<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
  <channel>
    <title>jjaewookims </title>
    <link>https://jjaewookims.writeas.com/</link>
    <description></description>
    <pubDate>Thu, 09 Apr 2026 03:13:47 +0000</pubDate>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-7zk3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagi kebanyakan orang, Hanna adalah orang yang ceria dan dikenal anti-romantic kelas dewa. Diajak kencan tidak mau, dikenalin ke cowok tidak mau, sampai ada yang confess pun dia tolak tanpa ba-bi-bu.&#xA;&#xA;Meskipun begitu, karakternya yang ceria. Dia selalu sibuk menutup topengnya yang lemah itu, Hanna selalu berusaha terlihat bahagia dan baik-baik saja di depan semua orang walau sebenernya dia rapuh.&#xA;&#xA;Hanna itu tipe orang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, walaupun pekerjaannya bukan yang sibuk-sibuk banget tapi dia suka menyibukkan diri. Alasannya hanya ingin lebih lama berada di kafenya. Selain itu, dia juga memang enggan berurusan dengan laki-laki. Baginya satu kali cukup tidak dengan kedua kalinya.&#xA;&#xA;Bisa dibilang dia trauma pasca ditinggal pacarnya yang hilang tanpa kabar apapun itu, jadi dia enggan untuk jatuh cinta lagi atau bahkan pacaran. Terlebih orang tuanya yang berpisah dengan alasan tidak masuk akal makin membuat dia enggan memikirkan laki-laki lagi. &#xA;&#xA;Sementara, Zaffran.&#xA;&#xA;Kebanyakan orang menilainya sebagai dokter yang dingin dan paling irit ngomong. Dia dingin ke semua orang kecuali pasiennya yang anak-anak karena memang dia dokter anak. Tapi tampang mengalahkan segalanya, wajahnya yang tampan dan berwibawa membuat kata dingin itu pun nggak berlaku bagi orang-orang. &#xA;&#xA;Sama seperti Hanna, dia tidak tertarik untuk pacaran. Itu salah satu alasan mengapa selama 28 tahun hidup ini dia masih melajang. Bedanya jika Hanna karena pernah ditinggalin, kalau Zaffran memang belum tertarik saja.&#xA;&#xA;Dijodohin tidak mau, dikenalin juga tidak mau, bahkan beberapa dokter muda yang confess pun nggak ada satupun yang dilirik olehnya. Alasannya selalu sama, nggak tertarik. Padahal temannya itu kepengen sekali sohibnya punya pacar, walau sendirinya masih gamon soal mantannya itu dia selalu sibuk memikirkan gimana caranya supaya Zaffran mau punya cewek. Tapi mau gimana pun usahanya, Zaffran tetap berpegang teguh pada pendiriannya.&#xA;&#xA;&#34;Lu nggak bosen apa jomblo terus?&#34; Fahri bertanya sambil meminum kopinya.&#xA;&#xA;&#34;Biasa aja,&#34; jawabnya singkat sambil mempelajari beberapa jurnal di komputernya.&#xA;&#xA;&#34;Bung, explore dunia coba biar pikiran lu nggak stuck di pasien terus. Minimal jatuh cinta lah terus pacaran.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Nggak tertarik.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Et dah masa sedikitpun lu nggak ngerasa jatuh cinta gitu sama orang? Dokter muda disini banyak yang cakep kok.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Cinta? Apa itu cinta? Lo aja putus sama Selina.&#34;&#xA;&#xA;Fahri meremas cup coffenya yang sudah habis. &#34;Kampret lu,&#34; ucapnya sembari melempar cup tersebut pada Zaffran. Yang dilempar hanya tersenyum sinis.&#xA;&#xA;Terlepas dari semua itu sebetulnya alasannya Zaffran adalah dia sudah menyukai seseorang sejak lama. Namun dia tidak tahu siapa gadis itu, namanya siapa? Tinggalnya dimana? Orang mana? Semua selalu terlintas dipikirannya selama tiga tahun ini.&#xA;&#xA;Semua berawal saat dia pertama kali bertemu dengannya di Swiss. Dia sedang berlibur bersama temannya hasil giveaway temannya itu. Sementara Hanna, dia berlibur karena ingin menghilangkan nama Keenan alias mantannya itu dalam pikirannya. &#xA;&#xA;Saat itu, di Grindelwald First Cliff Walk, waktu dia dan temannya sedang menikmati pemandangan alam sambil memotret sana sini tanpa sengaja kameranya malah menangkap sosok gadis yang begitu tampak cantik dimatanya. Dia Hanna, gadis yang sibuk menikmati indahnya pemandangan Swiss. Parasnya yang cantik, senyumnya yang indah, hingga helai rambutnya yang bertiup angin mampu membuat laki-laki itu terdiam seribu bahasa. &#xA;&#xA;&#34;Oh damn, she&#39;s so pretty,&#34; ucapnya tanpa ia sadari.&#xA;&#xA;Fahri menoleh heran. &#34;Siapa? Gua? Idih merinding gua lu ngomong kayak gitu.&#34;&#xA;&#xA;Zaffran tersadar dari lamunannya. &#34;Minggir!&#34; &#xA;&#xA;&#34;Liat apa lu?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Punya gua jangan diliat, minggir!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Make nih orang,&#34; ucap Fahri kesal.&#xA;&#xA;Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak ingin kehilangan kesempatan Zaffran ingin mendekatinya saat itu, namun sayangnya Hanna sudah pergi dulu bahkan sebelum ia melangkah pergi.&#xA;&#xA;Satu hal yang pasti, tertinggalnya gelang milik Hanna membuat Zaffran yakin suatu hari ia akan bertemu dengannya lagi entah dengan cara apa Tuhan mempertemukan mereka. Dia sungguh berharap akan bertemu dengannya lagi. &#xA;&#xA;Sejak saat itu, Hanna adalah bagian dari kehidupan Zaffran.&#xA;&#xA;Bahkan setelah tiga tahun, dia tidak pernah berhenti berharap Tuhan bisa mempertemukannya.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bagi kebanyakan orang, Hanna adalah orang yang ceria dan dikenal <em>anti-romantic</em> kelas dewa. Diajak kencan tidak mau, dikenalin ke cowok tidak mau, sampai ada yang confess pun dia tolak tanpa ba-bi-bu.</p>

