Semua berawal saat aku membuat keributan untuk pertama kalinya. Dan kamu, orang pertama yang menghiburku.
Dia, Mahendra Zaffran Al-Ghifari. Datang membujukku, dan menghapus semua bebanku saat itu.
Flashback On. 10 Tahun yang lalu...
“Ekhem ….” Zaffran berdeham pelan, membuat gadis di tepi atap sana menoleh ke arahnya. “Kamu yang namanya Hana?” tanya Zaffran memastikan.
Hana tak menjawab, sepertinya ia enggan bicara dengan siapapun.
Zaffran pun duduk di sebelahnya. “Ngapain di sini?” tanya Zaffran memulai pembicaraan.
“Lo gak liat gue lagi ngapain?” ucap Hana dengan nada penuh kesal.
“Lagi duduk … persis seperti pengangguran yang gak punya tujuan dan arah,” jawab Zaffran.
Bughhh!
Tinjuan Hana sukses membuat Zaffran meringis kesakitan. “Sakit tau,” katanya sambil mengelus pipinya yang sakit.
“Lagian lo ngapain sih di sini?” omel Hana.
“Mau cari angin,” celetuk Zaffran.
“Gak ada tempat lain?” tanya Hana dengan ketus.
“Nggak ada, enak di sini,” jawab Zaffran sembari melihat-lihat ke atas langit.
Mendengar jawaban darinya, Hana menajamkan mata ke arahnya. “Jangan galak-galak, Mba,” ucap Zaffran sambil menutup mata gadis itu dengan tangannya.
Hana membuang muka. “Apaan sih?”
“Saya di kiri bukan di kanan, jangan dicuekin dong, dicuekin tuh gak enak tau,” ujar Zaffran yang masih berusaha mengajaknya bicara.
Hana menghela napas pasrah. “Ck, lo siapa sih sebenernya? Anaknya Pak Harto?” tanya Hana sarkastik.
“Bukan.”
“Terusss?”
Zaffran menjulurkan tangannya. “Zaffran, anaknya Bapak Abdul, siswa kelas 12 MIPA 6 atau lebih tepatnya Kakak kelas kamu,” ujar Zaffran memperkenalkan diri.
“Eh … sorry, Kak,” ucap Hana sopan sembari menunduk-nunduk.
“Gak apa-apa, santai aja,” balas Zaffran, “lagi sedih, ya?” tanyanya.
“Enggak, biasa aja sih,” jawab Hana sembari menendang-nendang kaki ke dinding.
“Ohhh, biasa aja,” gumam Zaffran. “Terus kenapa kamu ngehindar dari orang tua kamu?” celetuk Zaffran.
“Gak apa-apa, aku gak suka aja liat mereka berantem,” ujar Hana memberitahu. “Lagian kayak gak ada tempat berantem lagi aja tuh,” protesnya.
“Oh, gitu, masalahnya.” Zaffran mengangguk-angguk.
“Lagian aku tuh kesel banget liat mereka berantem terus tuh, Kak … capek tau,” ujar Hana bercerita.
“Kalo gitu, sebagai anak harusnya kamu yang membantu mereka berdamai bukan?” ujar Zaffran memberi saran.
Hana mengernyit tak mengerti. “Caranya?” tanya Hana.
“Ya, kamu harus cari tau dulu akar permasalahannya seperti apa,” jawab Zaffran. “Nah, kalo udah tau, baru deh kamu bantuin orang tua kamu buat baikkan. Kayak … kamu bantuin temen kamu yang lagi musuhan aja gitu,” lanjutnya memberitahu.
“Emang boleh, ya, ikut campur urusan orang tua, Kak?” tanya Hana tidak yakin.
“Selagi demi kebaikan bersama, ya, gak apa-apa,” jawab Zaffran. “Asalkan, kamu cari taunya jangan terlalu dalam, cukup inti permasalahannya aja,” lanjut Zaffran memberi saran.
Hana menoleh ke arahnya. “Oh, gitu … emang aku bisa?” tanya Hana memastikan.
“Bisa kok, kamu pasti bisa,” jawabnya meyakinkan.
