jjaewookims

Devan memijat keningnya dengan frustasi. Sementara, Fikri ia terus melihat ke arah pintu masuk.

“Fik, kayaknya gue udah stress duluan dah,” ucap Devan dengan pasrah sambil memainkan garpu yang ia pegang.

Mendengar keluhan Devan, Fikri hanya tertawa dengan pelan tanpa sepengetahuan dari Devan.

“Ada mobil masuk tuh, mungkinkah dia Nona Azura?” ucap Fikri. Tak lama kemudian, Fikri pun berlari menuju pintu masuk untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar adanya.

Namun, dugaannya sedikit ragu. Ia melihat dua orang gadis datang bersamaan dari mobil yang sama.

“Sebentar, kok dua cewek? Apa mungkin asistennya? Entahlah, yang penting gue harus pergi dari sini dulu,” ucap Fikri sambil meremukkan cup yang ia pegang itu.

“Dev, gue cabut dulu ya, ceweknya udah dateng. Gue pinjem mobilnya dulu, oke.” Fikri mengambil kunci dan juga topi miliknya yang Devan kenakan, lalu pergi dan berlari secepat mungkin meninggalkan kafe.

Devan membulatkan matanya dengan terkejut sambil menatap kepergian Fikri dengan penuh keheranan.

Sementara Azura, ia masih berada di dalam mobil dan meyakinkan hatinya itu.

“Ra, gak usah tegang oke,” ujar Citra menenangkan diri temannya.

Azura menghela napasnya dengan pelan. *“Ci, doain gue oke.”

Citra mengangguk. *“Pasti dong. Sekarang, mending lo pergi.”

Azura menghela napasnya lagi, kemudian pergi ke dalam kafe. Namun, begitu ia masuk ke dalam, semua orang menatapnya. Style baju, sepatu, dan juga topinya yang elegan dan juga mewah itu mampu menarik perhatian banyak orang yang membuat dirinya sendiri merasa heran dengan orang-orang di sekitarnya.

Tak hanya itu, Devan pun terkejut dengan sosok gadis yang tengah mengambil banyak perhatian orang itu.

Namun, tiba-tiba saja gadis itu menghampiri Devan dan membuat semua orang kembali terdiam.

“Pak Devan?” panggil Azura.

Devan menelan ludahnya karena terkejut. Aneh, itu yang ia pikirkan mengenai gadis yang sedang berhadapan dengannya itu. Devan kembali duduk, kali ini ia benar-benar frustasi dibuatnya.

“Hello.” Azura memanggil kembali. “Anda Pak Devan bukan?” Azura bertanya memastikan.

Devan tak bicara, ia hanya mengangguk karena sudah merasa lelah dengan penampilan Azura calon istrinya itu.

Namun, tiba-tiba ia kembali duduk dengan sigap. Ia berusaha menetralkan pikirannya dan mengalihkan rasa gengsinya itu.

“Silahkan duduk, nona Azura!”

Azura pun duduk, kali ini ia dibuat takjub oleh Devan yang hendak membantunya mengeluarkan kursinya.

“Oh iya, bicara sama saya santai aja ya. Seperti sebelumnya, lo gue aja oke.” Devan bicara dengan nada pelan.

Azura mengangguk. It's okay.” Ia menjawab sesingkat mungkin.

“Silahkan pesan minumannya,” ucap Devan sambil menyerahkan buku menu padanya.

“Susu aja,” ucap Azura dengan singkat.

Devan membulatkan matanya. “Susu? Tempat sebagus ini lo pilih susu?” tanya Devan dengan heran.

Azura mengangguk. “Iya susu, terus kenapa? Masalah buat lo?”

“Iya enggak sih, cuma aneh aja.”

“Ya suka-suka gue lah, lagian yang minum juga gue bukan lo,” ujar Azura menjelaskan.

Devan menggebrak mejanya. “Oke baiklah, tapi sebelumnya boleh gue tanya?” Devan bertanya.

“Lo mau tanya apa?” Azura bertanya balik.

“Lo habis ada acara apa? Kenapa sampai pake baju dan juga topi besar seperti itu?” tanya Devan.

Azura menggeleng. “Enggak kok, gue gak habis ada acara apa-apa, kan gue ke sini buat ketemu lo.” Azura menjelaskan maksud dari pertanyaan Devan barusan.

Lagi dan lagi, Devan dibuat frustasi dengan jawabannya barusan. “Wow, menarik sekali jawabanmu,” ucap Devan sambil bertepuk tangan.

Namun, Azura hanya diam dan mengabaikannya. Selang beberapa menit, mereka berdua saling diam dan mengalihkan pandangan mereka masing-masing.

Tapi, tiba-tiba saja Azura teringat dengan parfum yang ia kenakan itu. Lalu, ia menatap tajam wajah Devan dengan saksama, tapi tetap saja ia tak melihat reaksi apapun darinya.

“Apa lo liat-liat? Ganteng ya?” Devan meledek gadis yang sedang menatapnya itu.

Azura mengabaikannya lagi. “Oh iya, lo gak cium bau apa-apa gitu? Misalnya, parfum gue?” Azura bertanya.

Devan menggeleng. “Enggak,” jawab Devan dengan singkat.

Azura menghela napasnya. “Ci, lo bilang ini ampuh, tapi kenapa dia gak pingsan?” batin Azura bicara.

Devan mengetuk meja dengan garpu yang ia pegang. “Oke, langsung ke intinya aja. Gue di sini, ingin melakukan perjanjian besar sama lo,” ujar Devan menjelaskan.

“Perjanjian besar? Perjanjian macam apa?”

“Pernikahan.”

Azura berdiri lalu menggebrak mejanya. “Dengar ya, mendingan lo tolak aja, karena gue gak mau nikah sama lo.”

“Azura, dengar, hotel gue itu,–”

Belum sempat ia bicara, Azura menyiramkan susu padanya. Devan terdiam, ia menahan emosinya. Semua orang menatap ke arah mereka berdua.

“Dengar ya, jangan bicarakan hotel sama gue. Karena, sekeras apapun alasan lo, yang jelas gue gak mau nikah sama lo, paham?

Azura pun mengambil tasnya, lalu pergi meninggalkan Devan.

Devan mengelap wajahnya. “Susu? Dia menyiram wajahku dengan susu?” Ia bicara sambil mengelap seluruh wajahnya.

“Wow, Azura. Lo membuat gue, merubah rencana yang sudah gue susun sejak semalam.” Devan tersenyum dengan sinis.

Tak lama kemudian, Devan pergi menyusul Azura. Sebelum Azura naik ke mobil, Devan menarik tangannya lebih dulu. Namun, Azura melepaskannya.

“Apa lagi sih? Belum jelas jawaban gue?” Azura bertanya dengan nada tak bersahabat.

“Jelas kok, malah sangat jelas,” jawab Devan.

“Terus, lo mau apa lagi?”

“Gue cuma mau bilang. Thanks ya, gara-gara kejadian barusan, niat gue juga jadi berubah.”

“Apa? Ber-,”

Belum sempat bertanya, namun Devan sudah pergi meninggalkannya lebih dulu.

“Wah, menyebalkan sekali,” ucap Azura dengan kesal sambil memukul kaca mobil milik orang.

Karena Citra sudah pergi, Azura yang kesal ia pun langsung pergi mencari taksi.

Begitulah hari mereka, sekeras apapun mereka saling menolak, takkan ada yang bisa melawan takdir yang telah Tuhan tetapkan untuk mereka. Meskipun, pembicaraannya berakhir dengan pertengkaran, bukan berarti hal itu akhir dari kisah mereka.

Jadi, rencana apakah yang ingin Devan ubah? Dan kenapa ia ingin merubahnya.

© axcelineee Oleh Titi.

cw // harsh word


Raka menepuk pundak milik Jevan. “Kenapa nangis? Anak laki-laki gak boleh nangis loh,” ujar Raka mencoba menenangkannya.

Jevan menggeleng. “Ayah kapan jemput aku?”

“Apa? Kamu ngomong apa sih?” tanya Raka.

Jevan menundukkan kepalanya.

“Hei, jangan sedih dong. Aku kan cuma nanya, lagian aku gak paham sama yang kamu lakukan itu. Ngomong coba!”

“Dia gak bisa bicara, Nak,” sambung Johan tiba-tiba.

“Hah? Gak bisa bicara?” batin Raka bertanya.

Setibanya Johan di panti asuhan, Jevan langsung bergegas memeluk erat tubuhnya. Ia tersenyum melihat teman Ayahnya ada di hadapannya.

Johan mengelus punggung Jevan. “Jevan baik-baik saja, Nak? Jevan pasti takut ya, Jevan pasti kangen Ayah ya?” Johan bertanya dengan air mata yang berlinang-linang.

Jevan mengangguk.

“Om, maksudnya gak bisa bicara apa?” tanya Raka tiba-tiba.

Johan mengelus kepala Raka. “Dia bisu, Nak.”

“Ups,” ucap Raka sambil menutup mulut dengan tangannya. “Maaf ya, aku gak tau kamu bisu,” ujar Raka menundukkan kepalanya.

Jevan tersenyum, lalu mengangguk.

Raka membisiki Johan. “Om, dia ngomong apaan?”

Johan tertawa kecil. “Dia bilang, 'gak apa-apa kok, lagian kan kamu gak tau kalo aku bisu,' itu katanya. Jadi, Nak Raka jangan merasa bersalah ya,” ujar Johan menjelaskan.

“Oh gitu.”

“Oh iya, kalian udah saling kenal belum?” tanya Johan sambil merangkul mereka berdua.

Keduanya saling menggeleng. “Belum, Om,” ucap Raka.

Johan menghela napasnya. “Aish, kalian ini bagaimana sih, harusnya kenalan dong.”

“Nggak mau ah, dia nangis terus. Aku gak suka temen yang cengeng-an,” ujar Raka.

Jevan tersenyum sambil menghapus air matanya. Ia pun menjabat tangannya kepada Raka.

“Kamu mau salaman sama aku?” tanya Raka.

Johan terkekeh, sementara Jevan menepuk dahinya karena frustasi mendengar perkataan Raka barusan.

“Nak, dia mau kenalan sama kamu,” ujar Johan memberitahu.

Jevan tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Oh gitu, yaudah. Kenalin nama aku Raka Saputra, panggil aja Raka,” ujar Raka memperkenalkan diri sambil membalas tangannya. “Kalo nama kamu siapa?” Raka bertanya lagi.

Jevan mengambil satu batu kecil di dekat pot bunga, kemudian ia menulis namanya di tanah, 'JEVAN.'

Usai menulis namanya, ia menunjukan tulisan tersebut pada Raka.

Raka melangkah mendekatinya, lalu melihat tulisan tersebut. “J, e, v, a, n. Jevan, oh itu namanya,” batin Raka bicara.

“Halo Jevan, senang berteman denganmu.” Raka tersenyum lalu memeluk erat tubuhnya.

Johan yang melihatnya ia hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia.

“Jeff, akhirnya anak lo punya teman juga. Gue turut bahagia liatnya Jeff,” batin Johan bicara.

Setibanya di panti asuhan, Jeffry berlari dengan begitu kencang dan tak peduli pintu mobilnya masih terbuka lebar.

Jeffry memeluk erat Jevan lalu mengelus punggungnya. “Maafin Ayah karena terlambat datang ya, Nak,” ucap Jeffry sambil mengelus kepala Jevan.

“Jevan udah makan, Nak? Tidurnya enak gak? Kasurnya nyaman gak? Jevan ada yang sakit gak?” tanya Jeffry sambil meraba setiap tubuh putranya dan melihat-lihat apakah ada yang terluka.

Johan menepuk bahu temannya. “Jeff, ini panti asuhan bukan tempat pembuangan sampah Jeff. Gak usah panik gitu lah, lo gak liat dia baik-baik aja?”

Jeffry menghela napasnya. “Jo, lo tau betapa paniknya gue? Betapa cemasnya gue? Tiga hari bukan waktu yang bentar Jo, anak gue jauh dari gue selama itu Jo. Bayangin aja Jo, gimana gue gak panik coba,” ujar Jeffry memberitahu.