<p>Meskipun begitu, karakternya yang ceria. Dia selalu sibuk menutup topengnya yang lemah itu, Hanna selalu berusaha terlihat bahagia dan baik-baik saja di depan semua orang walau sebenernya dia rapuh.</p>

<p>Hanna itu tipe orang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, walaupun pekerjaannya bukan yang sibuk-sibuk banget tapi dia suka menyibukkan diri. Alasannya hanya ingin lebih lama berada di kafenya. Selain itu, dia juga memang enggan berurusan dengan laki-laki. Baginya satu kali cukup tidak dengan kedua kalinya.</p>

<p>Bisa dibilang dia trauma pasca ditinggal pacarnya yang hilang tanpa kabar apapun itu, jadi dia enggan untuk jatuh cinta lagi atau bahkan pacaran. Terlebih orang tuanya yang berpisah dengan alasan tidak masuk akal makin membuat dia enggan memikirkan laki-laki lagi.</p>

<p>Sementara, Zaffran.</p>

<p>Kebanyakan orang menilainya sebagai dokter yang dingin dan paling irit ngomong. Dia dingin ke semua orang kecuali pasiennya yang anak-anak karena memang dia dokter anak. Tapi tampang mengalahkan segalanya, wajahnya yang tampan dan berwibawa membuat kata dingin itu pun nggak berlaku bagi orang-orang.</p>

<p>Sama seperti Hanna, dia tidak tertarik untuk pacaran. Itu salah satu alasan mengapa selama 28 tahun hidup ini dia masih melajang. Bedanya jika Hanna karena pernah ditinggalin, kalau Zaffran memang belum tertarik saja.</p>

<p>Dijodohin tidak mau, dikenalin juga tidak mau, bahkan beberapa dokter muda yang confess pun nggak ada satupun yang dilirik olehnya. Alasannya selalu sama, nggak tertarik. Padahal temannya itu kepengen sekali sohibnya punya pacar, walau sendirinya masih gamon soal mantannya itu dia selalu sibuk memikirkan gimana caranya supaya Zaffran mau punya cewek. Tapi mau gimana pun usahanya, Zaffran tetap berpegang teguh pada pendiriannya.</p>

<p>“Lu nggak bosen apa jomblo terus?” Fahri bertanya sambil meminum kopinya.</p>

<p>“Biasa aja,” jawabnya singkat sambil mempelajari beberapa jurnal di komputernya.</p>

<p>“Bung, explore dunia coba biar pikiran lu nggak stuck di pasien terus. Minimal jatuh cinta lah terus pacaran.”</p>

<p>“Nggak tertarik.”</p>

<p>“Et dah masa sedikitpun lu nggak ngerasa jatuh cinta gitu sama orang? Dokter muda disini banyak yang cakep kok.”</p>

