Prolog
4 tahun lalu, Hanna Maheswari atau Hanna menghadiri acara meet and great perdana Diego bersama kedua temannya, Gilang dan Maudy. Hari itu perasaan Hanna sangat kalut, tak ingin berada di sana namun kedua temannya memaksa ia untuk hadir di acara tersebut. Kapan lagi meet and great dengan idola diadakan secara gratis? Tentu saja kedua teman Hanna yang sudah lebih dulu menyukai Diego akan menghadirinya, bukan sekedar karena suka gratisan melainkan mereka hanya ingin menghibur Hanna setelah apa yang menimpa dirinya dua minggu yang lalu. Sementara Hanna ia tidak suka dengan semua ini. Hanna lelah, ia muak dengan semua orang-orang sampai rasanya ingin mati.
Sampai akhirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Maudy, dan memutuskan untuk pergi dari kerumunan tersebut dan meninggalkan kedua temannya. Ia pun pergi menuju sebuah minimarket membeli minuman beralkohol. Sepertinya, rasa sakit akibat jatuh cinta pada pria benar-benar membuat luka besar di hatinya.
Dua langkah Hanna terasa berat karena terus teringat perkataan terakhir kekasihnya. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan membuatnya terdistraksi.
“Maaf, Kak,” ucap Hanna sambil menunduk, lengkap dengan nada lemahnya.
Bukannya mendengar ucapan Hanna, Zaffran justru melihat ke arah kantong plastik berisikan minuman beralkohol yang Hanna bawa. Lalu, ia mengambil kantong plastik itu dan menukarnya dengan sebuah album perdana Diego, lengkap dengan tanda tangan sang artis.
“Aku nggak tau seberat apa masalahmu, tapi menyiksa diri dengan minum-minum nggak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu boleh marah pada dunia, kamu boleh marah pada keadaan, bahkan kamu juga boleh marah pada semua orang kok. Tapi pikirkanlah keluargamu, hm?” Zaffran berucap sambil menulis beberapa kata-kata semangat pada album tersebut.
“Aku ambil ini,” ucap Zaffran sembari memegang kantong kresek itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu.
Hanna menghela napas berat, perkataan Zaffran terlalu menyayat hatinya. Ia tiba-tiba teringat Papa, Oma, dan juga kedua temannya. Sambil berjalan perlahan ia tersadar kantong kreseknya sudah berubah menjadi sebuah buku berukuran kecil, sebut aja album.
“Bertahanlah….”
Langkah Hanna berhenti setelah Zaffran mengatakan itu. Ia membalikkan badannya, menatap tepat mata Zaffran yang sedang menatapnya juga. Itu kali pertama ia bertemu dengan Zaffran dan kali pertamanya juga ia mengagumi seseorang lebih dulu.
“No way… nggak mungkin gue suka sama orang segampang ini,” ucap Hanna dalam hati.
Ah, tunggu!
Hanna membuka album tersebut dan melihat sebuah nama. San Diego.
“Hah? Diego? Tadi tuh Diegooo?! Cowok yang selalu Gilang dan Maudy omongin?” monolog Hanna dengan wajah penuh tidak percaya
Sejak saat itu, semangat hidup Hanna kembali. Diego adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan, juga alasan mengapa Hanna menyukai Diego.
Ia tidak tahu, bahwa pria yang memakai hoodie beserta masker di wajahnya itu bukanlah Diego, melainkan Zaffran.