jjaewookims

Mengingat dirinya kalah taruhan dari sang adik. Azura pun dengan cepat memesan makanan dan juga minuman untuk adiknya itu lewat grab food.

Azura berdiri di depan cermin sambil memakai skincare rutin malamnya. “Tuhan, mengapa Engkau memihak adikku dan bukan diriku?” kata Azura dengan gaya bicaranya bak drama kolosal buatannya itu.

Bi Imas yang mendengarnya pun ikut tertawa melihat tingkah lakunya itu. “Si Neng teh aya-aya wae, ngomongnya make di nada kitu,” ujar Bi Imas.

Azura cengengesan. “Gimana Bi, aku cocok kan jadi bintang film gitu?”

“Cocok atuh, Neng,” kata Bi Imas sambil menjulurkan dua ibu jarinya.

Azura menepuk-nepuk bahu sang Bibi dengan geli. “Ah, si Bibi teh. Azura kan jadi malu.”

Bi Imas terkekeh. “Ehm, Neng, kalo kitu Bibi pamitan ke dapur heula, nya.”

Azura mengangguk.

Mendengar klakson Mamang grab, Azura pun bergegas turun ke bawah untuk mengambil pesanannya.

“Maaf, Mba. Apa benar ini rumahnya Mba Tiny Winy Bity?”

Azura mengangguk dengan cepat.

“Mba nya beneran Mba Tiny Winy Bity?”

“Beneran, Pak, masa saya bohongan sih.”

“Tapi, saya pernah liat Mba di gedung mewah gitu deh. Terus pakaian Mba juga kayak pimpinan gitu, apalagi di belakangnya ada banyak bodyguard dan juga asistennya gitu,” ujar Mamang grab.

“Salah orang kali,” kata gadis itu sambil membayar biaya pesanannya.

“Oh gitu, yowes kalo gitu selamat menikmati makanannya ya, Mba,” ucap Mamang grab. Kemudian pergi meninggalkan kediaman rumah Azura.

***

Usai mengambil pesanan, Azura pun bergegas pergi menuju kamar Dika sembari membawa sekantong plastik berisikan makanan dan juga minuman untuknya itu.

Ceklek!

“Astaghfirullahaladzim,” ucap Azura sembari membalikkan badannya.

Dika yang ikut terkejut, dengan cepat Ia pun memakai pakaiannya itu.

“Udah belum?” tanya Azura dengan nada tinggi.

“Udeh-udeh. Lagian masuk kamar orang bukannya ketuk pintu dulu malah main nyelonong aja.”

Azura berbalik. Namun, begitu melihat wajah Adiknya yang kesal karena ulahnya barusan, Azura pun langsung meletakkan kantong plastiknya itu.

Dika mengernyit bingung. Ia pun segera membuka kantong plastiknya itu dan langsung mengeluarkan makanan dan juga minumannya dari dalam plastik.

“Wow. Starbucks, pizza, burger, kfc, and spaghetti? Sebanyak ini untuk aku? Benarkah, Kakak gak salah?”

Azura menggeleng.

“Lah, terus semua ini apa dong?”

“Hukuman gue lah, kan gue kalah taruhan.”

“APA? JADI, BENERAN KAK DEVAN NERIMA KAKAK? PADAHAL AKU CUMA ASAL NEBAK AJA,” tanya Dika dengan meninggikan suaranya.

Azura mengangguk lagi.

“Terus, Kakak beneran mau nikah sama dia?”

“Iya mau gimana lagi? Sekalipun Kakak nolak juga nggak akan ada yang dengerin.”

Dika menghela napasnya, kemudian mengelus punggung sang Kakak.

“Sabar ya, Kak. Pokoknya Kakak harus sehat, jangan terlalu dipikirin ya.”

Azura menepis tangan sang Adik. “Bentar deh, kamu kenapa sih, Dik? Tiap Kakak kena masalah, pasti kamu selalu bilang 'jaga kesehatan ya, Kak. Jangan capek-capek ya, Kak.' Kenapa sih?” tanya gadis itu.

Dika terdiam.

Azura menepuk tangannya. “Heh! Ditanyain malah diem.”

Dika tersadar. “Enggak apa-apa kok, Kak. Emangnya salah ya aku ngomong gitu?”

“Ya, enggak salah sih. Tapi aneh aja, soalnya kamu keliatannya kayak nyembunyiin sesuatu dari Kakak.”

“Ya, enggak lah, Kak.”

“Yaudah, kalo gitu di makan ya,” kata Azura sambil menepuk bahunya.

Dika mengangguk.

Azura yang hendak pergi, Dika pun meraih tangan Kakaknya itu.

“Kenapa, Dik?”

“Dika cuma mau bilang, hati-hati dengan Kak Devan. Dia itu punya tiga topeng yang nggak semua orang tau,” ujar Dika memberitahu.

Azura mengernyit.

“Dan juga, dia itu nggak se-nyebelin yang Kakak kira. Tapi, dia juga nggak sesedih yang Kakak dan Kak Citra pikirkan. Yang jelas, satu hal yang harus Kakak tau, kalo Kak Devan itu bukan CEO sungguhan.”

“Bentar deh, maksud kamu dia bukan CEO sungguhan itu apa?” Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.

“Nanti Kakak juga tau sendiri kok.”

“Tap-,”

Belum sempat bicara, Dika sudah menutup mulut Kakaknya itu lebih dulu.

“Satu hal lagi, Kak. Dia itu, bad boy berkedok CEO. Jadi, hati-hati aja sama dia, karena dia bisa aja meledak.”

“Kamu kok tau banyak tentang dia sih?”

“Kan, Dika udah bilang. Dika itu udah kenal lama sama Kak Devan.”

“Enggak, bukan itu. Tapi, kamu taunya detail banget. Apalagi sampai ngatain dia bad boy.”

Dika tersenyum sinis. “Iya tau dong, dia kan sering terpergok sama aku soalnya. Bahkan dari jaman aku SMA,” ujar Dika menjelaskan.

Azura menghela napasnya. “Sejak SMA, Dik? Kamu sering bolos?” tanyanya.

Dika terdiam tak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan Kakaknya barusan.

“Dik, jawab!” titah Azura yang tak bisa Ia abaikan lagi.