“Yelah-yelah,” ucap Johan dengan pasrah.

Jeffry menarik lengan Raka. “Nak, Ibu pantinya di mana?” tanya Jeffry.

“Di ruangan itu, Om,” ujar Raka menunjukkan ruangannya.

“Baiklah, kalo gitu Om titip Jevan dulu ya,” ucap Jeffry sambil mengelus kepalanya.

“Iya Om.”

Jeffry menepuk bahu Johan. “Jo, ayo Jo!” ajaknya.

Jeffry dan Johan pun langsung bergegas pergi ke ruangan Ibu panti. Sementara Jevan dan Raka, mereka hanya menunggu di bangku depan ruangan tersebut.

***

Jeffry dan Johan membuka pintunya. “Permisi, Bu,” ucap mereka sambil mengetuk pintunya.

Wa'alaikumussalam, silahkan masuk Pak.”

Johan menepuk pundaknya. “Anjir Jeffry, salam dulu weh.”

“Eh iya, assalamu'alaikum Bu,” ucap Jeffry dan Johan secara bersamaan.

“Wa'alaikumussalam,” jawab Ibu Ani. “Silahkan duduk Pak,” pinta Ibu Ani.

Jeffry dan Johan pun segera duduk.

“Ada keperluan apa Pak?” tanya Ibu Ani.

“Begini Bu, Ibu ingat dengan perempuan ini?” ucap Jeffry sambil menunjukkan foto sang istri.

“Oh iya ingat Pak.”

“Nah, jadi kedatangan saya ke sini. Saya ingin membawa anak saya lagi Bu dan juga saya ingin mengadopsi anak yang bernama Raka tuh Bu.”

“Heh, lo mau adopsi?” bisik Johan.

“Lo bisa diem dulu gak?” bisik Jeffry.

Jeffry tersenyum. “Jadi, gimana Bu?

“Oh, Bapak ini Ayahnya? Tapi kenapa istri bapak bawa anaknya ke sini ya?” tanya Ibu Ani.

“Biasa Bu, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” jawab Johan mendahului.

“Sok tau lo,” bisik Jeffry.

“Oh gitu ya, ya sudah Pak, silahkan dibawa pulang anaknya ya. Dan saya ingin mengingatkan saja, tolong lebih tegas kepada istrinya ya Pak,” ujar Ibu Ani.

“Boro-boro tegas, dia aja yang sering kena semprot istrinya,” batin Johan bicara.

Jeffry tersenyum. “Baik Bu, terima kasih atas nasihatnya.”

“Oh iya Pak, mengenai Raka. Silahkan Bapak tanya ke anaknya dulu mau atau tidaknya. Jika sudah, baru isi formulirnya ya Pak,” ucap Ibu Ani lalu memberikan formulir tersebut.

“Baik Bu.”

Jeffry dan Johan pun langsung kembali menemui mereka berdua, disusul Ibu panti di belakangnya.

***

“Jeff, gue aja yang isi formulirnya ya.” Johan mengambil kertas tersebut dari lengan Jeffry.

“Oke, thanks ya Jo.”

Mereka pun langsung bergegas menghampiri anak-anak.

“Jevan! Raka!” panggil Jeffry.

Mereka menengok lalu menghampiri Jeffry dan Johan.

“Kenapa Om?” tanya Raka.

“Nak, kamu mau ikut sama Om ke rumah gak? Jadi anaknya Om juga,” ucap Jeffry sambil memegang lengan Raka.

“Om mau adopsi aku?” tanya Raka.

“Iya benar, mau ya. Biar Jevan ada temannya,” ujar Jeffry memberitahu.

“Nggak ah Om, aku gak mau rebut Om dari Jevan.”

Jevan menepuk pundak Raka, lalu menggeleng.

“Om, dia ngomong apa?” tanya Raka.

Jeffry dan Johan terkekeh. “Dia bilang, 'kamu gak boleh ngomong kayak gitu,' itu katanya,” ujar Johan memberitahu.

“Gini aja deh, kalo Raka gak mau jadi anak Om gak apa-apa, tapi Om akan tetep adopsi kamu. Jadi, Raka bebas mau panggil Om apa, Papa boleh atau Om juga boleh,” ujar Jeffry menjelaskan.

“Tapi Om....”

Jeffry membisikinya. “Om mohon, Nak. Setidaknya, Jevan punya teman untuk dia ajak main.”

“Emangnya Jevan gak punya temen, Om?” bisik Raka dengan nada rendah.

“Iya begitulah, anak Om bisu. Jadi, gak ada yang mau main sama anak Om deh,” ucap Jeffry memberitahu.

“Ya ampun, kasian banget. Kok ada sih yang begituan, aku kira cuma ada di film aja.”

Jeffry terkekeh.

“Jadi, gimana? Raka mau gak?” sambung Johan.

“Iya udah deh, Om. Raka mau, tapi aku sekolah gak nantinya?” tanya Raka.

“Sekolah dong dan pastinya bareng Jevan,” ujar Jeffry mengelus kepalanya.

***

“Bu, Raka saya ajak pulang ya Bu.”

Johan pun langsung memberikan formulir tersebut pada Ibu panti. “Ini formulirnya Bu dan ini biayanya.”

“Gak usah bayar Pak, saya malah senang ada yang mau mengadopsi Raka.”

“Anggap aja biaya makan dan tempat teduh Bu, ini juga kan, karena Ibu sudah merawat Raka dan juga Jevan. Meskipun Jevan cuma tiga hari tinggal di sini. Jadi, mohon diterima ya Bu,” ujar Johan menjelaskan.

“Baiklah kalo Bapak memaksa, saya ambil ya Pak.”

Jevan dan Raka tersenyum, lalu saling merangkul bersama.

“Kalo gitu, saya dan teman saya izin pamit ya Bu.” Johan berpamitan.

“Iya Pak, hati-hati di jalan ya Pak.”

“Ayo Nak!” ajak Jeffry.

Jevan menarik lengan sang Ayah. “Kenapa, Nak?” tanya Jeffry.

“Bajunya Raka belum diberesin Ayah,” ujar Jevan memberitahu sang Ayah dengan bahasa isyaratnya.

“Ini bajunya, udah Om siapin,” ucap Johan sambil menunjukkan koper milik Raka.

“Wah, Om keren banget bisa langsung paham sama yang dia lakuin,” ucap Raka sambil bertepuk tangan.

Jeffry dan Johan terkekeh kembali.

“Iya dong, lagian kan Om juga yang ngajarin Jevan belajar bahasa isyaratnya.”

“Oh gitu, pantesan aja.”

“Yaudah, kalo gitu masuk ke mobil gih!” pinta Johan.

“Baik Om,” ucap Raka.

Jevan dan Raka pun langsung masuk ke dalam mobil, disusul Jeffry dan Johan masuk juga.

“Dadah Bu Ani,” ujar Raka melambaikan tangannya.

“Kami pamit ya, Bu.” Jeffry berpamitan dari dalam mobil.

“Hati-hati ya.” Ibu Ani berteriak sambil melambaikan tangannya.

Mereka pun langsung pergi dan meninggalkan panti asuhan tersebut.

© axcelineee

cw // harsh word


Raka menepuk pundak milik Jevan. “Kenapa nangis? Anak laki-laki gak boleh nangis loh,” ujar Raka mencoba menenangkannya.

Jevan menggeleng. “Ayah kapan jemput aku?”

“Apa? Kamu ngomong apa sih?” tanya Raka.

Jevan menundukkan kepalanya.

“Hei, jangan sedih dong. Aku kan cuma nanya, lagian aku gak paham sama yang kamu lakukan itu. Ngomong coba!”

“Dia gak bisa bicara, Nak,” sambung Johan tiba-tiba.

“Hah? Gak bisa bicara?” batin Raka bertanya.

Setibanya Johan di panti asuhan, Jevan langsung bergegas memeluk erat tubuhnya. Ia tersenyum melihat teman Ayahnya ada di hadapannya.

Johan mengelus punggung Jevan. “Jevan baik-baik saja, Nak? Jevan pasti takut ya, Jevan pasti kangen Ayah ya?” Johan bertanya dengan air mata yang berlinang-linang.

Jevan mengangguk.

“Om, maksudnya gak bisa bicara apa?” tanya Raka tiba-tiba.

Johan mengelus kepala Raka. “Dia bisu, Nak.”

“Ups,” ucap Raka sambil menutup mulut dengan tangannya. “Maaf ya, aku gak tau kamu bisu,” ujar Raka menundukkan kepalanya.

Jevan tersenyum, lalu mengangguk.

Raka membisiki Johan. “Om, dia ngomong apaan?”

Johan tertawa kecil. “Dia bilang, 'gak apa-apa kok', lagian kan kamu gak tau kalo dia gak bisa bicara,” ujar Johan menjelaskan.

“Oh gitu.”

“Kalian udah saling kenal belum?” tanya Johan merangkul mereka berdua.

Keduanya saling menggeleng. “Belum, Om,” ucap Raka.

Johan menghela napasnya. “Aish, kalian ini bagaimana sih, harusnya kenalan dong.”

“Nggak mau ah, dia nangis terus. Aku gak suka temen yang cengeng,” ujar Raka.

Jevan tersenyum sambil menghapus air matanya. Ia pun menjabat tangannya kepada Raka.

“Raka Saputra, panggil aja Raka,” ujar Raka memperkenalkan diri sambil membalas tangannya. “Kalo nama kamu siapa?” tanyanya.

Jevan mengambil satu batu kecil di dekat pot bunga, kemudian ia menulis namanya di tanah.

“JEVAN.”

Jevan menunjukan tulisan tersebut pada Raka.

“J, e, v, a, n. Jevan, oh itu namanya,” batin Raka bicara.

“Halo Jevan, senang berteman denganmu.” Raka tersenyum lalu memeluk erat tubuhnya.

Johan yang melihatnya ia hanya bisa tersenyum dan menangis bahagia.

“Jeff, akhirnya anak kamu punya teman juga. Gue turut bahagia liatnya Jeff,” batin Johan bicara.

Setibanya di panti asuhan, Jeffry berlari dengan begitu kencang dan tak peduli pintu mobilnya masih terbuka lebar.

Jeffry memeluk erat Jevan lalu mengelus punggungnya. “Maafin Ayah karena terlambat datang ya, Nak,” ucap Jeffry sambil mengelus kepala Jevan.

“Jevan udah makan, Nak? Tidurnya enak gak? Kasurnya nyaman gak? Jevan ada yang sakit gak, Nak?” tanya Jeffry sambil meraba setiap tubuh putranya dan melihat-lihat tubuhnya.

Johan menepuk bahu temannya. “Jeff, ini panti asuhan bukan tempat pembuangan sampah Jeff. Gak usah panik gitu lah, lo gak liat dia baik-baik aja?”

Jeffry menghela napasnya. “Jo, kamu tau betapa paniknya gue? Betapa cemasnya gue? Tiga hari bukan waktu yang bentar Jo, anak gue jauh dari gue selama itu Jo. Bayangin aja Jo, gimana gue gak panik coba,” ujar Jeffry memberitahu.

“Yelah-yelah,” ucap Johan dengan pasrah.

Jeffry menarik lengan Raka. “Nak, Ibu pantinya di mana?” tanya Jeffry.

“Di ruangan itu, Om,” ujar Raka menunjukkan ruangannya.

“Baiklah, kalo gitu, Om titip Jevan dulu ya,” ucap Jeffry sambil mengelus kepalanya.

“Iya Om.”

Jeffry menepuk bahu Johan. “Jo, ayo Jo!” ajaknya.

Jeffry dan Johan pun langsung bergegas pergi ke ruangan Ibu panti. Sementara Jevan dan Raka, mereka hanya menunggu di bangku depan ruangan tersebut.

***

Jeffry dan Johan membuka pintunya. “Permisi, Bu.” ucap mereka sambil mengetuk pintunya.

“Wa'alaikumussalam, silahkan masuk Pak.”

Johan menepuk pundaknya. “Anjir Jeffry, salam dulu weh.”

“Eh iya, assalamu'alaikum Bu,” ucap Jeffry dan Johan.

