Garis takdir.

Devan memijat keningnya dengan frustasi. Sementara, Fikri ia terus melihat ke arah pintu masuk.

“Fik, kayaknya gue udah stress duluan dah,” ucap Devan dengan pasrah sambil memainkan garpu yang ia pegang.

Mendengar keluhan Devan, Fikri hanya tertawa dengan pelan tanpa sepengetahuan dari Devan.

“Ada mobil masuk tuh, mungkinkah dia Nona Azura?” ucap Fikri. Tak lama kemudian, Fikri pun berlari menuju pintu masuk untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar adanya.

Namun, dugaannya sedikit ragu. Ia melihat dua orang gadis datang bersamaan dari mobil yang sama.

“Sebentar, kok dua cewek? Apa mungkin asistennya? Entahlah, yang penting gue harus pergi dari sini dulu,” ucap Fikri sambil meremukkan cup yang ia pegang itu.

“Dev, gue cabut dulu ya, ceweknya udah dateng. Gue pinjem mobilnya dulu, oke.” Fikri mengambil kunci dan juga topi miliknya yang Devan kenakan, lalu pergi dan berlari secepat mungkin meninggalkan kafe.

Devan membulatkan matanya dengan terkejut sambil menatap kepergian Fikri dengan penuh keheranan.

Sementara Azura, ia masih berada di dalam mobil dan meyakinkan hatinya itu.

“Ra, gak usah tegang oke,” ujar Citra menenangkan diri temannya.

Azura menghela napasnya dengan pelan. “Ci, doain gue oke.”

Citra mengangguk. “Pasti dong. Sekarang, mending lo pergi.”

Azura menghela napasnya lagi, kemudian pergi ke dalam kafe. Namun, begitu ia masuk ke dalam, semua orang menatapnya. Style baju, sepatu, dan juga topinya yang elegan dan juga mewah itu mampu menarik perhatian banyak orang yang membuat dirinya sendiri merasa heran dengan orang-orang di sekitarnya.

Tak hanya itu, Devan pun terkejut dengan sosok gadis yang tengah mengambil banyak perhatian orang itu.

Namun, tiba-tiba saja gadis itu menghampiri Devan dan membuat semua orang kembali terdiam.

“Pak Devan?” panggil Azura.

Devan menelan ludahnya karena terkejut. Aneh, itu yang ia pikirkan mengenai gadis yang sedang berhadapan dengannya itu. Devan kembali duduk, kali ini ia benar-benar frustasi dibuatnya.

“Hello.” Azura memanggil kembali. “Anda Pak Devan bukan?” Azura bertanya memastikan.

Devan tak bicara, ia hanya mengangguk karena sudah merasa lelah dengan penampilan Azura calon istrinya itu.

Namun, tiba-tiba ia kembali duduk dengan sigap. Ia berusaha menetralkan pikirannya dan mengalihkan rasa gengsinya itu.

“Silahkan duduk, nona Azura!”

Azura pun duduk, kali ini ia dibuat takjub oleh Devan yang hendak membantunya mengeluarkan kursinya.

“Oh iya, bicara sama saya santai aja ya. Seperti sebelumnya, lo gue aja oke.” Devan bicara dengan nada pelan.

Azura mengangguk. It's okay.” Ia menjawab sesingkat mungkin.

“Silahkan pesan minumannya,” ucap Devan sambil menyerahkan buku menu padanya.

“Susu aja,” ucap Azura dengan singkat.

Devan membulatkan matanya. “Susu? Tempat sebagus ini lo pilih susu?” tanya Devan dengan heran.

Azura mengangguk. “Iya susu, terus kenapa? Masalah buat lo?”

“Iya enggak sih, cuma aneh aja.”

“Ya suka-suka gue lah, lagian yang minum juga gue bukan lo,” ujar Azura menjelaskan.

Devan menggebrak mejanya. “Oke baiklah, tapi sebelumnya boleh gue tanya?” Devan bertanya.

“Lo mau tanya apa?” Azura bertanya balik.

“Lo habis ada acara apa? Kenapa sampai pake baju dan juga topi besar seperti itu?” tanya Devan.

Azura menggeleng. “Enggak kok, gue gak habis ada acara apa-apa, kan gue ke sini buat ketemu lo.” Azura menjelaskan maksud dari pertanyaan Devan barusan.

Lagi dan lagi, Devan dibuat frustasi dengan jawabannya barusan. “Wow, menarik sekali jawabanmu,” ucap Devan sambil bertepuk tangan.

Namun, Azura hanya diam dan mengabaikannya. Selang beberapa menit, mereka berdua saling diam dan mengalihkan pandangan mereka masing-masing.

Tapi, tiba-tiba saja Azura teringat dengan parfum yang ia kenakan itu. Lalu, ia menatap tajam wajah Devan dengan saksama, tapi tetap saja ia tak melihat reaksi apapun darinya.

“Apa lo liat-liat? Ganteng ya?” Devan meledek gadis yang sedang menatapnya itu.

Azura mengabaikannya lagi. “Oh iya, lo gak cium bau apa-apa gitu? Misalnya, parfum gue?” Azura bertanya.

Devan menggeleng. “Enggak,” jawab Devan dengan singkat.

Azura menghela napasnya. “Ci, lo bilang ini ampuh, tapi kenapa dia gak pingsan?” batin Azura bicara.

Devan mengetuk meja dengan garpu yang ia pegang. “Oke, langsung ke intinya aja. Gue di sini, ingin melakukan perjanjian besar sama lo,” ujar Devan menjelaskan.

“Perjanjian besar? Perjanjian macam apa?”

“Pernikahan.”

Azura berdiri lalu menggebrak mejanya. “Dengar ya, mendingan lo tolak aja, karena gue gak mau nikah sama lo.”

“Azura, dengar, hotel gue itu,–”

Belum sempat ia bicara, Azura menyiramkan susu padanya. Devan terdiam, ia menahan emosinya. Semua orang menatap ke arah mereka berdua.

“Dengar ya, jangan bicarakan hotel sama gue. Karena, sekeras apapun alasan lo, yang jelas gue gak mau nikah sama lo, paham?

Azura pun mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Devan.

Devan mengelap wajahnya. “Susu? Dia menyiram wajahku dengan susu?” Ia bicara sambil mengelap seluruh wajahnya.

“Wow, Azura. Lo membuat gue, merubah rencana yang sudah gue susun sejak semalam.” Devan tersenyum dengan sinis.

Tak lama kemudian, Devan pergi menyusul Azura. Sebelum Azura naik ke mobil, Devan menarik tangannya lebih dulu. Namun, Azura melepaskannya.

“Apa lagi sih? Belum jelas jawaban gue?” Azura bertanya dengan nada tak bersahabat.

“Jelas kok, malah sangat jelas,” jawab Devan.

“Terus, lo mau apa lagi?”

“Gue cuma mau bilang. Thanks ya, gara-gara kejadian barusan, niat gue juga jadi berubah.”

“Apa? Ber-,”

Belum sempat bertanya, namun Devan sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.

“Wah, menyebalkan sekali,” ucap Azura dengan kesal sambil memukul kaca mobil milik orang.

Karena Citra sudah pergi, Azura yang kesal ia pun langsung pergi mencari taksi.

Begitulah hari mereka, sekeras apapun mereka saling menolak, takkan ada yang bisa melawan takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk mereka. Meskipun, pembicaraannya berakhir dengan pertengkaran, bukan berarti hal itu akhir dari kisah mereka.

Jadi, rencana apakah yang ingin Devan ubah? Dan kenapa ia ingin merubahnya.

© axcelineee Oleh Titi.