“Kalo iya kenapa? Mau bilang ke Papa, hah? Silahkan aja, Dika nggak takut. Lagian ini demi masa depan Dika juga kok,” tantang Dika.

“Dika.... Enggak gitu, Dik.”

“Lagi pula ya, Kak. Seseorang pernah bilang sama aku, bertindaklah sesuai keinginanmu, jika kamu nggak mau jadi mental pesuruh,” ujar Dika memberitahu, “karena kata-kata dia, aku jadi mengerti apa keinginanku sebenernya,” lanjutnya.

“Dika...,” lirih gadis itu.

“Kak, SMK perkantoran itu bukan jurusan yang Dika minat. Tapi, Papa jutsru daftarin aku paksa ke SMK itu, emangnya Dika salah kalo bolos? Dika capek, Kak,” jujur Dika dengan air matanya yang mulai berlinang-linang.

Azura menghela napasnya lagi. “Astaghfirullahaladzim, kamu kenapa nggak bilang sih?”

Lagi dan lagi anak itu terdiam tak menjawabnya. Namun, diamnya Dika kali ini memang tak bisa Ia katakan padanya. Mengapa demikian? Apa alasan Dika tak ingin menjawabnya?

“Dik, kok diem? Jawab dong!”

Tak ingin ketahuan oleh Kakaknya, Dika pun pergi dan meninggalkan Kakaknya di kamar seorang diri. Dika keluar dengan segenap air matanya yang mengalir deras di permukaan wajahnya itu.

Azura mengernyit bingung. Namun, seketika Ia melihat reaksi Adiknya, Azura yakin bahwa ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan oleh Adiknya itu.

***

Dika mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Sementara Devan yang melihatnya dari atas jendela, Ia pun mengernyit kebingungan. Tapi, tak heran lagi baginya. Karena dia tau ke mana anak itu akan pergi.

“Kak, Dika minta maaf. Maafin Dika, tapi, Dika beneran nggak bisa kasih tau ini semua ke Kakak sekarang.”

© axcelineee Titi.

Mengingat dirinya kalah taruhan dari sang adik. Azura pun dengan cepat memesan makanan dan juga minuman untuk adiknya itu lewat grab food.

Azura berdiri di depan cermin sambil memakai skincare rutin malamnya. “Tuhan, mengapa Engkau memihak adikku dan bukan diriku?” kata Azura dengan gaya bicaranya bak drama kolosal buatannya itu.

Bi Imas yang mendengarnya pun ikut tertawa melihat tingkah lakunya itu. “Si Neng teh aya-aya wae, ngomongnya make di nada kitu,” ujar Bi Imas.

Azura cengengesan. “Gimana Bi, aku cocok kan jadi bintang film gitu?”

“Cocok atuh, Neng,” kata Bi Imas sambil menjulurkan dua ibu jarinya.

Azura menepuk-nepuk bahu sang Bibi dengan geli. “Ah, si Bibi teh. Azura kan jadi malu.”

Bi Imas terkekeh. “Ehm, Neng, kalo kitu Bibi pamitan ke dapur heula, nya.”

Azura mengangguk.

Mendengar klakson Mamang grab, Azura pun bergegas turun ke bawah untuk mengambil pesanannya.

“Maaf, Mba. Apa benar ini rumahnya Mba Tiny Winy Bity?”

Azura mengangguk dengan cepat.

“Mba nya beneran Mba Tiny Winy Bity?”

“Beneran, Pak, masa saya bohong sih.”

“Tapi, saya pernah liat Mba di gedung mewah gitu deh. Terus pakaian Mba juga kayak pimpinan gitu, apalagi di belakangnya ada banyak bodyguard dan juga asistennya gitu,” ujar Mamang grab.

“Salah orang kali,” kata gadis itu sambil membayar biaya pesanannya.

“Oh gitu, yowes kalo gitu selamat menikmati pesanannya ya, Mba,” ucap Mamang grab. Kemudian pergi meninggalkan kediaman rumah Azura.

***

Usai mengambil pesanan, Azura pun bergegas pergi menuju kamar Dika sembari membawa sekantong plastik berisikan makanan dan juga minuman untuknya itu.

Ceklek!

“Astaghfirullahaladzim,” ucap Azura sembari membalikkan badannya.

Dika yang ikut terkejut, dengan cepat Ia pun memakai pakaiannya itu.

“Udah belum?” tanya Azura dengan nada tinggi.

“Udeh-udeh. Lagian masuk kamar orang bukannya ketuk pintu dulu malah main nyelonong aja.”

Azura berbalik. Namun, begitu melihat wajah Adiknya yang kesal karena ulahnya barusan, Azura pun langsung meletakkan kantong plastiknya itu.

Dika mengernyit bingung. Ia pun segera membuka kantong plastiknya itu. Ia langsung mengeluarkan makanan dan juga minumannya itu.

Starbucks, pizza, burger, kfc, and spaghetti? Sebanyak ini untuk aku? Kakak gak salah?”

Azura menggeleng.

“Lah, terus semua ini apa dong?”

“Hukuman gue lah, kan gue kalah taruhan.”

“APA? JADI, BENERAN KAK DEVAN NERIMA KAKAK? PADAHAL AKU CUMA ASAL NEBAK AJA,” tanya Dika dengan meninggikan suaranya.

Azura mengangguk lagi.

“Terus, Kakak beneran mau nikah sama dia?”

“Iya mau gimana lagi? Sekalipun Kakak nolak juga nggak akan ada yang dengerin.”

Dika menghela napasnya, kemudian mengelus punggung sang Kakak.

“Sabar ya, Kak. Pokoknya Kakak harus sehat, jangan dipikirin ya.”

Azura menepis tangan sang Adik. “Bentar deh, kamu kenapa sih, Dik? Tiap Kakak kena masalah, pasti kamu selalu bilang 'jaga kesehatan ya, Kak. Jangan capek-capek ya, Kak.' Kenapa sih?” tanya gadis itu.

Dika terdiam.

Azura menepuk tangannya. “Heh! Ditanyain kok diem.”

Dika tersadar. “Enggak apa-apa kok, Kak. Emangnya salah ya aku ngomong gitu?”

“Ya, enggak sih. Tapi aneh aja, kamu kayak keliatan nyembunyiin sesuatu dari Kakak soalnya.”

“Ya, enggak lah, Kak.”