“Wa'alaikumussalam,” jawab Ibu Ani. “Silahkan duduk Pak,” pinta Ibu Ani.

Jeffry dan Johan pun segera duduk.

“Ada keperluan apa Pak?” tanya Ibu Ani.

“Begini Bu, Ibu ingat dengan istri saya yang ini?” ucap Jeffry sambil menunjukkan foto sang istri.

“Oh iya ingat Pak.”

“Nah, jadi kedatangan saya ke sini. Saya ingin membawa anak saya lagi Bu dan juga saya ingin mengadopsi anak yang bernama Raka tuh Bu.”

“Heh, lo mau adopsi?” bisik Johan.

“Lo bisa diem dulu gak?” bisik Jeffry.

Jeffry tersenyum. “Jadi, gimana Bu?

“Oh, Bapak ini Ayahnya? Tapi kenapa istrinya bawa anaknya ke sini ya?” tanya Ibu Ani.

“Biasa Bu, ada kesalahpahaman,” jawab Johan mendahului.

“Sok tau lo,” bisik Jeffry.

“Oh gitu ya,” ucap Ibu Ani. “Ya sudah Pak, silahkan dibawa pulang anaknya ya. Dan saya ingin mengingatkan saja, tolong lebih tegas kepada istrinya ya,” ujar Ibu Ani.

“Boro-boro tegas, dia aja yang sering kena semprot istrinya,” batin Johan bicara.

Jeffry tersenyum. “Baik Bu, terima kasih atas nasihatnya.”

“Oh iya Pak, mengenai Raka. Silahkan Bapak tanya ke anaknya dulu mau atau tidaknya, jika sudah baru isi formulirnya,” ucap Ibu Ani lalu memberikan formulir tersebut.

“Baik Bu.”

Jeffry dan Johan pun langsung kembali menemui mereka berdua, disusul Ibu panti di belakangnya.

***

“Jevan! Raka!” panggil Jeffry.

Mereka menengok lalu menghampiri Jeffry dan Johan.

“Kenapa Om?” tanya Raka.

“Nak, kamu mau ikut sama Om ke rumah gak? Jadi anak Om juga,” ucap Jeffry sambil memegang lengan Raka.

“Om mau adopsi aku?” tanya Raka.

“Iya benar, mau ya. Biar Jevan ada temannya,” ujar Jeffry memberitahu.

“Nggak ah Om, aku gak mau rebut Om dari Jevan.”

Jevan menepuk pundak Raka, lalu menggeleng.

“Om, dia ngomong apa?” tanya Raka.

Jeffry dan Johan terkekeh. “Dia bilang, 'kamu gak boleh ngomong kayak gitu', itu katanya,” ujar Johan memberitahu.

“Gini aja deh, kalo Raka gak mau jadi anak Om gak apa-apa, tapi Om akan tetep adopsi kamu. Jadi, Raka bebas mau panggil Om apa, Papa boleh atau Om juga boleh,” ujar Jeffry menjelaskan.

“Tapi Om....”

Jeffry membisikinya. “Om mohon, Nak. Setidaknya, kamu bisa jadi temannya Jevan.”

“Emangnya Jevan gak punya temen?” bisik Raka dengan nada rendah.

“Iya begitulah, anak Om bisu. Jadi gak ada yang mau main sama anak Om deh,” ucap Jeffry memberitahu.

“Ya ampun, kasian banget. Kok ada sih yang begituan, aku kira cuma ada di film aja.”

Jeffry terkekeh.

“Jadi, gimana? Raka mau gak?” sambung Johan.

“Iya udah deh, Om. Raka mau, tapi aku sekolah gak nantinya?” tanya Raka.

“Sekolah dong dan pastinya bareng Jevan,” ujar Jeffry mengelus kepalanya.

***

“Bu, Raka saya ajak pulang ya Bu.”

Johan memberikan formulir tersebut pada Ibu panti. “Ini formulirnya Bu dan ini biayanya.”

“Gak usah bayar Pak, saya malah senang ada yang mau mengadopsi Raka.”

“Anggap aja biaya makan dan tempat teduh Bu, ini juga kan, karena Ibu sudah merawat Raka dan juga Jevan. Meskipun Jevan cuma tiga hari tinggal di sini. Jadi, mohon diterima ya Bu.”

“Baiklah kalo Bapak memaksa, saya ambil ya Pak.”

Jevan dan Raka tersenyum, lalu saling merangkul bersama.

“Kalo gitu, saya dan teman saya izin pamit ya Bu.”

“Iya Pak, hati-hati di jalan ya Pak.”

“Ayo Nak!” ajak Jeffry.

Jevan menarik lengan sang Ayah. “Kenapa, Nak?” tanya Jeffry.

“Bajunya Raka belum diberesin Ayah,” ujar Jevan memberitahu sang Ayah dengan bahasa isyaratnya.

“Ini bajunya, udah Om siapin,” ucap Johan.

“Wah, Om keren banget bisa langsung paham sama yang dia lakuin,” ucap Raka sambil bertepuk tangan.

Jeffry dan Johan terkekeh.

“Iya dong, lagian kan Om juga yang ngajarin Jevan belajar bahasa isyaratnya.”

“Oh gitu, pantesan aja.”

“Ya udah, kalo gitu masuk ke mobil gih!” pinta Johan.

“Baik Om,” ucap Raka.

Jevan dan Raka pun langsung masuk ke dalam mobil, disusul Jeffry dan Johan masuk juga.

“Dadah Ibu Ani,” ujar Raka melambaikan tangannya.

“Kami pamit ya, Bu.” Jeffry berpamitan.

“Hati-hati ya.” Ibu Ani berteriak sambil melambaikan tangannya.

Mereka pun langsung pergi dan meninggalkan panti asuhan tersebut.

© axcelineee

cw // mention of kiss

Kevin as dokter spesialis bedah, Fikri as dokter spesialis jantung, Reza as dokter spesialis saraf.

Lagu rekomendasinya jangan lupa di setel ya!


Hari ini adalah hari di mana Zaffran dan Hana akan menikah. Siapa yang tahu, bahwa dua insan yang tak pernah saling bertemu dan mencintai ini, mereka akan dipersatukan oleh semesta dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan, yang di mana keduanya akan memikul sebuah tanggung jawab besar.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai dibacakan, hal itu sukses membuat mata mungil Hana menangis pilu. Suara indah mertuanya, membuat ia tak bisa berkata apapun lagi. Namun, tiba-tiba saja dalam lamunannya ia teringat dengan sosok Mamanya.

“Mama dateng nggak ya?”

Oma membelai rambut cucunya. “Dateng sayang, percaya deh sama Oma. Kamu kan mau menikah, nggak mungkin Mamamu nggak dateng toh,” kata Oma sembari mengusap air matanya. “Sudah jangan sedih dong, kalo kamu sedih nanti make-upnya buyar semua lho,” lanjut Oma. Hana pun tersenyum dengan lega begitu mendengar perkataan Oma nya.

Melihat obrolan nenek dan cucunya, Hasan pun terdiam mematung. Ia mendekati mereka lalu membelai rambut putrinya. “Anak Papa sudah besar ternyata ya,” ucap Hasan sembari meneteskan air mata bahagia.

Hana memeluk Papanya. “Pa, doain Hana ya, supaya Hana bisa menerima Zaffran dengan ikhlas dan melupakan Gala dengan lapang dada.”

Hasan melepaskan pelukannya lalu memegang pipi putrinya. “Iya sayang.”

“Iya tapi jangan doanya saja. Kamu yang bakal jadi istrinya, ya kamu juga harus berusaha,” sambung Oma.

Hana menundukkan kepalanya. “Iya Oma.”

Di tengah obrolan mereka, Ifa saudaranya tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. “Oma! Om Hasan! Kata Pak penghulu, ijab qobulnya bisa dimulai sekarang jeh.”

Yowes, kalo gitu kamu temani Hana disini ya.”

“Iya Oma,” kata Ifa.

“Han, Papa sama Oma ke depan dulu ya,” ucap Hasan sambil melambaikan tangannya.

Hasan dan Oma langsung bergegas pergi menuju ruang akad. Kini, Hasan dan Zaffran saling berhadapan. Tak hanya mereka berdua, ada juga Pak Imran selaku penghulu yang menemani mereka.

“Nak, sebelum dimulai, boleh saya bertanya terlebih dahulu?” tanya Imran.

“Boleh Pak, katakan saja.” Zaffran menjawab dengan singkat.

“Nak Zaffran, apakah sudah siap membina rumah tangga?”

Insyaallah, siap Pak.”

“Nak Zaffran sudah paham belum, mengenai kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap istrinya?” tanya Imran.

“Sudah, Pak.” Zaffran menjawab dengan singkat.

Imran memperhatikan setiap detik jam. “Baiklah kalau begitu, Pak Hasan bisa dimulai sekarang ya,” ucap Imran.

“Baik Pak,” ucap Hasan.

Imran memegang tangan Zaffran. “Nak Zaffran, fokus dan dengarkan Pak Hasan baik-baik. Jangan gugup oke.”

Zaffran menghela napasnya. “Bismillah,” batinnya.

Hasan menjabat tangannya terlebih dahulu pada Zaffran, begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Hasan perlahan mulai mengucapkan kalimat ijabnya.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mahendra Zaffran Al-Ghifari bin Abdul Al-Ghifari dengan anak saya yang bernama Hana Maheswari dengan mas kawin 85,6 gram emas, dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Zaffran menghela napas lega usai mengucapkan kalimat qobulnya.

Semua orang di ruangan terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Bagaimana para saksi, sah?” tanya Pak Imran sembari menengok ke arah keluarga mempelai dan juga para tamu.

“SAHHH!” Semua keluarga dan juga para tamu menjawab dengan penuh semangat.

Usai kata sah diucapkan, Pak Imran langsung membacakan doa-doanya. Semua orang di sana berteriak aamiin, begitu juga dengan Hana yang berada di dalam kamar.

Abdul mengelus punggung putranya. “Nak, jemput istrimu dan bawa dia kemari,” ucap Abdul sembari mendorong lembut Zaffran.

Usai ijab qobul berakhir, tangis haru menetes dari mata Hana, begitu ia mendengar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Zaffran. Tak hanya Hana yang menangis, Papa dan Oma nya pun sama sedihnya dengan Hana.

“Ya Allah, ini beneran aku udah nikah?” kata Hana seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

•••••

Maura berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Hana. Sesampainya di kamar, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. “Han, selamat ya. Lo tau nggak sih, gue seneng banget,” ucap Maura sambil menangis.

“Han, ayo siap-siap! Suamimu sudah di depan kamar lho,” ucap Ifa tiba-tiba.

“DEMI APA? SUMPAH? YA ALLAH, GUE BENERAN UDAH NIKAH SAMA SI ZAFFRAN GITU? Hana memijat keningnya dengan frustasi.

Maura dan Ifa memeluk Hana. “Iya beneran lah, masa iya bohongan,” ucap Maura dan Ifa bersamaan.

Tok, tok, tok….

Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Hana, ia pun bersiap diri untuk bertemu dengannya. Zaffran perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kini, mata mereka saling bertemu satu sama lain.

Assalamu'alaikum, bidadariku.”

Maura dan Ifa tersenyum sembari menyenggol Hana yang masih terdiam itu. “Ya Allah, dia manusia atau bukan?” batin Hana bicara saat menatap wajah Zaffran.

Masyaallah, cantiknya bidadariku ini.” Zaffran meraih wajah Hana dengan tersenyum.

“Heh! Nggak usah modus lo.” Hana menyangkalnya.

“Saya nggak modus, Han. Serius deh, kamu itu sangat cantik dengan baju pengantin ini.”

Semua orang menyoraki mereka berdua. “Cieee, Mba Hana. Dibilang cantik nggak tuh.”

Hana mencubit pinggang suaminya. “Suttt, diem coba! Gue malu tau,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Zaffran tersenyum. “Ini cubitan pertamamu dan rasanya sangat menyenangkan, sepertinya akan lebih baik jika saya memujimu di depan umum terus ya,” bisik Zaffran.

