bisa datang kapan saja. Dan ia juga percaya, bahwa Tuhan itu Maha membolak-balikkan hati manusia. Siapa tahu, hati yang belum pernah bercinta itu akan bercinta juga di kemudian hari.
“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 88,5 gram emas dibayar tunai.”
“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Imran selaku penghulu kepada para tamu undangan.
“SAHHH!” jawab mereka serempak.
“Alhamdulillah....”
Riuh semua orang yang hadir di sana dan senantiasa berdoa bersama untuk kebaikan pernikahan mereka.
Selanjutnya, Oma membawa Hanna kepada sang suami. Dan kini mata mereka bertemu pandang. Sudah sah jadi halal untuk bertatapan.
“Kak, buruan dipasang cincinnya!” perintah Fadil yang tidak sabar memotret momen itu.
Zaffran tersenyum malu. “Sabar atuh, Dil,” sambung Ayah.
“Sudah Kak, ayo dipasang!” bisik Bunda.
Zaffran mengambil cincin dari kotak yang dibawa Chelsea, dan memasangkannya dijari manis Hanna. Semua itu Zaffran lakukan dengan perasaan gugup dan bahagia. Hanna juga melakukan hal sama untuk suaminya. Namun, apakah Hanna merasakan hal yang sama pula dengan Zaffran?
Setelahnya Hanna mencium tangan Zaffran dan lelaki itu meletakkan tangannya di atas ubun-ubun kepala Hanna sambil berdoa.
“Kak, kalau gue belum jatuh cinta sama lo juga, talak gue aja, ya? Gue ikhlas kok, serius deh,” bisik gadis itu.
Zaffran mendekat balik. “Saya nggak akan menceraikan kamu, Hanna.”
Hanna berdecak sebal. “Kak, jangan gitu!”
“Gini saja, kalau kamu udah jatuh cinta sama saya, boleh kita memulainya dari nol lagi?”
Hanna mengangguk pasti. “Terserah lo, gue juga janji gue bakal menyerahkan hidup gue sepenuhnya ke lo. Tapi, itu kalo gue beneran cinta sama lo,” jawab Hanna.
Zaffran tersenyum, “Iya istriku sayang,” sambung Zaffran sambil mengelus-elus kepala Hanna. Dan gadis itu hanya merespons dengan decak kesal.
Kini, mereka berdua telah sah menjadi pasangan suami dan istri. Di mana jiwa raga mereka bersatu dalam kesatuan cinta yang suci dan abadi.
•
© jjaewookims.