“Yaudah, di makan ya,” kata Azura sambil menepuk bahunya.

Dika mengangguk.

Azura yang hendak pergi, Dika pun meraih tangan Kakaknya itu.

“Kenapa, Dik?”

“Dika cuma mau bilang, hati-hati dengan Kak Devan. Dia itu punya tiga topeng yang nggak semua orang tau,” ujar Dika memberitahu.

Azura mengernyit.

“Dan juga, dia itu nggak se-nyebelin yang Kakak kira. Tapi, dia juga nggak sesedih yang Kakak dan Kak Citra pikirkan. Yang jelas, satu hal yang harus Kakak tau, kalo Kak Devan itu bukan CEO sungguhan.”

“Bentar deh, maksud kamu apa, Dik? Topeng dan bukan CEO sungguhan itu apa?” Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.

“Nanti Kakak juga tau kok.”

“Tap-,”

Belum sempat bicara, Dika pun menutup mulut Kakaknya itu.

“Satu hal lagi, Kak. Dia itu punya sekelompok orang-orang penentang dan dia pemimpinnya. Dia itu, bad boy berkedok CEO. Jadi, hati-hati aja sama dia. Karena dia bisa aja berbahaya, bahkan dia lebih daripada sebutannya yang bad boy.”

“Kamu kok tau banyak tentang dia sih?”

“Kan, Dika udah bilang. Dika itu udah kenal lama sama Kak Devan.”

“Enggak, bukan itu. Tapi, kamu taunya detail banget. Apalagi sampai ngatain dia bad boy.”

Dika tersenyum sinis. “Iya tau dong, dia kan sering terpergok sama aku soalnya. Bahkan dari jaman aku SMA,” ujar Dika menjelaskan.

Azura menghela napasnya. “Dik, sejak SMA? Kamu sering bolos?” tanyanya.

Dika terdiam tak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan Kakaknya barusan.

“Dik, jawab!” titah Azura yang tak bisa Ia abaikan lagi.

“Kalo iya kenapa? Mau bilang ke Papa, hah? Silahkan aja, lagian ngapain Dika sekolah sama SMK yang nggak Dika suka? Kak, SMK perkantoran itu bukan jurusan yang Dika minat,” jujur Dika dengan air matanya yang berlinang.

Azura menghela napasnya lagi. “Astaghfirullahaladzim, kamu kenapa nggak bilang sih?”

Lagi dan lagi pria itu terdiam tak menjawabnya. Namun, diamnya Dika kali ini memang tak bisa Ia katakan padanya. Mengapa demikian? Apa alasannya Dika tak ingin menjawabnya.

“Dik, kok diem? Jawab dong!”

Tak ingin ketahuan oleh Kakaknya, pria itu pun pergi dan meninggalkan Kakaknya di kamar seorang diri. Ia keluar dengan segenap air matanya yang mengalir deras di permukaan wajahnya itu. Azura mengernyit bingung. Namun, seketika Ia melihat reaksi Adiknya, Azura yakin bahwa ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan Adiknya itu.

***

Dika mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Hal itu pun membuat Devan yang melihat dari atas jendela kamarnya pun mengernyit kebingungan. Tapi, Devan tau ke mana anak itu pergi terburu-buru seperti yang Ia lihat barusan.

“Kak, Dika minta maaf. Maafin Dika, tapi, Dika beneran nggak bisa kasih tau ini semua ke Kakak sekarang.”

© axcelineee Titi.

Mengingat dirinya kalah taruhan dari sang adik. Azura pun dengan cepat memesan makanan dan juga minuman untuk adiknya itu lewat grab food.

Azura berdiri di depan cermin sambil memakai skincare rutin malamnya. “Tuhan, mengapa Engkau memihak adikku dan bukan diriku?” kata Azura dengan gaya bicaranya bak drama kolosal buatannya itu.

Bi Imas yang mendengarnya pun ikut tertawa melihat tingkah lakunya itu. “Si Neng teh aya-aya wae, ngomongnya make di nada Kitu,” ujar Bi Imas.

Azura cengengesan. “Gimana Bi, aku cocok kan jadi bintang film gitu?”

“Cocok atuh, Neng,” kata Bi Imas sambil menjulurkan dua ibu jarinya.

Azura menepuk-nepuk bahu sang Bibi dengan geli. “Ah, si Bibi teh. Azura kan jadi malu.”

Bi Imas terkekeh. “Ehm, Neng, kalo kitu Bibi pamitan ke dapur heula, nya.”

Azura mengangguk.

Mendengar klakson Mamang grab, Azura pun bergegas turun ke bawah untuk mengambil pesanannya.

“Maaf, Mba. Apa benar ini rumahnya Mba Tiny Winy Bity?”

Azura mengangguk dengan cepat.

“Mba nya beneran Mba Tiny Winy Bity?”

“Beneran, Pak, masa saya bohong sih.”

“Tapi, saya pernah liat Mba di gedung mewah gitu deh. Terus pakaian Mba juga kayak pimpinan gitu, apalagi di belakangnya ada banyak bodyguard dan juga asistennya gitu,” ujar Mamang grab.

“Salah orang kali,” kata gadis itu sambil membayar biaya pesanannya.

“Oh gitu, yowes kalo gitu selamat menikmati pesanannya ya, Mba,” ucap Mamang grab. Kemudian pergi meninggalkan kediaman rumah Azura.

***

Usai mengambil pesanan, Azura pun bergegas pergi menuju kamar Dika sembari membawa sekantong plastik berisikan makanan dan juga minuman untuknya itu.

Ceklek!

“Astaghfirullahaladzim,” ucap Azura sembari membalikkan badannya.

Dika yang ikut terkejut, dengan cepat Ia pun memakai pakaiannya itu.

“Udah belum?” tanya Azura dengan nada tinggi.

“Udeh-udeh. Lagian masuk kamar orang bukannya ketuk pintu dulu malah main nyelonong aja.”

Azura berbalik. Namun, begitu melihat wajah Adiknya yang kesal karena ulahnya barusan, Azura pun langsung meletakkan kantong plastiknya itu.

Dika mengernyit bingung. Ia pun segera membuka kantong plastiknya itu. Ia langsung mengeluarkan makanan dan juga minumannya itu.