“Zaffran!” pekik Hana sambil menepuk bahu suaminya.

Di tengah obrolan keduanya, Abdul datang menghampiri mereka sembari menyerahkan cincinnya. “Kak, pakaikan saja di sini ya.”

Zaffran dan Hana saling menatap, lalu melihat ke arah pintu dan terlihat keluarganya berkumpul semua diantara tamu undangan yang hadir di dalam.

“Ayo Zaff!” pinta Pak Imran.

Zaffran mengambil cincinnya, kemudian ia meraih tangan Hana dan memakaikan cincin di jari manisnya. Begitu pula dengan Hana, ia memakaikan cincin di jari manis Zaffran.

Begitu pemakaian cincin selesai, Hana meraih tangan sang suami lalu menciumnya. Sementara Zaffran, ia meletakkan tangannya di atas kepala Hana sambil berdo'a untuk kebaikan pernikahannya.

“Ebusettt, tangannya wangi banget dah,” batin Hana bicara sembari menikmati aroma harum di tangannya.

Begitu Hana selesai mencium tangannya, Zaffran langsung mencium kening dan juga kedua mata Hana dengan penuh kasih.

“Han, izinkan saya menjadi bagian dari tulang rusukmu. Izinkan saya pula, untuk menjadi tempatmu bersandar dikala kamu sedih dan senang. Dan terakhir, izinkan saya, untuk terus membahagiakan kamu sampai kita tua nanti,” ujar Zaffran usai mencium kening dan juga matanya.

Hana spontan memeluk Zaffran, ia menangis dalam pelukannya. “Ini terlalu indah buat gue denger tau Zaff,” lirihnya.

Itulah Zaffran, mengecup kening dan kedua mata sang istri, memiliki arti tersendiri baginya. Ia memang tak bisa merangkai kata-kata indah seperti laki-laki pada umumnya. Tapi Zaffran? Dengan kata izin yang ia ucapkan berkali-kali, hal itu mampu membuat hati mungil Hana menangis mendengarnya.

Begitu acara pemakaian cincin selesai, Zaffran dan Hana kembali ke pelaminan untuk meminta berkat dari keluarganya. Begitu acara sungkeman selesai, mereka langsung diiringi ke kursi pelaminan.

Kini, Hana harus menghadapi panasnya baju kebaya yang ia kenakan ini hingga malam hari nanti. Sebenarnya ia tak mau menikah dengan menggunakan adat Jawa, tapi apalah daya? Oma dan keluarga Zaffran bersikeras untuk menggunakan adat Jawa di pernikahannya itu.

Semua tamu undangan bergilir mengucapkan selamat kepada Zaffran dan juga Hana. Begitu juga dengan teman sekelas Hana yang datang memberikan selamat.

“Han, selamat ya.” Adji memberikan selamat kepada Hana dan suaminya.

“Makasih ya, Pak kosma.” Hana membalas dengan singkat.

Adji memeluk Zaffran. “Kamu keren lho Zaff, bisa meyakinkan orang cerewet kayak dia.

“Oh iya?” Zaffran terkekeh.

Hana menepuk bahu sang suami. “Kak, nggak usah didengerin apa kata si Adji, bohong dia tuh.”

Zaffran membelai rambut istrinya. “Gak apa-apa, mau kamu cerewet atau tidak, saya tetap suka kok.”

“Kok gitu sih?”

“Iya karena, saya suka wanita yang cerewet. Soalnya Ayah pernah bilang, kalau Bunda dulunya sama seperti kamu. Dia cerewet, bawel, pokoknya sama seperti kamu. Tapi Ayah benar-benar menyukai Bunda, bahkan Ayah ingin sekali menikahinya,” ujar Zaffran menjelaskan.

“Oh iya? Tapi kenapa Ayah ingin sekali menikahi Bunda?” tanya Hana penasaran.

Zaffran menghela napasnya. “Iya karena, sikap cerewet dan bawelnya Bunda, itu membuat hati Ayah merasa nyaman kalo ada di dekatnya. Karena itulah, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu.”

“Ohoho, ceritanya Kakak lagi nostalgia kisah Ayah dan Bunda nih,” sambung Abdul tiba-tiba.

Zaffran dan Hana tersenyum bersamaan begitu sang Ayah muncul di hadapannya.

“Han, Zaffran benar. Irawati juga dulu sama kayak kamu. Tapi setelah dia punya anak, seiring berjalannya waktu sifat dia jadi berubah,” ujar Abdul memberitahu.

Zaffran tersenyum ke arah Hana. “Tapi setelah punya anak, sifat kamu jangan berubah ya.”

“Tapi, kenapa aku nggak boleh berubah?” tanya Hana penasaran.

“Iya gak apa-apa, nanti kamu juga tau sendiri kok.

“Ishh, nyebelin banget sih,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Abdul merangkul ke bahu putranya. “Oh iya Kak, Kakak lihat Chelsea nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.

“Yah, kayaknya lagi sama temen aku deh. Soalnya aku liat Maura lagi sama adik.” Hana menjawab mendahului Zaffran.

“Begitu ya, ya sudah makasih ya Nak.” Abdul pergi meninggalkan mereka berdua.

Setelah berbincang-bincang sangat lama, mereka kembali disambut oleh para tamu yang hadir. Semua kerabat dekat bersalaman secara giliran, hingga seseorang datang memanggil namanya.

“SENGGET,” teriak Kevin dari kejauhan.

Zaffran menengok ke arah sumber suara sambil mengerutkan kedua matanya.

Fahri, Kevin, Fikri, dan juga Reza, mereka berjalan mendekati kursi pelaminan. Zaffran terkekeh, sementara sang istri ia hanya terdiam mematung melihat teman-teman suaminya itu.

Kevin memeluk erat tubuh Zaffran. “Gerak cepat kamu ya Zaff, pulang-pulang dari seminar langsung dapet jodoh kamu.”

Zaffran dan juga temannya terkekeh bersamaan. “Iya mau bagaimana lagi? Saya pun juga terkejut begitu Ayah mengumumkan perjodohanku waktu itu.”

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Mbok ya dikenalin toh, itu yang di sebelahnya, jangan dianggurin mulu lah ngget.”

Zaffran terkekeh. “Oh iya, kalian belum kenal ya.”

Di tengah obrolan mereka, Hana hanya memiliki satu pertanyaan dipikirannya. “Ngget? Kok ngget sih?” batin Hana bertanya-tanya.

Zaffran tersenyum ke arah istrinya. “Oh iya Han, kenalin ini teman-temanku. Kamu pasti sudah kenal Fahri kan ya,” ujar Zaffran memberitahu.

Fahri tersenyum ke arah Hana, begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Nah, kalo yang pakai baju biru ini namanya Kevin, kalo yang pakai baju hitam itu namanya Reza. Dan yang pakai jaket itu, namanya Fikri. Dan untuk kalian semua, ini istriku. Hana namanya,” ujar Zaffran memberitahu.

Kevin, Fikri, dan juga Reza menyapa Hana dengan senyuman. Begitu juga Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Zaff, mereka semua dokter?” bisik Hana.

“Iya Han, mereka teman kerjaku semua. Kecuali Fahri, kami sudah berteman lama sejak kuliah,” ucap Zaffran.

Hana mengangguk. “Oh gitu.”

“Oh iya Zaff, kok kamu dipanggil sengget sih sama mereka?” bisik Hana.

“Oh itu, saya juga nggak tau sih. Tapi mereka pernah bilang, kalo saya itu lebih tinggi daripada mereka. Itulah kenapa saya dipanggil sengget,” ujar Zaffran menjelaskan.

Hana mengerutkan matanya sambil mengukur tinggi kepala mereka dalam bayangannya. “Tinggi? Nggak ah, keliatannya tinggi kalian sama aja kok.”

“Itu dulu Han,” sambung Kevin tiba-tiba.

“Iya Han, dulu itu Zaffran lebih tinggi daripada kita. Tapi, kami panggil sengget iya karena kami senang aja dengan nama itu,” ujar Fikri menjelaskan.

“Iya pokoknya, nama sengget itu legend banget lah buat si Zaffran,” sambung Fahri.

“Kayak ada manis-manisnya gitu lho,” sambung Reza sembari menyandar di bahu Fahri.

“Manis-manisnya jeh, dikira laki gue le minerale apa?” batin Hana bicara dengan kesal.

Mereka semua masih berbincang-bincang kepada Zaffran, sebelum para tamu lainnya hadir mengucapkan selamat kepada mereka. Sementara Hana, karena tak punya teman bicara. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke bahu Zaffran.

“Zaff, foto dulu yuk.” Fikri bicara tiba-tiba dan membuat Hana pun terbangun dari sandarannya.

“Pake kamera gue aja nih kalo mau foto,” ucap Reza sembari memberikan kameranya.

“Wihhh, sedia setiap saat ya lo.” Fikri mengambil kameranya.

“Pak, tolong fotoin kita berenam ya, pengantinnya harus terlihat jelas oke.” Reza menjelaskan kepada sang fotografer.

Mereka semua pun berjejer dan mengatur barisannya. Sementara Hana memegang lengan dan bersandar di bahu Zaffran. Sedangkan Fikri dan Reza, mereka berdiri di sebelah Zaffran dan yang berdiri di sebelah Hana ialah Kevin dan Fahri.

Fotografer itu memulai aba-abanya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tig-”

Belum sempat memotret Fadil datang menganggu mereka, lalu ia pun duduk di bawah untuk ikut berfoto bersama teman Kakaknya.

“FADILLLL,” teriak teman-teman Zaffran bersamaan.

“Eh iya bang, maaf bang.” Fadil pun pergi meninggalkan mereka.

Seperti itulah Fadil, ia hobi sekali mengganggu teman-teman Kakaknya. Bahkan mereka pun sampai hafal dengan kelakuan adiknya Zaffran yang satu itu.

•••••

“Baiklah, kita mulai lagi ya,” ucap fotografer sembari memainkan jarinya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tiga...”

“Senyummm!”

Selesai berfoto, mereka pun langsung berpelukan dan memberi selamat kepada Zaffran dan juga Hana sebelum pergi untuk makan. Begitu juga dengan Zaffran yang membalas pelukan mereka.

“Zaff! Han! Kita tinggal makan dulu ya,” ucap Kevin.

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Makan dulu ya, bro.”

“Zaff, gue makan dulu ya.” Reza menepuk bahu Zaffran lalu pergi menyusul temannya.

“Zaff, gue makan juga ya,” ucap Fahri lalu pergi menyusul mereka.

Seperti itulah hari mereka, Zaffran dan Hana telah 'sah' menjadi sepasang suami dan istri. Hana berpikir, mungkin harinya akan terasa buruk pasca pernikahannya dengan Zaffran. Tapi ternyata tidak, ia justru merasa nyaman terus bersandar di bahu Zaffran. Bahkan ia sendiri tak menyadari, bahwa bahu suaminya itu benar-benar terasa pegal karena ia terus bersandar di bahunya.

© axcelineee Titi

Kevin as dokter spesialis bedah, Fikri as dokter spesialis jantung, Reza as dokter spesialis saraf.


Usai pemakaian cincin, Zaffran dan Hana kembali ke pelaminan untuk meminta berkat dari keluarganya. Begitu acara sungkeman selesai, mereka langsung diiringi ke kursi pelaminan.

Kini, Hana harus menghadapi panasnya baju kebaya yang ia kenakan ini hingga malam hari nanti. Sebenarnya ia tak mau menikah dengan menggunakan adat Jawa, tapi apalah daya? Oma dan keluarga Zaffran bersikeras untuk menggunakan adat Jawa di pernikahannya itu.

Semua tamu undangan bergilir mengucapkan selamat kepada Zaffran dan juga Hana. Begitu juga dengan teman sekelas Hana yang datang memberikan selamat.

“Han, selamat ya.” Adji memberikan selamat kepada Hana dan suaminya.

“Makasih ya, Pak kosma.” Hana membalas dengan singkat.

Adji memeluk Zaffran. “Kamu keren lho Zaff, bisa meyakinkan orang cerewet kayak dia.

“Oh iya?” Zaffran terkekeh.

