cw // mention of kiss
Kevin as dokter spesialis bedah, Fikri as dokter spesialis jantung, Reza as dokter spesialis saraf.
Lagu rekomendasinya jangan lupa di setel ya!
Hari ini adalah hari di mana Zaffran dan Hana akan menikah. Siapa yang tahu, bahwa dua insan yang tak pernah saling bertemu dan mencintai ini, mereka akan dipersatukan oleh semesta dalam sebuah ikatan pernikahan. Ikatan, yang di mana keduanya akan memikul sebuah tanggung jawab besar.
Lantunan ayat suci Al-Qur'an mulai dibacakan, hal itu sukses membuat mata mungil Hana menangis pilu. Suara indah mertuanya, membuat ia tak bisa berkata apapun lagi. Namun, tiba-tiba saja dalam lamunannya ia teringat dengan sosok Mamanya.
“Mama dateng nggak ya?”
Oma membelai rambut cucunya. “Dateng sayang, percaya deh sama Oma. Kamu kan mau menikah, nggak mungkin Mamamu nggak dateng toh,” kata Oma sembari mengusap air matanya. “Sudah jangan sedih dong, kalo kamu sedih nanti make-upnya buyar semua lho,” lanjut Oma. Hana pun tersenyum dengan lega begitu mendengar perkataan Oma nya.
Melihat obrolan nenek dan cucunya, Hasan pun terdiam mematung. Ia mendekati mereka lalu membelai rambut putrinya. “Anak Papa sudah besar ternyata ya,” ucap Hasan sembari meneteskan air mata bahagia.
Hana memeluk Papanya. “Pa, doain Hana ya, supaya Hana bisa menerima Zaffran dengan ikhlas dan melupakan Gala dengan lapang dada.”
Hasan melepaskan pelukannya lalu memegang pipi putrinya. “Iya sayang.”
“Iya tapi jangan doanya saja. Kamu yang bakal jadi istrinya, ya kamu juga harus berusaha,” sambung Oma.
Hana menundukkan kepalanya. “Iya Oma.”
Di tengah obrolan mereka, Ifa saudaranya tiba-tiba saja datang menghampiri mereka. “Oma! Om Hasan! Kata Pak penghulu, ijab qobulnya bisa dimulai sekarang jeh.”
“Yowes, kalo gitu kamu temani Hana disini ya.”
“Iya Oma,” kata Ifa.
“Han, Papa sama Oma ke depan dulu ya,” ucap Hasan sambil melambaikan tangannya.
Hasan dan Oma langsung bergegas pergi menuju ruang akad. Kini, Hasan dan Zaffran saling berhadapan. Tak hanya mereka berdua, ada juga Pak Imran selaku penghulu yang menemani mereka.
“Nak, sebelum dimulai, boleh saya bertanya terlebih dahulu?” tanya Imran.
“Boleh Pak, katakan saja.” Zaffran menjawab dengan singkat.
“Nak Zaffran, apakah sudah siap membina rumah tangga?”
“Insyaallah, siap Pak.”
“Nak Zaffran sudah paham belum, mengenai kewajiban-kewajiban seorang suami terhadap istrinya?” tanya Imran.
“Sudah, Pak.” Zaffran menjawab dengan singkat.
Imran memperhatikan setiap detik jam. “Baiklah kalau begitu, Pak Hasan bisa dimulai sekarang ya,” ucap Imran.
“Baik Pak,” ucap Hasan.
Imran memegang tangan Zaffran. “Nak Zaffran, fokus dan dengarkan Pak Hasan baik-baik. Jangan gugup oke.”
Zaffran menghela napasnya. “Bismillah,” batinnya.
Hasan menjabat tangannya terlebih dahulu pada Zaffran, begitu juga sebaliknya. Lalu setelah itu, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim Hasan perlahan mulai mengucapkan kalimat ijabnya.
“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Mahendra Zaffran Al-Ghifari bin Abdul Al-Ghifari dengan anak saya yang bernama Hana Maheswari dengan mas kawin 85,6 gram emas, dibayar tunai.”
“Saya terima nikahnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.” Zaffran menghela napas lega usai mengucapkan kalimat qobulnya.
Semua orang di ruangan terdiam dan saling menatap satu sama lain.
“Bagaimana para saksi, sah?” tanya Pak Imran sembari menengok ke arah keluarga mempelai dan juga para tamu.
“SAHHH!” Semua keluarga dan juga para tamu menjawab dengan penuh semangat.
Usai kata sah diucapkan, Pak Imran langsung membacakan doa-doanya. Semua orang di sana berteriak aamiin, begitu juga dengan Hana yang berada di dalam kamar.