Starbucks, pizza, burger, kfc, and spaghetti? Sebanyak ini untuk aku? Kakak gak salah?”

Azura menggeleng.

“Lah, terus semua ini apa dong?”

“Hukuman gue lah, kan gue kalah taruhan.”

“APA? JADI, BENERAN KAK DEVAN NERIMA KAKAK? PADAHAL AKU CUMA ASAL NEBAK AJA,” tanya Dika dengan meninggikan suaranya.

Azura mengangguk lagi.

“Terus, Kakak beneran mau nikah sama dia?”

“Iya mau gimana lagi? Sekalipun Kakak nolak juga nggak akan ada yang dengerin.”

Dika menghela napasnya, kemudian mengelus punggung sang Kakak.

“Sabar ya, Kak. Pokoknya Kakak harus sehat, jangan dipikirin ya.”

Azura menepis tangan sang Adik. “Bentar deh, kamu kenapa sih, Dik? Tiap Kakak kena masalah, pasti kamu selalu bilang 'jaga kesehatan ya, Kak. Jangan capek-capek ya, Kak.' Kenapa sih?” tanya gadis itu.

Dika terdiam.

Azura menepuk tangannya. “Heh! Ditanyain kok diem.”

Dika tersadar. “Enggak apa-apa kok, Kak. Emangnya salah ya aku ngomong gitu?”

“Ya, enggak sih. Tapi aneh aja, kamu kayak keliatan nyembunyiin sesuatu dari Kakak soalnya.”

“Ya, enggak lah, Kak.”

“Yaudah, di makan ya,” kata Azura sambil menepuk bahunya.

Dika mengangguk.

Azura yang hendak pergi, Dika pun meraih tangan Kakaknya itu.

“Kenapa, Dik?”

“Dika cuma mau bilang, hati-hati dengan Kak Devan. Dia itu punya tiga topeng yang nggak semua orang tau,” ujar Dika memberitahu.

Azura mengernyit.

“Dan juga, dia itu nggak se-nyebelin yang Kakak kira. Tapi, dia juga nggak sesedih yang Kakak dan Kak Citra pikirkan. Yang jelas, satu hal yang harus Kakak tau, kalo Kak Devan itu bukan CEO sungguhan.”

“Bentar deh, maksud kamu apa, Dik? Topeng dan bukan CEO sungguhan itu apa?” Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.

“Nanti Kakak juga tau kok.”

“Tap-,”

Belum sempat bicara, Dika pun menutup mulut Kakaknya itu.

“Satu hal lagi, Kak. Dia itu punya sekelompok orang-orang penentang dan dia pemimpinnya. Dia itu, bad boy berkedok CEO. Jadi, hati-hati aja sama dia. Karena dia bisa aja berbahaya, bahkan dia lebih daripada sebutannya yang bad boy.”

“Kamu kok tau banyak tentang dia sih?”

“Kan, Dika udah bilang. Dika itu udah kenal lama sama Kak Devan.”

“Enggak, bukan itu. Tapi, kamu taunya detail banget. Apalagi sampai ngatain dia bad boy.”

Dika tersenyum sinis. “Iya tau dong, dia kan sering terpergok sama aku soalnya. Bahkan dari jaman aku SMA,” ujar Dika menjelaskan.

Azura menghela napasnya. “Dik, sejak SMA? Kamu sering bolos?” tanyanya.

Dika terdiam tak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan Kakaknya barusan.

“Dik, jawab!” titah Azura yang tak bisa Ia abaikan lagi.

“Kalo iya kenapa? Mau bilang ke Papa, hah? Silahkan aja, lagian ngapain Dika sekolah sama SMK yang nggak Dika suka? Kak, SMK perkantoran itu bukan jurusan yang Dika minat,” jujur Dika dengan air matanya yang berlinang.

Azura menghela napasnya lagi. “Astaghfirullahaladzim, kamu kenapa nggak bilang sih?”

Lagi dan lagi pria itu terdiam tak menjawabnya. Namun, diamnya Dika kali ini memang tak bisa Ia katakan padanya. Mengapa demikian? Apa alasannya Dika tak ingin menjawabnya.

“Dik, kok diem? Jawab dong!”

Tak ingin ketahuan oleh Kakaknya, pria itu pun pergi dan meninggalkan Kakaknya di kamar seorang diri. Ia keluar dengan segenap air matanya yang mengalir deras di permukaan wajahnya itu. Azura mengernyit bingung. Namun, seketika Ia melihat reaksi Adiknya, Azura yakin bahwa ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan Adiknya itu.

***

Dika mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Hal itu pun membuat Devan yang melihat dari atas jendela kamarnya pun mengernyit kebingungan. Tapi, Devan tau ke mana anak itu pergi terburu-buru seperti yang Ia lihat barusan.

“Kak, Dika minta maaf. Maafin Dika, tapi, Dika beneran nggak bisa kasih tau ini semua ke Kakak sekarang.”

© axcelineee Titi.

Setibanya di kafe, Azura bergegas menuju meja di mana Devan berada. Namun, setelah tiba di hadapannya, pria itu terdiam begitu melihatnya.

Kenapa diam? Ia diam karena gadis itu terlihat sangat aneh di matanya. Sekarang, mata pria itu pun mengernyit kebingungan, bahkan tubuhnya pun terpaku diam saat Azura memanggil namanya.

“Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri detail tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya lagi dan lagi. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin darinya. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun tersadar akibat gebrakan meja yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Devan penuh heran.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, hal itu pun membuat Azura mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat sekelilingnya, kemudian matanya perlahan menatap gadis itu. Ia sadar, bahwa semua orang sedang membicarakannya. Devan menghela napas lagi, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang memijat keningnya, Azura pun melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian, make-up, dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Namun, gadis itu pun langsung terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap oleh Devan.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok,” ucap Azura mencoba mengalihkan pandangan Devan.

Devan menyilang kakinya. “It's okay, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napas pelan. “Gak usah diliat-liat! Gue juga tau kali kalo gue ganteng.”

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry Azura, boleh gue tanya?”

“Iya, silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa ya?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya lagi. “Terus, ngapain lo pakai baju Elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, make-up lo tebel kayak gitu? Emangnya lo gak ngaca apa?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi jelek kayak gitu?” Devan bertanya.