Hana menepuk bahu sang suami. “Kak, nggak usah didengerin apa kata si Adji, bohong dia tuh.”

Zaffran membelai rambut istrinya. “Gak apa-apa, mau kamu cerewet atau tidak, saya tetap suka kok.”

“Kok gitu sih?”

“Iya karena, saya suka wanita yang cerewet. Soalnya Ayah pernah bilang, kalau Bunda dulunya sama seperti kamu. Dia cerewet, bawel, pokoknya sama seperti kamu. Tapi Ayah benar-benar menyukai Bunda, bahkan Ayah ingin sekali menikahinya,” ujar Zaffran menjelaskan.

“Oh iya? Tapi kenapa Ayah ingin sekali menikahi Bunda?” tanya Hana penasaran.

Zaffran menghela napasnya. “Iya karena, sikap cerewet dan bawelnya Bunda, itu membuat hati Ayah merasa nyaman kalo ada di dekatnya. Karena itulah, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu.”

“Ohoho, ceritanya Kakak lagi nostalgia kisah Ayah dan Bunda nih,” sambung Abdul tiba-tiba.

Zaffran dan Hana tersenyum bersamaan begitu sang Ayah muncul di hadapannya.

“Han, Zaffran benar. Irawati juga dulu sama kayak kamu. Tapi setelah dia punya anak, seiring berjalannya waktu sifat dia jadi berubah,” ujar Abdul memberitahu.

Zaffran tersenyum ke arah Hana. “Tapi setelah punya anak, sifat kamu jangan berubah ya.”

“Tapi, kenapa aku nggak boleh berubah?” tanya Hana penasaran.

“Iya gak apa-apa, nanti kamu juga tau sendiri kok.

“Ishh, nyebelin banget sih,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Abdul merangkul ke bahu putranya. “Oh iya Kak, Kakak lihat Chelsea nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.

“Yah, kayaknya lagi sama temen aku deh. Soalnya aku liat Maura lagi sama adik.” Hana menjawab mendahului Zaffran.

“Begitu ya, ya sudah makasih ya Nak.” Abdul pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Usai berbincang-bincang, mereka kembali di sambut oleh para tamu yang hadir. Semua kerabat dekat bersalaman secara giliran, hingga seseorang datang memanggil namanya.

“SENGGET,” teriak Kevin dari kejauhan.

Zaffran menengok ke arah sumber suara sambil mengerutkan kedua matanya.

Fahri, Kevin, Fikri, dan juga Reza, mereka berjalan mendekati kursi pelaminan. Zaffran terkekeh, sementara sang istri ia hanya terdiam mematung melihat teman-teman suaminya itu.

Kevin memeluk erat tubuh Zaffran. “Gerak cepat kamu ya Zaff, pulang-pulang dari seminar langsung dapet jodoh kamu.”

Zaffran dan juga temannya terkekeh bersamaan. “Iya mau bagaimana lagi? Saya pun juga terkejut begitu Ayah mengumumkan perjodohanku waktu itu.”

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Mbok ya dikenalin toh itu yang di sebelahnya, jangan dianggurin mulu lah ngget.”

“Ngget? Kok ngget sih?” batin Hana bertanya-tanya.

Zaffran tersenyum ke arah istrinya. “Oh iya Han, kenalin ini teman-temanku. Kamu pasti sudah kenal Fahri kan ya,” ujar Zaffran memberitahu.

Fahri tersenyum ke arah Hana, begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Nah, kalo yang pakai baju biru ini namanya Kevin, kalo yang pakai baju hitam itu namanya Reza. Dan yang pakai jaket itu, namanya Fikri. Dan untuk kalian semua, ini istriku. Hana namanya,” ujar Zaffran memberitahu.

Kevin, Fikri, dan juga Reza menyapa Hana dengan senyuman. Begitu juga Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Zaff, mereka semua dokter?” bisik Hana.

“Iya Han, mereka teman kerjaku semua. Kecuali Fahri, kami sudah berteman lama sejak kuliah,” ucap Zaffran.

Hana mengangguk. “Oh gitu.”

“Oh iya Zaff, kok kamu dipanggil sengget sih sama mereka?” bisik Hana.

“Oh itu, saya juga nggak tau sih. Tapi mereka pernah bilang, kalo saya itu lebih tinggi daripada mereka. Itulah kenapa saya dipanggil sengget,” ujar Zaffran menjelaskan.

Hana mengerutkan matanya sambil mengukur tinggi kepala mereka dalam bayangannya. “Tinggi? Nggak ah, keliatannya tinggi kalian sama aja kok.”

“Itu dulu Han,” sambung Kevin tiba-tiba.

“Iya Han, dulu itu Zaffran lebih tinggi daripada kita. Tapi, kami panggil sengget iya karena kami senang aja dengan nama itu,” ujar Fikri menjelaskan.

“Iya pokoknya, nama sengget itu legend banget lah buat si Zaffran,” sambung Fahri.

“Kayak ada manis-manisnya gitu lho,” sambung Reza sembari menyandar di bahu Fahri.

“Manis-manisnya jeh, dikira laki gue le minerale apa?” batin Hana bicara dengan kesal.

Mereka semua masih berbincang-bincang kepada Zaffran, sebelum para tamu lainnya hadir mengucapkan selamat kepada mereka. Sementara Hana, karena tak punya teman bicara. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke bahu Zaffran.

“Zaff, foto dulu yuk.” Fikri bicara tiba-tiba dan membuat Hana pun terbangun dari sandarannya.

“Pake kamera gue aja nih kalo mau foto,” ucap Reza sembari memberikan kameranya.

“Wihhh, sedia setiap saat ya lo.” Fikri mengambil kameranya.

“Pak, tolong fotoin kita berenam ya, pengantinnya harus terlihat jelas oke.” Reza menjelaskan kepada sang fotografer.

Mereka semua pun berjejer dan mengatur barisannya. Sementara Hana memegang lengan dan bersandar di bahu Zaffran. Sedangkan Fikri dan Reza, mereka berdiri di sebelah Zaffran dan yang berdiri di sebelah Hana ialah Kevin dan Fahri.

Fotografer itu memulai aba-abanya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tig-”

Belum sempat memotret Fadil datang menganggu mereka, lalu ia pun duduk di bawah untuk ikut berfoto bersama teman Kakaknya.

“FADILLLL,” teriak teman-teman Zaffran bersamaan.

“Eh iya bang, maaf bang.” Fadil pun pergi meninggalkan mereka.

Seperti itulah Fadil, ia hobi sekali mengganggu teman-teman Kakaknya. Bahkan mereka pun sampai hafal dengan kelakuan adiknya Zaffran yang satu itu.

“Oke, kita mulai lagi ya,” ucap fotografer sembari memainkan jarinya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tiga...”

“Senyummm!”

Usai berfoto, mereka pun langsung berpelukan dan memberikan selamat sebelum pergi untuk makan. Begitu juga dengan Zaffran yang membalas pelukan mereka.

“Zaff! Han! Kita tinggal makan dulu ya,” ucap Kevin.

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Makan dulu ya, bro.”

“Zaff, gue makan dulu ya.” Reza menepuk bahu Zaffran lalu pergi menyusul temannya.

“Zaff, gue makan juga ya,” ucap Fahri lalu pergi menyusul mereka.

Seperti itulah hari mereka, Zaffran dan Hana telah 'sah' menjadi sepasang suami dan istri. Hana berpikir, mungkin harinya akan terasa buruk pasca pernikahannya dengan Zaffran. Tapi ternyata tidak, ia justru merasa nyaman terus bersandar di bahu Zaffran. Bahkan ia sendiri tak menyadari, bahwa bahu suaminya itu benar-benar terasa pegal karena ia terus bersandar di bahunya.

© axcelineee Titi

Kevin as dokter spesialis bedah, Fikri as dokter spesialis jantung, Reza as dokter spesialis saraf.


Usai pemakaian cincin, Zaffran dan Hana kembali ke pelaminan untuk meminta berkat dari keluarganya. Begitu acara sungkeman selesai, mereka langsung diiringi ke kursi pelaminan.

Kini, Hana harus menghadapi panasnya baju kebaya yang ia kenakan ini hingga malam hari nanti. Sebenarnya ia tak mau menikah dengan menggunakan adat Jawa, tapi apalah daya? Oma dan keluarga Zaffran bersikeras untuk menggunakan adat Jawa di pernikahannya itu.

Semua tamu undangan bergilir mengucapkan selamat kepada Zaffran dan juga Hana. Begitu juga dengan teman sekelas Hana yang datang memberikan selamat.

“Han, selamat ya.” Adji memberikan selamat kepada Hana dan suaminya.

“Makasih ya, Pak kosma.” Hana membalas dengan singkat.

Adji memeluk Zaffran. “Kamu keren lho Zaff, bisa meyakinkan orang cerewet kayak dia.

“Oh iya?” Zaffran terkekeh.

Hana menepuk bahu sang suami. “Kak, nggak usah didengerin apa kata si Adji, bohong dia tuh.”

Zaffran membelai rambut istrinya. “Gak apa-apa, mau kamu cerewet atau tidak, saya tetap suka kok.”

“Kok gitu sih?”

“Iya karena, saya suka wanita yang cerewet. Soalnya Ayah pernah bilang, kalau Bunda dulunya sama seperti kamu. Dia cerewet, bawel, pokoknya sama seperti kamu. Tapi Ayah benar-benar menyukai Bunda, bahkan Ayah ingin sekali menikahinya,” ujar Zaffran menjelaskan.

“Oh iya? Tapi kenapa Ayah ingin sekali menikahi Bunda?” tanya Hana penasaran.

Zaffran menghela napasnya. “Iya karena, sikap cerewet dan bawelnya Bunda, itu membuat hati Ayah merasa nyaman kalo ada di dekatnya. Karena itulah, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu.”

“Ohoho, ceritanya Kakak lagi nostalgia kisah Ayah dan Bunda nih,” sambung Abdul tiba-tiba.

Zaffran dan Hana tersenyum bersamaan begitu sang Ayah muncul di hadapannya.

“Han, Zaffran benar. Irawati juga dulu sama kayak kamu. Tapi setelah dia punya anak, seiring berjalannya waktu sifat dia jadi berubah,” ujar Abdul memberitahu.

Zaffran tersenyum ke arah Hana. “Tapi setelah punya anak, sifat kamu jangan berubah ya.”

“Tapi, kenapa aku nggak boleh berubah?” tanya Hana penasaran.

“Iya gak apa-apa, nanti kamu juga tau sendiri kok.

“Ishh, nyebelin banget sih,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Abdul merangkul ke bahu putranya. “Oh iya Kak, Kakak lihat Chelsea nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.

“Yah, kayaknya lagi sama temen aku deh. Soalnya aku liat Maura lagi sama adik.” Hana menjawab mendahului Zaffran.

“Begitu ya, ya sudah makasih ya Nak.” Abdul pun pergi meninggalkan mereka berdua.

Usai berbincang-bincang, mereka kembali di sambut oleh para tamu yang hadir. Semua kerabat dekat bersalaman secara giliran, hingga seseorang datang memanggil namanya.

“SENGGET,” teriak Kevin dari kejauhan.

Zaffran menengok ke arah sumber suara sambil mengerutkan kedua matanya.

Fahri, Kevin, Fikri, dan juga Reza, mereka berjalan mendekati kursi pelaminan. Zaffran terkekeh, sementara sang istri ia hanya terdiam mematung melihat teman-teman suaminya itu.

Kevin memeluk erat tubuh Zaffran. “Gerak cepat kamu ya Zaff, pulang-pulang dari seminar langsung dapet jodoh kamu.”

Zaffran dan juga temannya terkekeh bersamaan. “Iya mau bagaimana lagi? Saya pun juga terkejut begitu Ayah mengumumkan perjodohanku waktu itu.”

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Mbok ya dikenalin toh itu yang di sebelahnya, jangan dianggurin mulu lah ngget.”

“Ngget? Kok ngget sih?” batin Hana bertanya-tanya.

Zaffran tersenyum ke arah istrinya. “Oh iya Han, kenalin ini teman-temanku. Kamu pasti sudah kenal Fahri kan ya,” ujar Zaffran memberitahu.