“Kalo gak bisa?” Hana bertanya lagi.
Zaffran tersenyum. “Artinya kamu pesimis duluan,” jawabnya dengan jujur.
“Ck, nyebelin banget sih lo.” Hana memarahinya.
Zaffran terkekeh pelan. Kemudian ia berdiri sambil menjulurkan tangannya. “Jadi, bisakah kamu kembali ke kelas dan meredakan semua keributan ini?” pinta Zaffran. “Semua orang di bawah mencemaskan kamu tau,” lanjutnya memberitahu.
Hana berpikir sejenak kemudian mengelus dadanya. “Yaudah, ayo, Kak!” ajak Hana penuh semangat, dan kini ia bergandengan tangan dengannya.
Akhirnya, setelah Zaffran membujuk Hana, dia pun setuju untuk ikut bersamanya ke bawah. Mereka pun turun bersama, satu persatu anak tangga mereka lalui, dan sesampainya di bawah, bel tanda istirahat berbunyi, detik itu juga seluruh siswa beramai-ramai mengerubungi mereka. Tetapi Zaffran segera menghindar diri, pasalnya memang dia tidak suka dengan kebisingan. Kepergiannya, membuat Hana mendapat banyak pertanyaan yang tak mampu ia jawab. Hingga akhirnya, matanya mendapati seorang pria yang tengah berjalan menuju kelasnya, sontak Hana pun berlari mengerjakannya.
Hana berlari sembari melambaikan tangan. “Kak Zaffran, tunggu!” panggil Hana dengan terengah-engah.
Zaffran menghentikan langkahnya, membuat gadis itu berhenti berlari juga. Kemudian Ia menoleh ke belakang. “Iya, kenapa?” Zaffran bertanya.
“Kalo udah besar dan seandainya kita masih bisa ketemu, Kakak mau nikah sama aku nggak?” Hana meminta dengan santainya.
Ucapannya sontak membuat semua siswa kelas 12 yang mendengarnya langsung bersorak heboh. “Cieee, Zaffrannn,” ledek semua orang di koridor itu.
Zaffran terdiam. Sorot matanya menatap gadis di hadapannya, ia berkesimpulan bahwa Hana sedang bergurau.
Zaffran menggeleng. “Nggak tertarik,” tolak Zaffran mentah-mentah, kemudian pergi meninggalkannya.
“Yahhh, ditolak deh,” sorak semua orang di koridor sana, kali ini terdengar seperti nada kecewa.
“Kak, bentar,“ panggil Hana.
Zaffran menghentikan langkahnya lagi, kemudian menoleh ke belakang. Kali ini ia tak menjawab apapun, yang artinya ia menunggu Hana mengatakannya langsung.
Hana menghela napas berat. “Kalo minta nomornya boleh?” Hana bertanya sembari menunjukkan ponselnya.
“Nggak boleh,” jawab Zaffran lalu pergi meninggalkannya.
“Jiahhh, nggak dapet nomornya juga,” ledek semua orang di koridor sana.
Hana tak mendengar apapun, ia hanya terdiam seperti orang linglung, dan matanya masih saja menatap punggung pria itu. “Gila kali, ya, gue,” gumam Hana, lalu pergi dari sana.
Flashback Off.
Hana tersenyum. Ia memegangi pipinya yang dirasa memerah. Sepertinya, rasa malu saat itu kembali datang menghampirinya.
Ia tersenyum lagi. “Astaga, ada apa dengan diriku yang dulu itu,” ucapnya tak percaya, kemudian ia menghela napas pasrah. “Sungguh memalukan kamu, Han,” monolog Hana sembari menggeleng-gelengkan kepalanya seraya jijik.
Tetapi sekarang aku benar-benar tidak percaya, bahwa dulu seseorang yang menolakku berkali-kali, kini, aku dan dirinya akan menikah bulan depan.
Sungguh, rencana Tuhan benar-benar tak bisa dimengerti. Tapi apapun itu, aku sangat bersyukur karena dialah yang Tuhan pilih untuk mendampingiku seumur hidup.