“Enak aja jelek, ini tuh model. Lo tau model gak sih? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju Elsa yang gue pake ini itu adalah suatu imagination yang Azura ciptakan. Jadi, jangan sembarangan lo ngatain gue jelek,” ujar Azura menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi Elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan yang kesal, ia pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Yaudah, kalo gitu silahkan lo pilih minumannya dan pesan.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membuka buku itu dan membacanya, mata gadis itu pun melihat-lihat isi buku tersebut. Dan setelah ia memilih susu, Devan pun segera memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, karena gue gak mau basa-basi. Jadi, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah! Lo bisa baca, kan?”

Azura membuka berkas itu, kemudian membacanya satu persatu. Namun, saat ia membacanya, tiba-tiba saja emosi gadis itu pun meledak begitu melihat dua kata yang benar-benar menyebalkan baginya.

“Nikah sirih? Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Entahlah.”

“Sebenernya mau lo apa sih?” tanya Azura.

“Jadi, gue datang ke sini itu dengan tuj-.” Belum sempat pria itu bicara, gebrakan meja pun terpaksa membuatnya diam.

Devan berdiri. Ia mengernyit dan menatap gadis itu kebingungan. Sementara gadis itu menatap tajam wajah Devan dalam-dalam.

“Bisa nggak sih lo tolak aja perjodohannya? Gue itu nggak mau nikah sama lo dan sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi Azura memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Pasalnya, ia diam karena Azura menyiram wajah tampannya dengan susu. Hal itu pun, membuat Devan terdiam karena syok.

“DENGER YA, SAUDARA DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Oh damn, this is milk? Dia nyiram wajah gue pake ini?” ucap Devan sambil menghirup aroma susu dari sapu tangannya.

“Liat aja tuh cewek, kalo ketemu lagi biar gue lakban tuh tangannya,” kesal Devan.

Sebelum Azura pergi terlalu jauh dan ia kehilangan jejaknya, Devan pun segera menyusul Azura dengan langkah begitu cepat. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun dengan cepat menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura jatuh dalam dekapannya. Karena terkejut, dengan cepat Azura melepaskan pelukan pria itu.

Tapi, dengan cepat pula Devan meraih tangan Azura kembali. Namun, gadis itu menepisnya dengan sangat cepat. Selang beberapa menit, mata mereka pun bertemu. Azura mengernyit heran menatap wajah pria itu, pasalnya baru kali ini Devan agak sulit ditebak menurutnya. Sikap santainya Devan sekarang benar-benar membuat gadis itu terus bertanya-tanya, karena sedari tadi pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

“Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang thanks aja sama lo,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, setidaknya muka gue jadi segar banget.”

“Seger banget?” bingung Azura.

“Iya, saking segarnya muka gue jadi berasa lagi maskeran.” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan dibenaknya.

Azura mengernyit.

“Dev-,” belum sempat Azura bicara, namun pria itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.

“Dasar, bener-bener tuh cowok, baru juga gue mau ngomong, udah main pergi aja tuh orang,” kesal Azura.

“Emang nyebelin banget sih tuh cowok. Dateng udah main pegang-pegang, pergi malah main nyelonong aja,” keluh gadis itu.

****

Begitulah pertemuan yang mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuat Devan menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat Azura memanggil namanya.

Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun tersadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Devan penuh heran.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat sekelilingnya, kemudian matanya perlahan menatap gadis itu. Ia sadar, bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napas lagi, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang sudah frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok,” ucap Azura mencoba mengalihkan pandangannya.

Devan menyilang kakinya, hingga kaki kanan menduduki kaki kirinya. “It's okay, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.”

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry Azura, boleh gue tanya?”

“Iya, silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa ya?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya lagi. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo tuh ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi jelek kayak gitu?” Devan bertanya.

“Enak aja jelek, ini tuh model. Lo tau model gak sih? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination. Yang di mana, imagination ini diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Yaudah, kalo gitu silahkan lo pilih minumannya dan pesan.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membuka buku itu dan membacanya, mata gadis itu pun melihat-lihat isi buku tersebut. Dan setelah ia memilih susu, Devan pun segera memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, karena gue gak mau basa-basi. Jadi, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah!”

Azura membuka berkas itu, kemudian membacanya satu persatu.

“Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Entahlah.”

“Sebenernya mau lo apa sih?” tanya Azura.

“Jadi, gue datang ke sini itu dengan tuj-.” Belum sempat ia bicara, gebrakan meja pun terpaksa membuatnya diam.

Devan berdiri. Ia mengernyit dan menatap gadis itu kebingungan. Sementara gadis itu menatap tajam wajah Devan dalam-dalam.

“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi Azura memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat pria itu menghentikan omongannya.

“DENGER YA, SAUDARA DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia nyiram wajah gue pake ini?” ucap Devan sambil menghirup aroma susu dari sapu tangannya.

“Liat aja tuh cewek, kalo ketemu lagi biar gue lakban tuh tangannya,” kesal Devan.

Sebelum Azura pergi terlalu jauh dan ia kehilangan jejaknya, Devan pun segera menyusul Azura dengan langkah begitu cepat. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun dengan cepat menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura jatuh dalam dekapannya. Karena terkejut, dengan cepat Azura melepaskan pelukan pria itu.

Tapi, dengan cepat pula Devan meraih tangan Azura kembali. Namun, gadis itu menepisnya dengan sangat cepat. Selang beberapa menit, mata mereka pun bertemu. Azura mengernyit heran menatap wajah pria itu, pasalnya baru kali ini Devan agak sulit ditebak menurutnya. Sikap santainya Devan sekarang benar-benar membuat gadis itu terus bertanya-tanya, karena sedari tadi pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

“Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang thanks aja sama lo,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, setidaknya muka gue jadi segar banget.”

“Seger banget?” bingung Azura.

“Iya, saking segarnya muka gue jadi berasa lagi maskeran.” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan dibenaknya.

Azura mengernyit.

“Dev-,” belum sempat Azura bicara, pria itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.

“Wah, bener-bener tuh cowok, baru juga gue mau ngomong, udah main pergi aja tuh orang,” kesal Azura.

“Emang nyebelin banget sih tuh cowok. Dateng udah main pegang-pegang, pergi malah main nyelonong aja,” keluh gadis itu.