Abdul mengelus punggung putranya. “Nak, jemput istrimu dan bawa dia kemari,” ucap Abdul sembari mendorong lembut Zaffran.
Usai ijab qobul berakhir, tangis haru menetes dari mata Hana, begitu ia mendengar bahwa dirinya telah sah menjadi istrinya Zaffran. Tak hanya Hana yang menangis, Papa dan Oma nya pun sama sedihnya dengan Hana.
“Ya Allah, ini beneran aku udah nikah?” kata Hana seolah tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.
•••••
Maura berjalan dengan terburu-buru menuju kamar Hana. Sesampainya di kamar, ia langsung memeluk sahabatnya dengan erat. “Han, selamat ya. Lo tau nggak sih, gue seneng banget,” ucap Maura sambil menangis.
“Han, ayo siap-siap! Suamimu sudah di depan kamar lho,” ucap Ifa tiba-tiba.
“DEMI APA? SUMPAH? YA ALLAH, GUE BENERAN UDAH NIKAH SAMA SI ZAFFRAN GITU? Hana memijat keningnya dengan frustasi.
Maura dan Ifa memeluk Hana. “Iya beneran lah, masa iya bohongan,” ucap Maura dan Ifa bersamaan.
Tok, tok, tok….
Suara ketukan pintu terdengar jelas di telinga Hana, ia pun bersiap diri untuk bertemu dengannya. Zaffran perlahan melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Kini, mata mereka saling bertemu satu sama lain.
“Assalamu'alaikum, bidadariku.”
Maura dan Ifa tersenyum sembari menyenggol Hana yang masih terdiam itu. “Ya Allah, dia manusia atau bukan?” batin Hana bicara saat menatap wajah Zaffran.
“Masyaallah, cantiknya bidadariku ini.” Zaffran meraih wajah Hana dengan tersenyum.
“Heh! Nggak usah modus lo.” Hana menyangkalnya.
“Saya nggak modus, Han. Serius deh, kamu itu sangat cantik dengan baju pengantin ini.”
Semua orang menyoraki mereka berdua. “Cieee, Mba Hana. Dibilang cantik nggak tuh.”
Hana mencubit pinggang suaminya. “Suttt, diem coba! Gue malu tau,” ucap Hana dengan sedikit kesal.
Zaffran tersenyum. “Ini cubitan pertamamu dan rasanya sangat menyenangkan, sepertinya akan lebih baik jika saya memujimu di depan umum terus ya,” bisik Zaffran.
“Zaffran!” pekik Hana sambil menepuk bahu suaminya.
Di tengah obrolan keduanya, Abdul datang menghampiri mereka sembari menyerahkan cincinnya. “Kak, pakaikan saja di sini ya.”
Zaffran dan Hana saling menatap, lalu melihat ke arah pintu dan terlihat keluarganya berkumpul semua diantara tamu undangan yang hadir di dalam.
“Ayo Zaff!” pinta Pak Imran.
Zaffran mengambil cincinnya, kemudian ia meraih tangan Hana dan memakaikan cincin di jari manisnya. Begitu pula dengan Hana, ia memakaikan cincin di jari manis Zaffran.

Begitu pemakaian cincin selesai, Hana meraih tangan sang suami lalu menciumnya. Sementara Zaffran, ia meletakkan tangannya di atas kepala Hana sambil berdo'a untuk kebaikan pernikahannya.
“Ebusettt, tangannya wangi banget dah,” batin Hana bicara sembari menikmati aroma harum di tangannya.
Begitu Hana selesai mencium tangannya, Zaffran langsung mencium kening dan juga kedua mata Hana dengan penuh kasih.
“Han, izinkan saya menjadi bagian dari tulang rusukmu. Izinkan saya pula, untuk menjadi tempatmu bersandar dikala kamu sedih dan senang. Dan terakhir, izinkan saya, untuk terus membahagiakan kamu sampai
kita tua nanti,” ujar Zaffran usai mencium kening dan juga matanya.
Hana spontan memeluk Zaffran, ia menangis dalam pelukannya. “Ini terlalu indah buat gue denger tau Zaff,” lirihnya.
Itulah Zaffran, mengecup kening dan kedua mata sang istri, memiliki arti tersendiri baginya. Ia memang tak bisa merangkai kata-kata indah seperti laki-laki pada umumnya. Tapi Zaffran? Dengan kata izin yang ia ucapkan berkali-kali, hal itu mampu membuat hati mungil Hana menangis mendengarnya.

Begitu acara pemakaian cincin selesai, Zaffran dan Hana kembali ke pelaminan untuk meminta berkat dari keluarganya. Begitu acara sungkeman selesai, mereka langsung diiringi ke kursi pelaminan.
