Bukan pernikahan impian.

Setiap perempuan pasti ingin sekali menikah dengan lelaki yang dicintainya. Tetapi, jika kenyataannya Hana harus menikah dengan lelaki yang tak dicintainya, Hana bisa apa?

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Hana Maheswari binti Hasan Maheswari dengan mas kawinnya berupa 80,5 gram emas dibayar tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?” tanya Pak penghulu.

“Sahhh!” jawab mereka serempak.

“Alhamdulillah …”

Riuh semua orang sembari mengangkat kedua tangannya dan berdoa untuk kebaikan pernikahan Zaffran dan Hana.

Deg!

Hana membelalak sempurna ke arah Oma-nya. “Sah? S-sah?” gumam Hana tak percaya. “Oma! Ini aku beneran udah jadi istri orang, ya?” lanjut Hana bertanya dengan nada sedikit tidak percaya.

Oma mengelus kepala Hana dengan penuh lembut. “Udah, Sayang.”

Hana berdecak sebal. Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Awas aja lo ya …, malam pertama gue tagih talak baru tau rasa lo,” batin Hana bicara.

Usai melaksanakan ijab qobul, Oma dan Bude Nisa segera mengantar Hana ke arah Zaffran yang tengah menjemput dirinya itu.

Diraihnya tangan Zaffran, lalu ia pegang dan berjalan bersama menuju kursi pelaminan.

“Zaff, dipasang cincinnya,” peringat Bunda kepada Zaffran.

Dengan segera, Zaffran pun mengambil cincin dan ia pasangkan ke jari mungil milik Hana yang begitu indah itu. Setelahnya, Hana pun mengambil cincin dan ia pasangkan juga ke jari Zaffran dengan gemetar dan ragu-ragu.

“Ayo, Han!” tegur Oma sambil memegang bahu Hana.

Hana terkejut bukan main, alhasil ia pun langsung memasangkan cincinnya dengan begitu cepat.

Hana menghela napas pasrah. “Untung aja gak jatoh cincinnya,” batin Hana bicara.

Oma menoel bahu Hana. “Cium tangannya dong, Han,” ucap Oma dan sukses membuat Hana bergidik ngeri mendengarnya.

“Cium? Yang bener aja anjir,” gumam Hana lagi.

Tidak ada gerakan dari Hana, Oma yang gemas melihatnya pun langsung menyatukan tangan mereka dengan cepat.

“Eh?” beo Hana dan sukses membuat Zaffran tersenyum menatapnya.

Tak ingin lama-lama memegang tangan Zaffran, Hana pun segera mencium punggung tangan Zaffran dan melepaskannya dengan kasar. Namun Zaffran yang hendak berdoa di atas ubun-ubun kepala Hana, ia hanya bisa menggeleng pasrah melihat tingkah lakunya itu.

“Lucu,” lirih Zaffran.

Dan setelah pemasangan cincin, mereka pun segera sungkem kepada orang tua dan keluarga besar lainnya untuk meminta doa dan restunya itu.

© jjaewookims.