****

Begitulah pertemuan yang mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuat Devan menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat Azura memanggil namanya.

Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun tersadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Devan penuh heran.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat sekelilingnya, kemudian matanya perlahan menatap gadis itu. Ia sadar, bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napas lagi, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang sudah frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok,” ucap Azura mencoba mengalihkan pandangannya.

Devan menyilang kakinya, hingga kaki kanan menduduki kaki kirinya. “It's okay, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di atas meja sambil menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.”

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry Azura, boleh gue tanya?”

“Iya, silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa ya?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya lagi. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo tuh ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi jelek kayak gitu?” Devan bertanya.

“Enak aja jelek, ini tuh model. Lo tau model gak sih? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination. Yang di mana, imagination ini diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Yaudah, kalo gitu silahkan lo pilih minumannya dan pesan.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membuka buku itu dan membacanya, mata gadis itu pun melihat-lihat isi buku tersebut. Dan setelah ia memilih susu, Devan pun segera memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, karena gue gak mau basa-basi. Jadi, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah!”

Azura membuka berkas itu, kemudian membacanya satu persatu.

“Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Entahlah.”

“Sebenernya mau lo apa sih?” tanya Azura.

“Jadi, gue datang ke sini itu dengan tuj-.” Belum sempat ia bicara, gebrakan meja pun terpaksa membuatnya diam.

Devan berdiri. Ia mengernyit dan menatap gadis itu kebingungan. Sementara gadis itu menatap tajam wajah Devan dalam-dalam.

“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi Azura memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat pria itu menghentikan omongannya.

“DENGER YA, SAUDARA DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia nyiram wajah gue pake ini?” ucap Devan sambil menghirup aroma susu dari sapu tangannya.

“Liat aja tuh cewek, kalo ketemu lagi biar gue lakban tuh tangannya,” kesal Devan.

Sebelum Azura pergi terlalu jauh dan ia kehilangan jejaknya, Devan pun segera menyusul Azura dengan langkah begitu cepat. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun dengan cepat menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura jatuh dalam dekapannya. Karena terkejut, dengan cepat Azura melepaskan pelukan pria itu.

Tapi, dengan cepat pula Devan meraih tangan Azura kembali. Namun, gadis itu menepisnya dengan sangat cepat. Selang beberapa menit, mata mereka pun bertemu. Azura mengernyit heran menatap wajah pria itu, pasalnya baru kali ini Devan agak sulit ditebak menurutnya. Sikap santainya Devan sekarang benar-benar membuat gadis itu terus bertanya-tanya, karena sedari tadi pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

“Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang thanks aja sama lo,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, setidaknya muka gue jadi segar banget.”

“Seger banget?” bingung Azura.

“Iya, saking segarnya muka gue jadi berasa lagi maskeran.” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan dibenaknya.

Azura mengernyit.

“Dev-,” belum sempat Azura bicara, pria itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.

“Wah, bener-bener tuh cowok, baru juga gue mau ngomong, udah main pergi aja tuh orang,” kesal Azura.

“Emang nyebelin banget sih tuh cowok. Dateng udah main pegang-pegang, pergi malah main nyelonong aja,” keluh gadis itu.

****

Begitulah pertemuan yang mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuat Devan menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat Azura memanggil namanya.

Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun tersadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Devan penuh heran.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat sekelilingnya, kemudian matanya perlahan menatap gadis itu. Ia sadar, bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napas lagi, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang sudah frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok,” ucap Azura mencoba mengalihkan pandangannya.

Devan menyilang kakinya, hingga kaki kanan menduduki kaki kirinya. “It's okay, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.”

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry Azura, boleh gue tanya?”

“Iya, silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa ya?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya lagi. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo tuh ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi jelek kayak gitu?” Devan bertanya.

“Enak aja jelek, ini tuh model. Lo tau model gak sih? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination. Yang di mana, imagination ini diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Yaudah, kalo gitu silahkan lo pilih minumannya dan pesan.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membuka buku itu dan membacanya, mata gadis itu pun melihat-lihat isi buku tersebut. Dan setelah ia memilih susu, Devan pun segera memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, karena gue gak mau basa-basi. Jadi, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah!”

Azura membuka berkas itu, kemudian membacanya satu persatu.

“Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Entahlah.”

“Sebenernya mau lo apa sih?” tanya Azura.

“Jadi, gue datang ke sini itu dengan tuj-.” Belum sempat ia bicara, gebrakan meja pun terpaksa membuatnya diam.

Devan berdiri. Ia mengernyit dan menatap gadis itu kebingungan. Sementara gadis itu menatap tajam wajah Devan dalam-dalam.

“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi Azura memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat pria itu menghentikan omongannya.

“DENGER YA, SAUDARA DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia nyiram wajah gue pake ini?” ucap Devan sambil menghirup aroma susu dari sapu tangannya.

“Liat aja tuh cewek, kalo ketemu lagi biar gue lakban tuh tangannya,” kesal Devan.

Sebelum Azura pergi terlalu jauh dan ia kehilangan jejaknya, Devan pun segera menyusul Azura dengan langkah begitu cepat. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun dengan cepat menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura jatuh dalam dekapannya. Karena terkejut, dengan cepat Azura melepaskan pelukan pria itu.

Tapi, dengan cepat pula Devan meraih tangan Azura kembali. Namun, gadis itu menepisnya dengan sangat cepat. Selang beberapa menit, mata mereka pun bertemu. Azura mengernyit heran menatap wajah pria itu, pasalnya baru kali ini Devan agak sulit ditebak menurutnya. Sikap santainya Devan sekarang benar-benar membuat gadis itu terus bertanya-tanya, karena sedari tadi pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

“Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang thanks aja sama lo,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, setidaknya muka gue jadi seger banget.”

“Seger banget?” bingung Azura.

“Iya, saking segernya muka gue jadi berasa lagi maskeran.” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan dibenaknya.

Azura mengernyit.

“Dev-,” belum sempat Azuranbicara, pria itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.

“Wah, bener-bener tuh cowok, baru juga gue mau ngomong, udah main pergi aja tuh orang,” kesal Azura.

“Emang nyebelin banget sih tuh cowok. Dateng udah main pegang-pegang, pergi malah main nyelonong aja,” keluh gadis itu.

