Kalah Taruhan.
Mengingat dirinya kalah taruhan dari sang adik. Azura pun dengan cepat memesan makanan dan juga minuman untuk adiknya itu lewat grab food.
Azura berdiri di depan cermin sambil memakai skincare rutin malamnya. “Tuhan, mengapa Engkau memihak adikku dan bukan diriku?” kata Azura dengan gaya bicaranya bak drama kolosal buatannya itu.
Bi Imas yang mendengarnya pun ikut tertawa melihat tingkah lakunya itu. “Si Neng teh aya-aya wae, ngomongnya make di nada kitu,” ujar Bi Imas.
Azura cengengesan. “Gimana Bi, aku cocok kan jadi bintang film gitu?”
“Cocok atuh, Neng,” kata Bi Imas sambil menjulurkan dua ibu jarinya.
Azura menepuk-nepuk bahu sang Bibi dengan geli. “Ah, si Bibi teh. Azura kan jadi malu.”
Bi Imas terkekeh. “Ehm, Neng, kalo kitu Bibi pamitan ke dapur heula, nya.”
Azura mengangguk.
Mendengar klakson Mamang grab, Azura pun bergegas turun ke bawah untuk mengambil pesanannya.
“Maaf, Mba. Apa benar ini rumahnya Mba Tiny Winy Bity?”
Azura mengangguk dengan cepat.
“Mba nya beneran Mba Tiny Winy Bity?”
“Beneran, Pak, masa saya bohong sih.”
“Tapi, saya pernah liat Mba di gedung mewah gitu deh. Terus pakaian Mba juga kayak pimpinan gitu, apalagi di belakangnya ada banyak bodyguard dan juga asistennya gitu,” ujar Mamang grab.
“Salah orang kali,” kata gadis itu sambil membayar biaya pesanannya.
“Oh gitu, yowes kalo gitu selamat menikmati pesanannya ya, Mba,” ucap Mamang grab. Kemudian pergi meninggalkan kediaman rumah Azura.
***
Usai mengambil pesanan, Azura pun bergegas pergi menuju kamar Dika sembari membawa sekantong plastik berisikan makanan dan juga minuman untuknya itu.
Ceklek!
“Astaghfirullahaladzim,” ucap Azura sembari membalikkan badannya.
Dika yang ikut terkejut, dengan cepat Ia pun memakai pakaiannya itu.
“Udah belum?” tanya Azura dengan nada tinggi.
“Udeh-udeh. Lagian masuk kamar orang bukannya ketuk pintu dulu malah main nyelonong aja.”
Azura berbalik. Namun, begitu melihat wajah Adiknya yang kesal karena ulahnya barusan, Azura pun langsung meletakkan kantong plastiknya itu.
Dika mengernyit bingung. Ia pun segera membuka kantong plastiknya itu. Ia langsung mengeluarkan makanan dan juga minumannya itu.
“Starbucks, pizza, burger, kfc, and spaghetti? Sebanyak ini untuk aku? Kakak gak salah?”
Azura menggeleng.
“Lah, terus semua ini apa dong?”
“Hukuman gue lah, kan gue kalah taruhan.”
“APA? JADI, BENERAN KAK DEVAN NERIMA KAKAK? PADAHAL AKU CUMA ASAL NEBAK AJA,” tanya Dika dengan meninggikan suaranya.
Azura mengangguk lagi.
“Terus, Kakak beneran mau nikah sama dia?”
“Iya mau gimana lagi? Sekalipun Kakak nolak juga nggak akan ada yang dengerin.”
Dika menghela napasnya, kemudian mengelus punggung sang Kakak.
“Sabar ya, Kak. Pokoknya Kakak harus sehat, jangan dipikirin ya.”
Azura menepis tangan sang Adik. “Bentar deh, kamu kenapa sih, Dik? Tiap Kakak kena masalah, pasti kamu selalu bilang 'jaga kesehatan ya, Kak. Jangan capek-capek ya, Kak.' Kenapa sih?” tanya gadis itu.