Fahri tersenyum ke arah Hana, begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Nah, kalo yang pakai baju biru ini namanya Kevin, kalo yang pakai baju hitam itu namanya Reza. Dan yang pakai jaket itu, namanya Fikri. Dan untuk kalian semua, ini istriku. Hana namanya,” ujar Zaffran memberitahu.

Kevin, Fikri, dan juga Reza menyapa Hana dengan senyuman. Begitu juga Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Zaff, mereka semua dokter?” bisik Hana.

“Iya Han, mereka teman kerjaku semua. Kecuali Fahri, kami sudah berteman lama sejak kuliah,” ucap Zaffran.

Hana mengangguk. “Oh gitu.”

“Oh iya Zaff, kok kamu dipanggil sengget sih sama mereka?” bisik Hana.

“Oh itu, saya juga nggak tau sih. Tapi mereka pernah bilang, kalo saya itu lebih tinggi daripada mereka. Itulah kenapa saya dipanggil sengget,” ujar Zaffran menjelaskan.

Hana mengerutkan matanya sambil mengukur tinggi kepala mereka dalam bayangannya. “Tinggi? Nggak ah, keliatannya tinggi kalian sama aja kok.”

“Itu dulu Han,” sambung Kevin tiba-tiba.

“Iya Han, dulu itu Zaffran lebih tinggi daripada kita. Tapi kami panggil sengget, iya karena kami senang aja dengan nama itu,” ujar Fikri menjelaskan.

“Iya pokoknya, nama sengget itu legend banget lah buat si Zaffran,” sambung Fahri.

“Kayak ada manis-manisnya gitu lho,” sambung Reza sembari menyandar di bahu Fahri.

“Manis-manisnya jeh, dikira laki gue le minerale apa?” batin Hana bicara dengan kesal.

Mereka semua masih berbincang-bincang kepada Zaffran, sebelum para tamu lainnya hadir mengucapkan selamat kepada mereka. Sementara Hana, karena tak punya teman bicara. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke bahu Zaffran.

“Zaff, foto dulu yuk.” Fikri bicara tiba-tiba dan membuat Hana pun terbangun dari sandarannya.

“Pake kamera gue aja nih kalo mau foto,” ucap Reza sembari memberikan kameranya.

“Wihhh, sedia setiap saat ya lo.” Fikri mengambil kameranya.

“Pak, tolong fotoin kita berenam ya, pengantinnya harus terlihat jelas oke.” Reza menjelaskan kepada sang fotografer.

Mereka semua pun berjejer dan mengatur barisannya. Sementara Hana memegang lengan dan bersandar di bahu Zaffran. Sedangkan Fikri dan Reza, mereka berdiri di sebelah Zaffran dan yang berdiri di sebelah Hana ialah Kevin dan Fahri.

Fotografer itu memulai aba-abanya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tig-”

Belum sempat memotret Fadil datang menganggu mereka, lalu ia pun duduk di bawah untuk ikut berfoto bersama teman Kakaknya.

“FADILLLL,” teriak teman-teman Zaffran bersamaan.

“Eh iya bang, maaf bang.” Fadil pun pergi meninggalkan mereka.

Seperti itulah Fadil, ia hobi sekali mengganggu teman-teman Kakaknya. Bahkan mereka pun sampai hafal dengan kelakuan adiknya Zaffran yang satu itu.

“Oke, kita mulai lagi ya,” ucap fotografer sembari memainkan jarinya.

“Satu....”

“Dua....”

“Tiga...”

“Senyummm!”

Usia berfoto, mereka pun langsung berpelukan dan memberikan selamat sebelum pergi untuk makan. Begitu juga dengan Zaffran yang membalas pelukan mereka.

“Zaff! Han! Kita tinggal makan dulu ya,” ucap Kevin.

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Makan dulu ya, bro.”

“Zaff, gue makan dulu ya.” Reza menepuk bahu Zaffran lalu pergi menyusul temannya.

“Zaff, gue makan juga ya,” ucap Fahri lalu pergi menyusul mereka.

Seperti itulah hari mereka, Zaffran dan Hana telah 'sah' menjadi sepasang suami dan istri. Hana berpikir, mungkin harinya akan terasa buruk pasca pernikahannya dengan Zaffran. Tapi ternyata tidak, ia justru merasa nyaman terus bersandar di bahu Zaffran. Bahkan ia sendiri tak menyadari, bahwa bahu suaminya itu benar-benar terasa pegal karena ia terus bersandar di bahunya.

© axcelineee Titi

Kevin as dokter spesialis bedah, Fikri as dokter spesialis jantung, Reza as dokter spesialis saraf.


Usai pemakaian cincin, Zaffran dan Hana kembali ke pelaminan untuk meminta berkat dari keluarganya. Begitu acara sungkeman selesai, mereka langsung diiringi ke kursi pelaminan.

Kini, Hana harus menghadapi panasnya baju kebaya yang ia kenakan ini hingga malam hari nanti. Sebenarnya ia tak mau menikah dengan menggunakan adat Jawa, tapi apalah daya? Oma dan keluarga Zaffran bersikeras untuk menggunakan adat Jawa di pernikahannya itu.

Semua tamu undangan bergilir mengucapkan selamat kepada Zaffran dan juga Hana. Begitu juga dengan teman sekelas Hana yang datang memberikan selamat.

“Han, selamat ya.” Adji memberikan selamat kepada Hana dan suaminya.

“Makasih ya, Pak kosma.” Hana membalas dengan singkat.

Adji memeluk Zaffran. “Kamu keren lho Zaff, bisa menyakinkan orang cerewet kayak dia.

“Oh iya?” Zaffran terkekeh.

Hana menepuk bahu suaminya. “Kak, nggak usah dengerin apa kata si Adji, bohong dia tuh.”

Zaffran membelai rambut istrinya. “Gak apa-apa, mau kamu cerewet atau tidak, saya tetap suka kok.”

“Kok gitu sih?”

“Iya karena, saya suka wanita yang cerewet. Soalnya Ayah pernah bilang, kalau Bunda dulunya sama seperti kamu. Dia cerewet, bawel, pokoknya sama seperti kamu. Tapi Ayah benar-benar menyukai Bunda, bahkan Ayah ingin sekali menikahinya,” ujar Zaffran menjelaskan.

“Oh iya? Kenapa Ayah ingin sekali menikahi Bunda?” tanya Hana penasaran.

Zaffran menghela napasnya. “Iya karena, sikap cerewet dan bawelnya Bunda, itu membuat hati Ayah merasa nyaman kalo ada di dekatnya. Karena itulah, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu.”

“Ohoho, ceritanya Kakak lagi nostalgia kisah Ayah dan Bunda nih,” sambung Abdul tiba-tiba.

Zaffran dan Hana tersenyum bersamaan begitu sang Ayah muncul di hadapannya. “Kakak lihat Chelsea nggak?” tanya Abdul.

“Kayaknya lagi sama temen aku deh, Yah. Soalnya aku liat, Maura lagi sama adik.” Hana menjawab mendahului Zaffran.

“Begitu ya, ya sudah makasih ya Nak.”

Usai berbincang-bincang, mereka kembali di sambut oleh para tamu yang hadir. Semua kerabat dekat bersalaman secara giliran, hingga seseorang datang memanggil namanya.

“ZAFFRAN,” teriak Kevin dari kejauhan.

Fahri, Kevin, Fikri, dan juga Reza, mereka berjalan mendekati kursi pelaminan. Zaffran terkekeh, sementara sang istri ia hanya terdiam mematung melihat teman-teman suaminya itu.

Kevin memeluk erat tubuh Zaffran. “Gerak cepat kamu ya Zaff, pulang-pulang dari seminar langsung dapet jodoh kamu.”

Zaffran dan juga temannya terkekeh bersamaan. “Iya mau bagaimana lagi? Saya pun juga terkejut begitu Ayah mengumumkan perjodohanku waktu itu.”

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Mbok dikenalin toh itu yang di sebelahnya, jangan dianggurin mulu lah.”

Zaffran tersenyum ke arah istrinya. “Oh iya Han, kenalin ini teman-temanku. Kamu pasti sudah kenal Fahri ya,” ujar Zaffran memberitahu.

Fahri memberikan salam kepada Hana, begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Nah, kalo yang pakai baju biru ini namanya Kevin, kalo yang pakai baju hitam itu namanya Reza. Dan yang pakai jaket itu, namanya Fikri. Dan untuk kalian semua, ini istriku. Hana namanya,” ujar Zaffran memberitahu.

Kevin, Fikri, dan juga Reza memberikan salam hangat untuk Hana. Begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.

“Zaff, mereka semua dokter?” bisik Hana.

“Iya Han, mereka teman kerjaku semua. Kecuali Fahri, kami sudah berteman sejak kuliah,” ucap Zaffran.

Hana mengangguk. “Oh gitu.”

Mereka semua berbincang-bincang terlebih dahulu kepada Zaffran sebelum para tamu lainnya hadir. Sementara Hana, ia hanya menyandarkan tubuhnya ke bahu Zaffran.

“Zaff, foto dulu yuk.” Fikri bicara tiba-tiba dan membuat Hana pun terbangun dari sandarannya.

“Pake kamera gue aja nih,” ucap Reza sembari memberikan kameranya.

“Pak, tolong fotoin kita berenam ya, pengantinnya harus terlihat jelas oke.” Reza menjelaskan kepada sang kameramen.

Mereka semua pun berjejer dan mengatur barisannya. Hana memegang lengan dan bersandar di bahu Zaffran, sementara Fikri dan Reza berdiri di sebelah Zaffran dan yang berdiri di sebelah Hana ialah Kevin dan Fahri.

“Satu, dua, tig-”

Fadil datang menganggu pemotretannya, lalu duduk di bawah untuk ikut berfoto bersama teman Kakaknya itu. “FADILLLL,” teriak teman-teman Zaffran bersamaan.

“Eh iya bang, maaf bang.” Fadil pun pergi meninggalkan mereka.

Seperti itulah Fadil, ia hobi sekali mengganggu teman-teman Kakaknya itu. Bahkan mereka pun sampai hafal dengan kelakuan adiknya Zaffran itu.

“Oke kita mulai lagi ya,” ucap kameramen. “Satu, dua, tiga, senyummm!”

Mereka pun langsung berpelukan dan memberikan selamat sebelum pergi untuk makan. Begitu juga dengan Zaffran yang membalas pelukan mereka.

“Zaff! Han! Kita tinggal makan dulu ya,” ucap Kevin.

Fikri menepuk bahu Zaffran. “Makan dulu ya, bro.”

“Zaff, gue makan dulu ya.” Reza menepuk bahu Zaffran lalu pergi menyusul temannya.

“Zaff, gue makan juga ya,” ucap Fahri lalu pergi menyusul mereka.

Seperti itulah harinya, mereka telah 'sah' menjadi sepasang suami dan istri. Hana berpikir, mungkin harinya akan terasa buruk pasca pernikahannya itu. Tapi ternyata tidak, ia justru merasa nyaman terus bersandar di bahu Zaffran. Bahkan ia tak menyadari, bahwa bahu suaminya itu benar-benar terasa pegal akibat dirinya yang terus bersandar di bahunya itu.

© axcelineee Titi

cw // mention of kiss

Lagu rekomendasinya jangan lupa di setel ya!


Hari ini adalah hari di mana Zaffran dan Hana akan menikah. Siapa yang tahu, bahwa dua insan yang tak pernah saling bertemu dan mencintai ini, mereka akan dipersatukan oleh semesta dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan, yang di mana keduanya akan memikul sebuah tanggung jawab besar.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai dibacakan, hal itu sukses membuat mata mungil Hana menangis pilu. Suara indah mertuanya, membuat ia tak bisa berkata apapun lagi. Namun, tiba-tiba saja dalam lamunannya ia teringat dengan sosok Mamanya.

“Mama dateng nggak ya?”

