Gadis dengan pakaian aneh.
Aneh. Itu yang Devan nilai begitu ia bertemu dengannya. Mata pria itu mengernyit kebingungan dan tubuhnya pun terpaku diam saat Azura memanggil namanya.
“Hello, dengan Pak Devan?” sapa Azura.
Devan tak menjawab panggilannya. Ia hanya bisa menatap gadis itu dalam-dalam. Bola matanya perlahan menelusuri tubuh gadis itu. Sampai akhirnya Devan pun terdiam kembali. Benar, ia diam karena tak tahu harus berkata apalagi mengenai penampilan gadis itu.
Azura mengernyit heran. “Kok diem aja sih? Dia Pak Devan bukan sih?” batin gadis itu bertanya-tanya.
Selang beberapa menit, gadis itu menyapanya kembali. Namun, tetap saja tak ada respon apapun dari pria itu.
“Ihh, nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura kesal.
Azura tak bisa diam begitu saja melihat pria itu mencampakkannya. Ia pun memutuskan untuk duduk tanpa izin dari pria itu. Kemudian, ia mendekati telinga pria itu dan menyapanya lagi dengan suara pelan bagaikan bisikan setan yang menyesatkan manusia.
“Huft....” Azura menghela napasnya.
“WOI!” bentak Azura sembari menggebrak mejanya.
Devan pun tersadar akibat gebrakan mejanya yang begitu kencang. Ia mengalihkan pandangannya, kemudian menatap gadis itu kembali dengan wajah penuh terkejut.
“Maaf, Anda siapa ya?” tanya Devan penuh heran.
Azura menjabat tangannya. “Azura, itu nama saya. Kalau boleh tau, Anda Pak Devan bukan ya?”
Devan mengabaikan uluran tangan Azura, dan membuat gadis itu mengernyit kesal.
“Iya, saya Devan. Jadi, Anda yang namanya Azura?”
Azura mengangguk.
Devan melihat-lihat sekelilingnya, kemudian matanya perlahan menatap gadis itu. Ia sadar, bahwa semua orang sedang membicarakan gadis itu. Devan menghela napas lagi, kemudian memijat keningnya dengan frustasi. Melihat Devan yang sudah frustasi, Azura pun ikut melihat-lihat sekelilingnya. Namun, tak lagi heran baginya. Mengapa tidak? Jelas sekali, Azura sadar bahwa sedari ia masuk ke kafe semua orang membicarakan pakaian dan juga model rambutnya itu.
Gadis itu tersenyum tipis, kemudian tertawa hingga membuat Devan mendongak dan menatap wajahnya lekat-lekat.
Azura terdiam, sekujur tubuhnya mendadak dingin begitu ia ditatap olehnya.
“Pak, tolong jangan tatap saya kayak gitu ya! Santai aja Pak, saya nggak gigit kok,” ucap Azura mencoba mengalihkan pandangannya.
Devan menyilang kakinya, hingga kaki kanan menduduki kaki kirinya. “It's okay, berarti kita bicara santai aja ya. Dan panggilnya seperti sebelumnya aja, oke.”
Azura mengangguk kembali.
Gadis itu menatap wajah pria itu dalam-dalam. Ia pun menelusuri setiap detail tubuh pria itu, hingga dua kata yang terlintas di otaknya. Tampan dan seksi, bagi Azura pria itu nampak tampan dengan style bajunya yang amat rapi. Tak hanya itu, ia sangat menyukai rambutnya yang hitam mengkilat dan juga ototnya yang membuat pria itu terlihat seksi.
Devan menghela napasnya lagi. “Gak usah diliat-liat, gue juga tau kali kalo gue ganteng.”
Azura tersadarkan begitu dirinya terpergok oleh kasat mata Devan.
“Maaf, tadi lo ngomong apa?”
Devan menggeleng.
“Huft, sumpah nyebelin banget sih nih cowok,” batin Azura.
Devan menegakkan tubuhnya, kemudian menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Sorry Azura, boleh gue tanya?”
“Iya, silahkan saja, lo mau nanya apa?”
“Lo habis dari acara apa ya?”
Azura menggeleng. “Enggak, gue gak habis dari acara apa-apa. Gue kan ke sini emang mau ketemu sama lo.”
Devan menghela napasnya lagi. “Terus, ngapain lo pakai baju elsa dan dikepang gitu rambutnya?”
“Biar cantik lah,” jawab Azura.
“Cantik lo bilang? Cantik dari mananya coba, rambut dikepang kayak gitu, udah gitu make-up lo tuh ketebalan. Lo ngaca nggak sih?”
“Iya ngaca lah, ya kali gue gak ngaca.”
“Terus, kenapa jadi jelek kayak gitu?” Devan bertanya.
“Enak aja jelek, ini tuh model. Lo tau model gak sih? Make-up tebal, rambut dikepang, dan juga baju elsa ini adalah suatu imagination. Yang di mana, imagination ini diciptakan oleh seorang Azura Kimelia Putri,” ujar gadis itu menjelaskan.