Dika terdiam.
Azura menepuk tangannya. “Heh! Ditanyain kok diem.”
Dika tersadar. “Enggak apa-apa kok, Kak. Emangnya salah ya aku ngomong gitu?”
“Ya, enggak sih. Tapi aneh aja, kamu kayak keliatan nyembunyiin sesuatu dari Kakak soalnya.”
“Ya, enggak lah, Kak.”
“Yaudah, di makan ya,” kata Azura sambil menepuk bahunya.
Dika mengangguk.
Azura yang hendak pergi, Dika pun meraih tangan Kakaknya itu.
“Kenapa, Dik?”
“Dika cuma mau bilang, hati-hati dengan Kak Devan. Dia itu punya tiga topeng yang nggak semua orang tau,” ujar Dika memberitahu.
Azura mengernyit.
“Dan juga, dia itu nggak se-nyebelin yang Kakak kira. Tapi, dia juga nggak sesedih yang Kakak dan Kak Citra pikirkan. Yang jelas, satu hal yang harus Kakak tau, kalo Kak Devan itu bukan CEO sungguhan.”
“Bentar deh, maksud kamu apa, Dik? Topeng dan bukan CEO sungguhan itu apa?” Gadis itu bertanya dengan penuh penasaran.
“Nanti Kakak juga tau kok.”
“Tap-,”
Belum sempat bicara, Dika pun menutup mulut Kakaknya itu.
“Satu hal lagi, Kak. Dia itu punya sekelompok orang-orang penentang dan dia pemimpinnya. Dia itu, bad boy berkedok CEO. Jadi, hati-hati aja sama dia. Karena dia bisa aja berbahaya, bahkan dia lebih daripada sebutannya yang bad boy.”
“Kamu kok tau banyak tentang dia sih?”
“Kan, Dika udah bilang. Dika itu udah kenal lama sama Kak Devan.”
“Enggak, bukan itu. Tapi, kamu taunya detail banget. Apalagi sampai ngatain dia bad boy.”
Dika tersenyum sinis. “Iya tau dong, dia kan sering terpergok sama aku soalnya. Bahkan dari jaman aku SMA,” ujar Dika menjelaskan.
Azura menghela napasnya. “Dik, sejak SMA? Kamu sering bolos?” tanyanya.
Dika terdiam tak tau harus menjawab apa mendengar pertanyaan Kakaknya barusan.
“Dik, jawab!” titah Azura yang tak bisa Ia abaikan lagi.
“Kalo iya kenapa? Mau bilang ke Papa, hah? Silahkan aja, lagian ngapain Dika sekolah sama SMK yang nggak Dika suka? Kak, SMK perkantoran itu bukan jurusan yang Dika minat,” jujur Dika dengan air matanya yang berlinang.
Azura menghela napasnya lagi. “Astaghfirullahaladzim, kamu kenapa nggak bilang sih?”
Lagi dan lagi pria itu terdiam tak menjawabnya. Namun, diamnya Dika kali ini memang tak bisa Ia katakan padanya. Mengapa demikian? Apa alasannya Dika tak ingin menjawabnya.
“Dik, kok diem? Jawab dong!”
Tak ingin ketahuan oleh Kakaknya, pria itu pun pergi dan meninggalkan Kakaknya di kamar seorang diri. Ia keluar dengan segenap air matanya yang mengalir deras di permukaan wajahnya itu. Azura mengernyit bingung. Namun, seketika Ia melihat reaksi Adiknya, Azura yakin bahwa ada sesuatu yang benar-benar disembunyikan Adiknya itu.
***
Dika mengendarai motornya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Hal itu pun membuat Devan yang melihat dari atas jendela kamarnya pun mengernyit kebingungan. Tapi, Devan tau ke mana anak itu pergi terburu-buru seperti yang Ia lihat barusan.
“Kak, Dika minta maaf. Maafin Dika, tapi, Dika beneran nggak bisa kasih tau ini semua ke Kakak sekarang.”
© axcelineee Titi.