Oma membelai rambut cucunya. “Dateng sayang, percaya deh sama Oma. Kamu kan mau menikah, nggak mungkin Mamamu nggak dateng toh,” kata Oma sembari mengusap air matanya. “Sudah jangan sedih dong, kalo kamu sedih nanti make-upnya buyar semua lho,” lanjut Oma. Hana pun tersenyum dan lega begitu mendengar perkataan Oma nya.

Melihat obrolan nenek dan cucunya, Hasan pun terdiam mematung. Ia pun mendekatinya lalu membelai rambut putrinya. “Anak Papa sudah besar ternyata ya,” ucap Hasan sembari meneteskan air mata bahagia.

Hana memeluk Papanya. “Pa, doain Hana ya, supaya Hana bisa menerima Zaffran dengan ikhlas dan melupakan Gala dengan lapang dada.”

Hasan melepaskan pelukannya lalu memegang lengan putrinya. “Iya, Papa pasti doakan kok.”

“Iya tapi jangan doanya saja. Kamu yang bakal jadi istrinya, ya kamu juga harus berusaha,” sambung Oma.

Hana menundukkan kepalanya. “Iya Oma.”

Di tengah obrolan mereka, Ifa saudaranya tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. “Oma! Om Hasan! Kata Pak penghulu, ijab qobulnya bisa dimulai sekarang jeh.”

Yowes, kalo gitu kamu temani Hana disini ya.”

“Iya Oma,” kata Ifa.

“Han, Papa sama Oma ke depan dulu ya,” ucap Hasan sembari mengelus kepala Hana lalu pergi.

Hasan dan Oma langsung bergegas pergi menuju ruang akad. Kini, Hasan dan Zaffran saling berhadapan. Tak hanya mereka berdua, ada juga Pak Imran selaku penghulu yang menemani mereka.

“Nak, sebelum dimulai, boleh saya bertanya terlebih dahulu?” tanya Imran.

“Boleh Pak, katakan saja.” Zaffran menjawab dengan singkat.

“Nak Zaffran, apakah sudah siap membina rumah tangga?”

Insyaallah, siap Pak.”

“Nak Zaffran sudah paham belum, mengenai kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap istrinya?” tanya Imran.

“Sudah paham kok, Pak.” Zaffran menjawab dengan singkat.

Imran memperhatikan setiap detik jam. “Baiklah kalau begitu, bisa dimulai sekarang ya,” ucap Imran.

“Baik Pak,” ucap Hasan.

Imran memegang tangan Zaffran. “Nak Zaffran, fokus dan dengarkan Pak Hasan baik-baik. Jangan gugup oke.”

Zaffran menghela napasnya. “Bismillah,” batinnya.

Hasan menjabat tangannya terlebih dahulu pada Zaffran, begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Hasan perlahan mulai mengucapkan kalimat ijabnya.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mahendra Zaffran Al-Ghifari bin Abdul Al-Ghifari dengan anak saya yang bernama Hana Maheswari dengan mas kawin 85,6 gram emas, dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Zaffran menghela napasnya lega usai mengucapkan kalimat qobulnya.

Semua orang di ruangan terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Bagaimana para hadirin, sah?” tanya Pak Imran sembari menengok ke arah keluarga mempelai dan juga para tamu.

“SAHHH!” Semua keluarga dan juga para tamu menjawab dengan penuh semangat.

Usai kata sah diucapkan, Pak Imran langsung membacakan doa-doanya. Semua orang di sana berteriak aamiin, begitu juga dengan Hana yang berada di dalam kamar.

Abdul mengelus punggung putranya. “Nak, jemput istrimu dan bawa dia kemari,” ucap Abdul sembari mendorong lembut Zaffran.

Usai ijab qobul berakhir, tangis haru menetes dari mata Hana, begitu ia mendengar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Zaffran. Tak hanya Hana yang menangis, Papa dan Oma nya pun sama sedihnya dengan Hana.

“Ya Allah, ini beneran aku udah nikah?” kata Hana seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

•••••

Maura berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Hana. Sesampainya di kamar, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. “Han, selamat ya. Lo tau nggak sih, gue seneng banget,” ucap Maura sambil menangis.

“Han, ayo siap-siap! Suamimu sudah di depan kamar lho,” ucap Ifa tiba-tiba.

“DEMI APA? SUMPAH? YA ALLAH, GUE BENERAN UDAH NIKAH SAMA SI ZAFFRAN GITU? Hana memijat keningnya dengan frustasi.

Maura dan Ifa memeluk Hana. “Iya beneran lah, masa iya bohongan,” ucap Maura dan Ifa bersamaan.

Tok, tok, tok….

Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Hana, ia pun bersiap diri untuk bertemu dengannya. Zaffran perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kini, mata mereka saling bertemu satu sama lain.

Assalamu'alaikum, bidadariku.”

Maura dan Ifa tersenyum sembari menyenggol Hana yang masih terdiam itu. “Ya Allah, dia manusia atau bukan?” batin Hana bicara.

Masyaallah, cantiknya bidadariku ini.” Zaffran meraih wajah Hana dengan tersenyum.

“Heh, nggak usah modus lo.” Hana menyangkalnya.

“Saya nggak modus, Han. Serius deh, kamu itu sangat cantik dengan baju pengantin ini.”

Semua orang menyoraki mereka berdua. “Cieee, Mba Hana. Dibilang cantik nggak tuh.”

Hana mencubit pinggang suaminya. “Suttt, diem coba! Gue malu tau,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Zaffran tersenyum. “Ini cubitan pertamamu dan rasanya sangat menyenangkan, sepertinya akan lebih baik jika saya memujimu di depan umum terus ya,” bisik Zaffran.

“Zaffran!” pekik Hana sembari menepuk bahu suaminya.

Di tengah obrolan keduanya, Abdul datang menghampiri mereka sembari menyerahkan cincinnya. “Kak, pakaikan saja di sini.”

Zaffran dan Hana saling menatap, lalu melihat ke arah pintu dan terlihat keluarganya berkumpul semua diantara tamu undangan yang hadir di dalam.

“Ayo Zaff!” pinta Pak Imran.

Zaffran mengambil cincinnya, kemudian ia meraih tangan Hana dan memakaikan cincin di jari manisnya. Begitu pula dengan Hana, ia memakaikan cincin di jari manis Zaffran.

Usai pemakaian cincin, Hana meraih tangan sang suami lalu menciumnya. Sementara Zaffran, ia meletakkan tangannya di atas kepala Hana sembari mendoakan untuk kebaikan pernikahannya.

“Ebusettt, tangannya wangi banget dah,” batin Hana bicara sembari menikmati aroma harum di tangannya.

Begitu Hana selesai mencium tangannya, Zaffran langsung mencium kening dan juga kedua mata Hana dengan penuh kasih.

“Han, izinkan saya menjadi bagian dari tulang rusukmu. Izinkan saya pula, untuk menjadi tempatmu bersandar dikala kamu sedih dan senang. Dan terakhir, izinkan saya, untuk terus membahagiakan kamu sampai kita tua nanti,” ujar Zaffran usai mencium kening dan juga matanya.

Hana spontan memeluk Zaffran, ia menangis dalam pelukannya. “Ini terlalu indah buat gue denger tau Zaff,” lirihnya.

Itulah Zaffran, mengecup kening dan kedua mata sang istri, memiliki arti tersendiri baginya. Ia memang tak bisa merangkai kata-kata indah seperti laki-laki pada umumnya. Tapi Zaffran? Dengan kata izin yang ia ucapkan berkali-kali, hal itu mampu membuat hati mungil Hana menangis mendengarnya.

© axcelineee Titi

user479119246 · Maher Zain – Sepanjang Hidup

cw // mention of kiss

Lagu rekomendasinya jangan lupa di setel ya! Kalian bisa pencet listen in browser buat dengerinnya ya...


Hari ini adalah hari di mana Zaffran dan Hana akan menikah. Siapa yang tahu, bahwa dua insan yang tak pernah saling bertemu dan mencintai ini, mereka akan dipersatukan oleh semesta dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan, yang di mana keduanya akan memikul sebuah tanggung jawab besar.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai dibacakan, hal itu sukses membuat mata mungil Hana menangis pilu. Suara indah mertuanya, membuat ia tak bisa berkata apapun lagi. Namun, tiba-tiba saja dalam lamunannya ia teringat dengan sosok Mamanya.

“Mama dateng nggak ya?”

Oma membelai rambut cucunya. “Dateng sayang, percaya deh sama Oma. Kamu kan mau menikah, nggak mungkin Mamamu nggak dateng toh,” kata Oma sembari mengusap air matanya. “Sudah jangan sedih dong, kalo kamu sedih nanti make-upnya buyar semua lho,” lanjut Oma. Hana pun tersenyum dan lega begitu mendengar perkataan Oma nya.

Melihat obrolan nenek dan cucunya, Hasan pun terdiam mematung. Ia pun mendekatinya lalu membelai rambut putrinya. “Anak Papa sudah besar ternyata ya,” ucap Hasan sembari meneteskan air mata bahagia.

Hana memeluk Papanya. “Pa, doain Hana ya, supaya Hana bisa menerima Zaffran dengan ikhlas dan melupakan Gala dengan lapang dada.”

Hasan melepaskan pelukannya lalu memegang lengan putrinya. “Iya, Papa pasti doakan kok.”

“Iya tapi jangan doanya saja. Kamu yang bakal jadi istrinya, ya kamu juga harus berusaha,” sambung Oma.

Hana menundukkan kepalanya. “Iya Oma.”

Di tengah obrolan mereka, Ifa saudaranya tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. “Oma! Om Hasan! Kata Pak penghulu, ijab qobulnya bisa dimulai sekarang jeh.”

Yowes, kalo gitu kamu temani Hana disini ya.”

“Iya Oma,” kata Ifa.

“Han, Papa sama Oma ke depan dulu ya,” ucap Hasan sembari mengelus kepala Hana lalu pergi.

Hasan dan Oma langsung bergegas pergi menuju ruang akad. Kini, Hasan dan Zaffran saling berhadapan. Tak hanya mereka berdua, ada juga Pak Imran selaku penghulu yang menemani mereka.

“Nak, sebelum dimulai, boleh saya bertanya terlebih dahulu?” tanya Imran.

“Boleh Pak, katakan saja.” Zaffran menjawab dengan singkat.

“Nak Zaffran, apakah sudah siap membina rumah tangga?”

Insyaallah, siap Pak.”

“Nak Zaffran sudah paham belum, mengenai kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap istrinya?” tanya Imran.

“Sudah paham kok, Pak.” Zaffran menjawab dengan singkat.

Imran memperhatikan setiap detik jam. “Baiklah kalau begitu, bisa dimulai sekarang ya,” ucap Imran.

“Baik Pak,” ucap Hasan.

Imran memegang tangan Zaffran. “Nak Zaffran, fokus dan dengarkan Pak Hasan baik-baik. Jangan gugup oke.”

Zaffran menghela napasnya. “Bismillah,” batinnya.

Hasan menjabat tangannya terlebih dahulu pada Zaffran, begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Hasan perlahan mulai mengucapkan kalimat ijabnya.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mahendra Zaffran Al-Ghifari bin Abdul Al-Ghifari dengan anak saya yang bernama Hana Maheswari dengan mas kawin 85,6 gram emas, dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Zaffran menghela napasnya lega usai mengucapkan kalimat qobulnya.

Semua orang di ruangan terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Bagaimana para hadirin, sah?” tanya Pak Imran sembari menengok ke arah keluarga mempelai dan juga para tamu.

“SAHHH!” Semua keluarga dan juga para tamu menjawab dengan penuh semangat.

Usai kata sah diucapkan, Pak Imran langsung membacakan doa-doanya. Semua orang di sana berteriak aamiin, begitu juga dengan Hana yang berada di dalam kamar.

Abdul mengelus punggung putranya. “Nak, jemput istrimu dan bawa dia kemari,” ucap Abdul sembari mendorong lembut Zaffran.

Usai ijab qobul berakhir, tangis haru menetes dari mata Hana, begitu ia mendengar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Zaffran. Tak hanya Hana yang menangis, Papa dan Oma nya pun sama sedihnya dengan Hana.