“Oh, jadi, lo ceritanya lagi cosplay jadi elsa?”
“Ter-se-rah,” jawab gadis itu dengan mengeja setiap katanya.
Devan pun terpaksa harus menahan emosinya mendengar jawaban Azura barusan. Tak hanya itu, ia pun harus menahan emosinya karena ia benar-benar dibuat malu oleh pakaian Azura saat ini.
“Yaudah, kalo gitu silahkan lo pilih minumannya dan pesan.” Devan menyerahkan buku menu kafe yang ada di tangannya.
Azura membuka buku itu dan membacanya, mata gadis itu pun melihat-lihat isi buku tersebut. Dan setelah ia memilih susu, Devan pun segera memanggil pelayan kafe, kemudian memesannya. Selang beberapa menit, pelayan itu kembali dengan membawa pesanan Azura lalu pergi melayani pembeli lainnya.
“Oke, karena gue gak mau basa-basi. Jadi, gue langsung ke intinya aja ya,” ucap Devan sambil menyerahkan berkas pada Azura.
Azura mengernyit bingung. “Apa ini?”
“Buka lah!”
Azura membuka berkas itu, kemudian membacanya satu persatu.
“Gila lo ya?”
Devan menggeleng seperti tak tahu apa-apa. “Entahlah.”
“Sebenernya mau lo apa sih?” tanya Azura.
“Jadi, gue datang ke sini itu dengan tuj-.” Belum sempat ia bicara, gebrakan meja pun terpaksa membuatnya diam.
Devan berdiri. Ia mengernyit dan menatap gadis itu kebingungan. Sementara gadis itu menatap tajam wajah Devan dalam-dalam.
“Bisa nggak sih lo batalin aja? Denger ya, sampai kapanpun gue nggak akan mau nikah sama lo!” tegas Azura.
Devan mengambil napas dalam-dalam, kemudian ia hembuskan perlahan. “Azura, dengarkan say-.”
Lagi dan lagi Azura memotong pembicaraannya. Namun, kali ini berbeda. Siraman air susu Azura pada wajah Devan, membuat pria itu menghentikan omongannya.
“DENGER YA, SAUDARA DEVAN FERNANDEZ. SAMPAI KAPANPUN GUE NGGAK AKAN PERNAH MAU NIKAH SAMA LO!” tegas Azura sembari menyiram air susunya lagi, setelah itu ia pun pergi meninggalkannya.
Devan mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa. “Wah, this is milk? Dia nyiram wajah gue pake ini?” ucap Devan sambil menghirup aroma susu dari sapu tangannya.
“Liat aja tuh cewek, kalo ketemu lagi biar gue lakban tuh tangannya,” kesal Devan.
Sebelum Azura pergi terlalu jauh dan ia kehilangan jejaknya, Devan pun segera menyusul Azura dengan langkah begitu cepat. Benar, ia menemukan gadis itu dan mengejarnya. Devan pun dengan cepat menahan lengan gadis itu, hingga membuat Azura jatuh dalam dekapannya. Karena terkejut, dengan cepat Azura melepaskan pelukan pria itu.
Tapi, dengan cepat pula Devan meraih tangan Azura kembali. Namun, gadis itu menepisnya dengan sangat cepat. Selang beberapa menit, mata mereka pun bertemu. Azura mengernyit heran menatap wajah pria itu, pasalnya baru kali ini Devan agak sulit ditebak menurutnya. Sikap santainya Devan sekarang benar-benar membuat gadis itu terus bertanya-tanya, karena sedari tadi pria itu tak menunjukkan bahwa dirinya kesal ataupun marah terhadapnya.
“Lo mau apa lagi sih?”
“Enggak mau apa-apa kok. Gue cuma mau bilang thanks aja sama lo,” ucap Devan dengan nada santai.
“Thanks?” Azura mengernyit bingung.
“Iya, thanks. Karena ulah lo barusan, setidaknya muka gue jadi seger banget.”
“Seger banget?” bingung Azura.
“Iya, saking segernya muka gue jadi berasa lagi maskeran.” Devan bicara dengan segenap emosi yang tertahan dibenaknya.
Azura mengernyit.
“Dev-,” belum sempat Azuranbicara, pria itu sudah pergi lebih dulu meninggalkannya.
“Wah, bener-bener tuh cowok, baru juga gue mau ngomong, udah main pergi aja tuh orang,” kesal Azura.
“Emang nyebelin banget sih tuh cowok. Dateng udah main pegang-pegang, pergi malah main nyelonong aja,” keluh gadis itu.
****
Begitulah pertemuan yang mereka lalui, keduanya menyimpan rasa tak suka satu sama lain. Namun, sekeras apapun mereka menolak, takkan ada yang bisa menandingi kuasa Tuhan. Jadi, akankah Azura menerima perjodohannya itu? Lantas, apakah Devan akan menerimanya juga? Jika iya, hal apakah yang membuat Devan menerima perjodohan itu?
© axcelineee. Titi.