Kini, Hana harus menghadapi panasnya baju kebaya yang ia kenakan ini hingga malam hari nanti. Sebenarnya ia tak mau menikah dengan menggunakan adat Jawa, tapi apalah daya? Oma dan keluarga Zaffran bersikeras untuk menggunakan adat Jawa di pernikahannya itu.
Semua tamu undangan bergilir mengucapkan selamat kepada Zaffran dan juga Hana. Begitu juga dengan teman sekelas Hana yang datang memberikan selamat.
“Han, selamat ya.” Adji memberikan selamat kepada Hana dan suaminya.
“Makasih ya, Pak kosma.” Hana membalas dengan singkat.
Adji memeluk Zaffran. “Kamu keren lho Zaff, bisa meyakinkan orang cerewet kayak dia.
“Oh iya?” Zaffran terkekeh.
Hana menepuk bahu sang suami. “Kak, nggak usah didengerin apa kata si Adji, bohong dia tuh.”
Zaffran membelai rambut istrinya. “Gak apa-apa, mau kamu cerewet atau tidak, saya tetap suka kok.”
“Kok gitu sih?”
“Iya karena, saya suka wanita yang cerewet. Soalnya Ayah pernah bilang, kalau Bunda dulunya sama seperti kamu. Dia cerewet, bawel, pokoknya sama seperti kamu. Tapi Ayah benar-benar menyukai Bunda, bahkan Ayah ingin sekali menikahinya,” ujar Zaffran menjelaskan.
“Oh iya? Tapi kenapa Ayah ingin sekali menikahi Bunda?” tanya Hana penasaran.
Zaffran menghela napasnya. “Iya karena, sikap cerewet dan bawelnya Bunda, itu membuat hati Ayah merasa nyaman kalo ada di dekatnya. Karena itulah, saya menyukai semua yang ada di dalam diri kamu.”
“Ohoho, ceritanya Kakak lagi nostalgia kisah Ayah dan Bunda nih,” sambung Abdul tiba-tiba.
Zaffran dan Hana tersenyum bersamaan begitu sang Ayah muncul di hadapannya.
“Han, Zaffran benar. Irawati juga dulu sama kayak kamu. Tapi setelah dia punya anak, seiring berjalannya waktu sifat dia jadi berubah,” ujar Abdul memberitahu.
Zaffran tersenyum ke arah Hana. “Tapi setelah punya anak, sifat kamu jangan berubah ya.”
“Tapi, kenapa aku nggak boleh berubah?” tanya Hana penasaran.
“Iya gak apa-apa, nanti kamu juga tau sendiri kok.
“Ishh, nyebelin banget sih,” ucap Hana dengan sedikit kesal.
Abdul merangkul ke bahu putranya. “Oh iya Kak, Kakak lihat Chelsea nggak?” tanya Abdul tiba-tiba.
“Yah, kayaknya lagi sama temen aku deh. Soalnya aku liat Maura lagi sama adik.” Hana menjawab mendahului Zaffran.
“Begitu ya, ya sudah makasih ya Nak.” Abdul pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah berbincang-bincang sangat lama, mereka kembali disambut oleh para tamu yang hadir. Semua kerabat dekat bersalaman secara giliran, hingga seseorang datang memanggil namanya.
“SENGGET,” teriak Kevin dari kejauhan.
Zaffran menengok ke arah sumber suara sambil mengerutkan kedua matanya.
Fahri, Kevin, Fikri, dan juga Reza, mereka berjalan mendekati kursi pelaminan.
Zaffran terkekeh, sementara sang istri ia hanya terdiam mematung melihat teman-teman suaminya itu.
Kevin memeluk erat tubuh Zaffran. “Gerak cepat kamu ya Zaff, pulang-pulang dari seminar langsung dapet jodoh kamu.”
Zaffran dan juga temannya terkekeh bersamaan. “Iya mau bagaimana lagi? Saya pun juga terkejut begitu Ayah mengumumkan perjodohanku waktu itu.”
Fikri menepuk bahu Zaffran. “Mbok ya dikenalin toh, itu yang di sebelahnya, jangan dianggurin mulu lah ngget.”
Zaffran terkekeh. “Oh iya, kalian belum kenal ya.”
Di tengah obrolan mereka, Hana hanya memiliki satu pertanyaan dipikirannya.
“Ngget? Kok ngget sih?” batin Hana bertanya-tanya.
Zaffran tersenyum ke arah istrinya. “Oh iya Han, kenalin ini teman-temanku. Kamu pasti sudah kenal Fahri kan ya,” ujar Zaffran memberitahu.
Fahri tersenyum ke arah Hana, begitu juga dengan Hana yang membalas dengan senyumannya.