****

Begitulah pertemuan yang mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuat Devan menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat gadis itu memanggil namanya.

Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun sadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa?” tanya Devan kebingungan.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat disekelilingnya. Ia sadar bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napasnya, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya dengan tajam.

Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok.”

Devan menghela napasnya. “Oke, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry, boleh gue tanya?”

“Silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa, hah?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo itu ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi kayak gitu?” Devan bertanya.

“Lo gak tau model? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination yang diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Oke, silahkan pilih pesanannya. Lo mau minum apa, silahkan saja.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membukanya dan ia pun memilih susu untuk ia minum. Devan pun memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah!”

Azura membuka berkas itu, kemudian ia membacanya satu persatu.

“Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Jadi, gue datang ke sini dengan tuj-,” belum sempat ia bicara gebrakan meja membuatnya berhenti bicara.

Devan berdiri, ia mengernyit kebingungan. Gadis itu menatap tajam wajah pria itu.

“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi ia memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat Devan menghentikan omongannya.

“DENGER YA, DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia menyiram wajahku dengan ini? Berani sekali dia, lihat saja nanti,” ucap Devan.

Devan pergi menyusul Azura dengan langkah begitu cepat sebelum ia kehilangan jejaknya. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura menengok ke arahnya. Azura terkejut dengan kehadirannya, ia mengernyit heran. Wajah Devan kali ini sulit untuk ia tebak, pasalnya pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

Azura menepis lengan Devan. “Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang, thanks aja,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, gue jadi berpikir buat ngerubah rencana yang udah gue buat,” ujar Devan memberitahu.

“And thanks atas jamuan susunya, paling enggak susu yang lo siram bikin mata gue seger. Dan sekalian maskeran juga kan gue?” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan di benaknya.

“Hei!”

“Wah, baru juga gue mau ngomong udah main pergi aja. Emang nyebelin banget sih tuh cowok,” kesal Azura.

****

Begitulah pertemuan mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuatnya menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat gadis itu memanggil namanya.

Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.

Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.

Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.

Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.

“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.

Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.

“Huft....” Azura menghela napasnya.

“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.

Devan pun sadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.

“Maaf, Anda siapa?” tanya Devan kebingungan.

Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”

Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.

“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”

Azura mengangguk.

Devan melihat-lihat disekelilingnya. Ia sadar bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napasnya, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.

Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya dengan tajam.

Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.

“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok.”

Devan menghela napasnya. “Oke, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”

Azura mengangguk kembali.

Gadis itu menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.

Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.

Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.

“Maaf, tadi lo ngomong apa?”

Devan menggeleng.

“Huft, sumpah nyebelin banget nih cowok,” batin Azura.

Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Sorry, boleh gue tanya?”

“Silahkan saja, lo mau nanya apa?”

“Lo habis dari acara apa, hah?”

Azura menggeleng. “Enggak, gue habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”

Devan menghela napasnya. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”

“Biar cantik lah,” jawab Azura.

“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo itu ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”

“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”

“Terus, kenapa jadi kayak gitu?” Devan bertanya.

“Lo gak tau model? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination yang diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.

“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”

“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.

Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.

“Oke, silahkan pilih pesanannya. Lo mau minum apa, silahkan saja.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.

Azura membukanya dan ia pun memilih susu untuk ia minum. Devan pun memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.

“Oke, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.

Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”

“Buka lah!”

Azura membuka berkas itu, kemudian ia membacanya satu persatu.

“Gila lo ya?”

Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Jadi, gue datang ke sini dengan tuj-,” belum sempat ia bicara gebrakan meja membuatnya berhenti bicara.

Devan berdiri, ia mengernyit kebingungan. Gadis itu menatap tajam wajah pria itu.

“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.

Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”

Lagi dan lagi ia memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat Devan menghentikan omongannya.

“DENGER YA, DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.

Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia menyiram wajahku dengan ini? Berani sekali dia, lihat saja nanti,” ucap Devan.

Devan pergi menyusul Azura dengan langkah begitu cepat sebelum ia kehilangan jejaknya. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura menengok ke arahnya. Azura terkejut dengan kehadirannya, ia mengernyit heran. Wajah Devan kali ini sulit untuk ia tebak, pasalnya pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.

Azura menepis lengan Devan. “Lo mau apa lagi sih?”

“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang, thanks aja,” ucap Devan dengan nada santai.

“Thanks?” Azura mengernyit bingung.

“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, gue jadi berpikir buat ngerubah rencana yang udah gue buat,” ujar Devan memberitahu.

“And thanks atas jamuan susunya, paling enggak susu yang lo siram bikin mata gue seger. Dan sekalian maskeran juga kan gue?” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan di benaknya.

“Hei!”

“Wah, baru juga gue mau ngomong udah main pergi aja. Emang nyebelin banget sih tuh cowok,” kesal Azura.

****

Begitulah pertemuan mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuatnya menerima perjodohan itu?

© axcelineee. Titi.

Devan memijat keningnya dengan frustasi. Sementara, Fikri ia terus melihat ke arah pintu masuk.

“Fik, kayaknya gue udah stress duluan dah,” ucap Devan dengan pasrah sambil memainkan garpu yang ia pegang.

Mendengar keluhan Devan, Fikri hanya tertawa dengan pelan tanpa sepengetahuan dari Devan.

“Ada mobil masuk tuh, mungkinkah dia Nona Azura?” ucap Fikri. Tak lama kemudian, Fikri pun berlari menuju pintu masuk untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar adanya.

Namun, dugaannya sedikit ragu. Ia melihat dua orang gadis datang bersamaan dari mobil yang sama.

“Sebentar, kok dua cewek? Apa mungkin asistennya? Entahlah, yang penting gue harus pergi dari sini dulu,” ucap Fikri sambil meremukkan cup yang ia pegang itu.

“Dev, gue cabut dulu ya, ceweknya udah dateng. Gue pinjem mobilnya dulu, oke.” Fikri mengambil kunci dan juga topi miliknya yang Devan kenakan, lalu pergi dan berlari secepat mungkin meninggalkan kafe.

Devan membulatkan matanya dengan terkejut sambil menatap kepergian Fikri dengan penuh keheranan.

Sementara Azura, ia masih berada di dalam mobil dan meyakinkan hatinya itu.