“Ya Allah, ini beneran aku udah nikah?” kata Hana seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

•••••

Maura berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Hana. Sesampainya di kamar, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. “Han, selamat ya. Lo tau nggak sih, gue seneng banget,” ucap Maura sambil menangis.

“Han, ayo siap-siap! Suamimu sudah di depan kamar lho,” ucap Ifa tiba-tiba.

“DEMI APA? SUMPAH? YA ALLAH, GUE BENERAN UDAH NIKAH SAMA SI ZAFFRAN GITU? Hana memijat keningnya dengan frustasi.

Maura dan Ifa memeluk Hana. “Iya beneran lah, masa iya bohongan,” ucap Maura dan Ifa bersamaan.

Tok, tok, tok….

Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Hana, ia pun bersiap diri untuk bertemu dengannya. Zaffran perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kini, mata mereka saling bertemu satu sama lain.

Assalamu'alaikum, bidadariku.”

Maura dan Ifa tersenyum sembari menyenggol Hana yang masih terdiam itu. “Ya Allah, dia manusia atau bukan?” batin Hana bicara.

Masyaallah, cantiknya bidadariku ini.” Zaffran meraih wajah Hana dengan tersenyum.

“Heh, nggak usah modus lo.” Hana menyangkalnya.

“Saya nggak modus, Han. Serius deh, kamu itu sangat cantik dengan baju pengantin ini.”

Semua orang menyoraki mereka berdua. “Cieee, Mba Hana. Dibilang cantik nggak tuh.”

Hana mencubit pinggang suaminya. “Suttt, diem coba! Gue malu tau,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Zaffran tersenyum. “Ini cubitan pertamamu dan rasanya sangat menyenangkan, sepertinya akan lebih baik jika saya memujimu di depan umum terus ya,” bisik Zaffran.

“Zaffran!” pekik Hana sembari menepuk bahu suaminya.

Di tengah obrolan keduanya, Abdul datang menghampiri mereka sembari menyerahkan cincinnya. “Kak, pakaikan saja di sini.”

Zaffran dan Hana saling menatap, lalu melihat ke arah pintu dan terlihat keluarganya berkumpul semua diantara tamu undangan yang hadir di dalam.

“Ayo Zaff!” pinta Pak Imran.

Zaffran mengambil cincinnya, kemudian ia meraih tangan Hana dan memakaikan cincin di jari manisnya. Begitu pula dengan Hana, ia memakaikan cincin di jari manis Zaffran.

Usai pemakaian cincin, Hana meraih tangan sang suami lalu menciumnya. Sementara Zaffran, ia meletakkan tangannya di atas kepala Hana sembari mendoakan untuk kebaikan pernikahannya.

“Ebusettt, tangannya wangi banget dah,” batin Hana bicara sembari menikmati aroma harum di tangannya.

Begitu Hana selesai mencium tangannya, Zaffran langsung mencium kening dan juga kedua mata Hana dengan penuh kasih.

“Han, izinkan saya menjadi bagian dari tulang rusukmu. Izinkan saya pula, untuk menjadi tempatmu bersandar dikala kamu sedih dan senang. Dan terakhir, izinkan saya, untuk terus membahagiakan kamu sampai kita tua nanti,” ujar Zaffran usai mencium kening dan juga matanya.

Hana spontan memeluk Zaffran, ia menangis dalam pelukannya. “Ini terlalu indah buat gue denger tau Zaff,” lirihnya.

Itulah Zaffran, mengecup kening dan kedua mata sang istri, memiliki arti tersendiri baginya. Ia memang tak bisa merangkai kata-kata indah seperti laki-laki pada umumnya. Tapi Zaffran? Dengan kata izin yang ia ucapkan berkali-kali, hal itu mampu membuat hati mungil Hana menangis mendengarnya.

© axcelineee Titi

user479119246 · Maher Zain – Sepanjang Hidup

cw // mention of kiss

Lagu rekomendasinya jangan lupa di setel ya!


Hari ini adalah hari di mana Zaffran dan Hana akan menikah. Siapa yang tahu, bahwa dua insan yang tak pernah saling bertemu dan mencintai ini, mereka akan dipersatukan oleh semesta dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan, yang di mana keduanya akan memikul sebuah tanggung jawab besar.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai dibacakan, hal itu sukses membuat mata mungil Hana menangis pilu. Suara indah mertuanya, membuat ia tak bisa berkata apapun lagi. Namun, tiba-tiba saja dalam lamunannya ia teringat dengan sosok Mamanya.

“Mama dateng nggak ya?”

Oma membelai rambut cucunya. “Dateng sayang, percaya deh sama Oma. Kamu kan mau menikah, nggak mungkin Mamamu nggak dateng toh,” kata Oma sembari mengusap air matanya. “Sudah jangan sedih dong, kalo kamu sedih nanti make-upnya buyar semua lho,” lanjut Oma. Hana pun tersenyum dan lega begitu mendengar perkataan Oma nya.

Melihat obrolan nenek dan cucunya, Hasan pun terdiam mematung. Ia pun mendekatinya lalu membelai rambut putrinya. “Anak Papa sudah besar ternyata ya,” ucap Hasan sembari meneteskan air mata bahagia.

Hana memeluk Papanya. “Pa, doain Hana ya, supaya Hana bisa menerima Zaffran dengan ikhlas dan melupakan Gala dengan lapang dada.”

Hasan melepaskan pelukannya lalu memegang lengan putrinya. “Iya, Papa pasti doakan kok.”

“Iya tapi jangan doanya saja. Kamu yang bakal jadi istrinya, ya kamu juga harus berusaha,” sambung Oma.

Hana menundukkan kepalanya. “Iya Oma.”

Di tengah obrolan mereka, Ifa saudaranya tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. “Oma! Om Hasan! Kata Pak penghulu, ijab qobulnya bisa dimulai sekarang jeh.”

Yowes, kalo gitu kamu temani Hana disini ya.”

“Iya Oma,” kata Ifa.

“Han, Papa sama Oma ke depan dulu ya,” ucap Hasan sembari mengelus kepala Hana lalu pergi.

Hasan dan Oma langsung bergegas pergi menuju ruang akad. Kini, Hasan dan Zaffran saling berhadapan. Tak hanya mereka berdua, ada juga Pak Imran selaku penghulu yang menemani mereka.

“Nak, sebelum dimulai, boleh saya bertanya terlebih dahulu?” tanya Imran.

“Boleh Pak, katakan saja.” Zaffran menjawab dengan singkat.

“Nak Zaffran, apakah sudah siap membina rumah tangga?”

Insyaallah, siap Pak.”

“Nak Zaffran sudah paham belum, mengenai kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap istrinya?” tanya Imran.

“Sudah paham kok, Pak.” Zaffran menjawab dengan singkat.

Imran memperhatikan setiap detik jam. “Baiklah kalau begitu, bisa dimulai sekarang ya,” ucap Imran.

“Baik Pak,” ucap Hasan.

Imran memegang tangan Zaffran. “Nak Zaffran, fokus dan dengarkan Pak Hasan baik-baik. Jangan gugup oke.”

Zaffran menghela napasnya. “Bismillah,” batinnya.

Hasan menjabat tangannya terlebih dahulu pada Zaffran, begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Hasan perlahan mulai mengucapkan kalimat ijabnya.

“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mahendra Zaffran Al-Ghifari bin Abdul Al-Ghifari dengan anak saya yang bernama Hana Maheswari dengan mas kawin 85,6 gram emas, dibayar tunai.”

“Saya terima nikahnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Zaffran menghela napasnya lega usai mengucapkan kalimat qobulnya.

Semua orang di ruangan terdiam dan saling menatap satu sama lain.

“Bagaimana para hadirin, sah?” tanya Pak Imran sembari menengok ke arah keluarga mempelai dan juga para tamu.

“SAHHH!” Semua keluarga dan juga para tamu menjawab dengan penuh semangat.

Usai kata sah diucapkan, Pak Imran langsung membacakan doa-doanya. Semua orang di sana berteriak aamiin, begitu juga dengan Hana yang berada di dalam kamar.

Abdul mengelus punggung putranya. “Nak, jemput istrimu dan bawa dia kemari,” ucap Abdul sembari mendorong lembut Zaffran.

Usai ijab qobul berakhir, tangis haru menetes dari mata Hana, begitu ia mendengar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Zaffran. Tak hanya Hana yang menangis, Papa dan Oma nya pun sama sedihnya dengan Hana.

“Ya Allah, ini beneran aku udah nikah?” kata Hana seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.

•••••

Maura berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Hana. Sesampainya di kamar, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. “Han, selamat ya. Lo tau nggak sih, gue seneng banget,” ucap Maura sambil menangis.

“Han, ayo siap-siap! Suamimu sudah di depan kamar lho,” ucap Ifa tiba-tiba.

“DEMI APA? SUMPAH? YA ALLAH, GUE BENERAN UDAH NIKAH SAMA SI ZAFFRAN GITU? Hana memijat keningnya dengan frustasi.

Maura dan Ifa memeluk Hana. “Iya beneran lah, masa iya bohongan,” ucap Maura dan Ifa bersamaan.

Tok, tok, tok….

Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Hana, ia pun bersiap diri untuk bertemu dengannya. Zaffran perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kini, mata mereka saling bertemu satu sama lain.

Assalamu'alaikum, bidadariku.”

Maura dan Ifa tersenyum sembari menyenggol Hana yang masih terdiam itu. “Ya Allah, dia manusia atau bukan?” batin Hana bicara.

Masyaallah, cantiknya bidadariku ini.” Zaffran meraih wajah Hana dengan tersenyum.

“Heh, nggak usah modus lo.” Hana menyangkalnya.

“Saya nggak modus, Han. Serius deh, kamu itu sangat cantik dengan baju pengantin ini.”

Semua orang menyoraki mereka berdua. “Cieee, Mba Hana. Dibilang cantik nggak tuh.”

Hana mencubit pinggang suaminya. “Suttt, diem coba! Gue malu tau,” ucap Hana dengan sedikit kesal.

Zaffran tersenyum. “Ini cubitan pertamamu dan rasanya sangat menyenangkan, sepertinya akan lebih baik jika saya memujimu di depan umum terus ya,” bisik Zaffran.

“Zaffran!” pekik Hana sembari menepuk bahu suaminya.

Di tengah obrolan keduanya, Abdul datang menghampiri mereka sembari menyerahkan cincinnya. “Kak, pakaikan saja di sini.”

Zaffran dan Hana saling menatap, lalu melihat ke arah pintu dan terlihat keluarganya berkumpul semua diantara tamu undangan yang hadir di dalam.

“Ayo Zaff!” pinta Pak Imran.

Zaffran mengambil cincinnya, kemudian ia meraih tangan Hana dan memakaikan cincin di jari manisnya. Begitu pula dengan Hana, ia memakaikan cincin di jari manis Zaffran.

Usai pemakaian cincin, Hana meraih tangan sang suami lalu menciumnya. Sementara Zaffran, ia meletakkan tangannya di atas kepala Hana sembari mendoakan untuk kebaikan pernikahannya.

“Ebusettt, tangannya wangi banget dah,” batin Hana bicara sembari menikmati aroma harum di tangannya.

Begitu Hana selesai mencium tangannya, Zaffran langsung mencium kening dan juga kedua mata Hana dengan penuh kasih.

“Han, izinkan saya menjadi bagian dari tulang rusukmu. Izinkan saya pula, untuk menjadi tempatmu bersandar dikala kamu sedih dan senang. Dan terakhir, izinkan saya, untuk terus membahagiakan kamu sampai kita tua nanti,” ujar Zaffran usai mencium kening dan juga matanya.

Hana spontan memeluk Zaffran, ia menangis dalam pelukannya. “Ini terlalu indah buat gue denger tau Zaff,” lirihnya.

Itulah Zaffran, mengecup kening dan kedua mata sang istri, memiliki arti tersendiri baginya. Ia memang tak bisa merangkai kata-kata indah seperti laki-laki pada umumnya. Tapi Zaffran? Dengan kata izin yang ia ucapkan berkali-kali, hal itu mampu membuat hati mungil Hana menangis mendengarnya.

© axcelineee Titi