“Nah, kalo yang pakai baju biru ini namanya Kevin, kalo yang pakai baju hitam itu namanya Reza. Dan yang pakai jaket itu, namanya Fikri. Dan untuk kalian semua, ini istriku. Hana namanya,” ujar Zaffran memberitahu.
Kevin, Fikri, dan juga Reza menyapa Hana dengan senyuman. Begitu juga Hana yang membalas dengan senyumannya.
“Zaff, mereka semua dokter?” bisik Hana.
“Iya Han, mereka teman kerjaku semua. Kecuali Fahri, kami sudah berteman lama sejak kuliah,” ucap Zaffran.
Hana mengangguk. “Oh gitu.”
“Oh iya Zaff, kok kamu dipanggil sengget sih sama mereka?” bisik Hana.
“Oh itu, saya juga nggak tau sih. Tapi mereka pernah bilang, kalo saya itu lebih tinggi daripada mereka. Itulah kenapa saya dipanggil sengget,” ujar Zaffran menjelaskan.
Hana mengerutkan matanya sambil mengukur tinggi kepala mereka dalam bayangannya. “Tinggi? Nggak ah, keliatannya tinggi kalian sama aja kok.”
“Itu dulu Han,” sambung Kevin tiba-tiba.
“Iya Han, dulu itu Zaffran lebih tinggi daripada kita. Tapi, kami panggil sengget iya karena kami senang aja dengan nama itu,” ujar Fikri menjelaskan.
“Iya pokoknya, nama sengget itu legend banget lah buat si Zaffran,” sambung Fahri.
“Kayak ada manis-manisnya gitu lho,” sambung Reza sembari menyandar di bahu Fahri.
“Manis-manisnya jeh, dikira laki gue le minerale apa?” batin Hana bicara dengan kesal.
Mereka semua masih berbincang-bincang kepada Zaffran, sebelum para tamu lainnya hadir mengucapkan selamat kepada mereka. Sementara Hana, karena tak punya teman bicara. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ke bahu Zaffran.
“Zaff, foto dulu yuk.” Fikri bicara tiba-tiba dan membuat Hana pun terbangun dari sandarannya.
“Pake kamera gue aja nih kalo mau foto,” ucap Reza sembari memberikan kameranya.
“Wihhh, sedia setiap saat ya lo.” Fikri mengambil kameranya.
“Pak, tolong fotoin kita berenam ya, pengantinnya harus terlihat jelas oke.” Reza menjelaskan kepada sang fotografer.
Mereka semua pun berjejer dan mengatur barisannya. Sementara Hana memegang lengan dan bersandar di bahu Zaffran. Sedangkan Fikri dan Reza, mereka berdiri di sebelah Zaffran dan yang berdiri di sebelah Hana ialah Kevin dan Fahri.
Fotografer itu memulai aba-abanya.
“Satu....”
“Dua....”
“Tig-”
Belum sempat memotret Fadil datang menganggu mereka, lalu ia pun duduk di bawah untuk ikut berfoto bersama teman Kakaknya.
“FADILLLL,” teriak teman-teman Zaffran bersamaan.
“Eh iya bang, maaf bang.” Fadil pun pergi meninggalkan mereka.
Seperti itulah Fadil, ia hobi sekali mengganggu teman-teman Kakaknya. Bahkan mereka pun sampai hafal dengan kelakuan adiknya Zaffran yang satu itu.
•••••
“Baiklah, kita mulai lagi ya,” ucap fotografer sembari memainkan jarinya.
“Satu....”
“Dua....”
“Tiga...”
“Senyummm!”
Selesai berfoto, mereka pun langsung berpelukan dan memberi selamat kepada Zaffran dan juga Hana sebelum pergi untuk makan. Begitu juga dengan Zaffran yang membalas pelukan mereka.
“Zaff! Han! Kita tinggal makan dulu ya,” ucap Kevin.
Fikri menepuk bahu Zaffran. “Makan dulu ya, bro.”
“Zaff, gue makan dulu ya.” Reza menepuk bahu Zaffran lalu pergi menyusul temannya.
“Zaff, gue makan juga ya,” ucap Fahri lalu pergi menyusul mereka.
Seperti itulah hari mereka, Zaffran dan Hana telah 'sah' menjadi sepasang suami dan istri. Hana berpikir, mungkin harinya akan terasa buruk pasca pernikahannya dengan Zaffran. Tapi ternyata tidak, ia justru merasa nyaman terus bersandar di bahu Zaffran. Bahkan ia sendiri tak menyadari, bahwa bahu suaminya itu benar-benar terasa pegal karena ia terus bersandar di bahunya.

© axcelineee
Titi