“Ra, gak usah tegang oke,” ujar Citra menenangkan diri temannya.

Azura menghela napasnya dengan pelan. “Ci, doain gue oke.”

Citra mengangguk. “Pasti dong. Sekarang, mending lo pergi.”

Azura menghela napasnya lagi, kemudian pergi ke dalam kafe. Namun, begitu ia masuk ke dalam, semua orang menatapnya. Style baju, sepatu, dan juga topinya yang elegan dan juga mewah itu mampu menarik perhatian banyak orang yang membuat dirinya sendiri merasa heran dengan orang-orang di sekitarnya.

Tak hanya itu, Devan pun terkejut dengan sosok gadis yang tengah mengambil banyak perhatian orang itu.

Namun, tiba-tiba saja gadis itu menghampiri Devan dan membuat semua orang kembali terdiam.

“Pak Devan?” panggil Azura.

Devan menelan ludahnya karena terkejut. Aneh, itu yang ia pikirkan mengenai gadis yang sedang berhadapan dengannya itu. Devan kembali duduk, kali ini ia benar-benar frustasi dibuatnya.

“Hello.” Azura memanggil kembali. “Anda Pak Devan bukan?” Azura bertanya memastikan.

Devan tak bicara, ia hanya mengangguk karena sudah merasa lelah dengan penampilan Azura calon istrinya itu.

Namun, tiba-tiba ia kembali duduk dengan sigap. Ia berusaha menetralkan pikirannya dan mengalihkan rasa gengsinya itu.

“Silahkan duduk, nona Azura!”

Azura pun duduk, kali ini ia dibuat takjub oleh Devan yang hendak membantunya mengeluarkan kursinya.

“Oh iya, bicara sama saya santai aja ya. Seperti sebelumnya, lo gue aja oke.” Devan bicara dengan nada pelan.

Azura mengangguk. It's okay.” Ia menjawab sesingkat mungkin.

“Silahkan pesan minumannya,” ucap Devan sambil menyerahkan buku menu padanya.

“Susu aja,” ucap Azura dengan singkat.

Devan membulatkan matanya. “Susu? Tempat sebagus ini lo pilih susu?” tanya Devan dengan heran.

Azura mengangguk. “Iya susu, terus kenapa? Masalah buat lo?”

“Iya enggak sih, cuma aneh aja.”

“Ya suka-suka gue lah, lagian yang minum juga gue bukan lo,” ujar Azura menjelaskan.

Devan menggebrak mejanya. “Oke baiklah, tapi sebelumnya boleh gue tanya?” Devan bertanya.

“Lo mau tanya apa?” Azura bertanya balik.

“Lo habis ada acara apa? Kenapa sampai pake baju dan juga topi besar seperti itu?” tanya Devan.

Azura menggeleng. “Enggak kok, gue gak habis ada acara apa-apa, kan gue ke sini buat ketemu lo.” Azura menjelaskan maksud dari pertanyaan Devan barusan.

Lagi dan lagi, Devan dibuat frustasi dengan jawabannya barusan. “Wow, menarik sekali jawabanmu,” ucap Devan sambil bertepuk tangan.

Namun, Azura hanya diam dan mengabaikannya. Selang beberapa menit, mereka berdua saling diam dan mengalihkan pandangan mereka masing-masing.

Tapi, tiba-tiba saja Azura teringat dengan parfum yang ia kenakan itu. Lalu, ia menatap tajam wajah Devan dengan saksama, tapi tetap saja ia tak melihat reaksi apapun darinya.

“Apa lo liat-liat? Ganteng ya?” Devan meledek gadis yang sedang menatapnya itu.

Azura mengabaikannya lagi. “Oh iya, lo gak cium bau apa-apa gitu? Misalnya, parfum gue?” Azura bertanya.

Devan menggeleng. “Enggak,” jawab Devan dengan singkat.

Azura menghela napasnya. “Ci, lo bilang ini ampuh, tapi kenapa dia gak pingsan?” batin Azura bicara.

Devan mengetuk meja dengan garpu yang ia pegang. “Oke, langsung ke intinya aja. Gue di sini, ingin melakukan perjanjian besar sama lo,” ujar Devan menjelaskan.

“Perjanjian besar? Perjanjian macam apa?”

“Pernikahan.”

Azura berdiri lalu menggebrak mejanya. “Dengar ya, mendingan lo tolak aja, karena gue gak mau nikah sama lo.”

“Azura, dengar, hotel gue itu,–”

Belum sempat ia bicara, Azura menyiramkan susu padanya. Devan terdiam, ia menahan emosinya. Semua orang menatap ke arah mereka berdua.

“Dengar ya, jangan bicarakan hotel sama gue. Karena, sekeras apapun alasan lo, yang jelas gue gak mau nikah sama lo, paham?

Azura pun mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Devan.

Devan mengelap wajahnya. “Susu? Dia menyiram wajahku dengan susu?” Ia bicara sambil mengelap seluruh wajahnya.

“Wow, Azura. Lo membuat gue, merubah rencana yang sudah gue susun sejak semalam.” Devan tersenyum dengan sinis.

Tak lama kemudian, Devan pergi menyusul Azura. Sebelum Azura naik ke mobil, Devan menarik tangannya lebih dulu. Namun, Azura melepaskannya.

“Apa lagi sih? Belum jelas jawaban gue?” Azura bertanya dengan nada tak bersahabat.

“Jelas kok, malah sangat jelas,” jawab Devan.

“Terus, lo mau apa lagi?”

“Gue cuma mau bilang. Thanks ya, gara-gara kejadian barusan, niat gue juga jadi berubah.”

“Apa? Ber-,”

Belum sempat bertanya, namun Devan sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.

“Wah, menyebalkan sekali,” ucap Azura dengan kesal sambil memukul kaca mobil milik orang.

Karena Citra sudah pergi, Azura yang kesal ia pun langsung pergi mencari taksi.

Begitulah hari mereka, sekeras apapun mereka saling menolak, takkan ada yang bisa melawan takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk mereka. Meskipun, pembicaraannya berakhir dengan pertengkaran, bukan berarti hal itu akhir dari kisah mereka.

Jadi, rencana apakah yang ingin Devan ubah? Dan kenapa ia ingin merubahnya.

© axcelineee Oleh Titi.