<p>“Cinta? Apa itu cinta? Lo aja putus sama Selina.”</p>

<p>Fahri meremas cup coffenya yang sudah habis. “Kampret lu,” ucapnya sembari melempar cup tersebut pada Zaffran. Yang dilempar hanya tersenyum sinis.</p>

<p>Terlepas dari semua itu sebetulnya alasannya Zaffran adalah dia sudah menyukai seseorang sejak lama. Namun dia tidak tahu siapa gadis itu, namanya siapa? Tinggalnya dimana? Orang mana? Semua selalu terlintas dipikirannya selama tiga tahun ini.</p>

<p>Semua berawal saat dia pertama kali bertemu dengannya di Swiss. Dia sedang berlibur bersama temannya hasil giveaway temannya itu. Sementara Hanna, dia berlibur karena ingin menghilangkan nama Keenan alias mantannya itu dalam pikirannya.</p>

<p>Saat itu, di Grindelwald First Cliff Walk, waktu dia dan temannya sedang menikmati pemandangan alam sambil memotret sana sini tanpa sengaja kameranya malah menangkap sosok gadis yang begitu tampak cantik dimatanya. Dia Hanna, gadis yang sibuk menikmati indahnya pemandangan Swiss. Parasnya yang cantik, senyumnya yang indah, hingga helai rambutnya yang bertiup angin mampu membuat laki-laki itu terdiam seribu bahasa.</p>

<p><em>“Oh damn, she&#39;s so pretty,”</em> ucapnya tanpa ia sadari.</p>

<p>Fahri menoleh heran. “Siapa? Gua? Idih merinding gua lu ngomong kayak gitu.”</p>

<p>Zaffran tersadar dari lamunannya. “Minggir!”</p>

<p>“Liat apa lu?”</p>

<p>“Punya gua jangan diliat, minggir!”</p>

<p>“Make nih orang,” ucap Fahri kesal.</p>

<p>Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak ingin kehilangan kesempatan Zaffran ingin mendekatinya saat itu, namun sayangnya Hanna sudah pergi dulu bahkan sebelum ia melangkah pergi.</p>

<p>Satu hal yang pasti, tertinggalnya gelang milik Hanna membuat Zaffran yakin suatu hari ia akan bertemu dengannya lagi entah dengan cara apa Tuhan mempertemukan mereka. Dia sungguh berharap akan bertemu dengannya lagi.</p>

<p>Sejak saat itu, Hanna adalah bagian dari kehidupan Zaffran.</p>

<p>Bahkan setelah tiga tahun, dia tidak pernah berhenti berharap Tuhan bisa mempertemukannya.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-7zk3</guid>
      <pubDate>Sat, 29 Nov 2025 01:38:01 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-srs9?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagi banyak orang, jatuh cinta adalah hal yang mudah. Semudah pria dan wanita yang saling bertemu dan bertukar pandang lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada yang berhasil menjadi sepasang kekasih dan ada juga yang hanya sebatas hubungan teman.&#xA;&#xA;Itulah cinta. Tidak tahu kapan datangnya, tidak tahu darimana asalnya, tidak tahu bagaimana akhirnya.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, jatuh cinta adalah hal yang rumit. Bahkan hal yang paling ia hindari. Setelah orang tuanya berpisah sejak ia masih kecil, setelah tiga tahun putus dan ditinggal pergi kekasihnya tanpa kabar dan kejelasan apapun. Ia benci akan jatuh cinta. Ia bahkan bertekad untuk tidak membuka ruang baru untuk siapapun. &#xA;&#xA;Bagi Hanna, fokus berkarir dan membahagiakan diri tanpa campur tangan percintaan adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. &#34;Cinta? Buat apa ada cinta kalau akhirnya harus berpisah?&#34;&#xA;&#xA;Kalimat itu bahkan sudah tertanam sejak ia masih kecil. Bodohnya, ia dengan mudah menerima cinta dari lelaki yang bahkan tidak tahu apa dia memang benar jodohnya atau hanya sebatas menjaga jodoh orang.&#xA;&#xA;Ironis, memang.&#xA;Ya, namanya juga manusia.&#xA;Bukan Tuhan yang bisa tahu bagaimana skenario manusia berjalan. Bukan juga Tuhan yang bisa tahu dengan siapa kita berjodoh.&#xA;&#xA;Tapi terlepas dari semua itu, Hanna selalu melempar senyum dan tawa pada semua orang, berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak. Entah darimana kekuatan itu berasal, tapi ia hanya tidak ingin orang-orang memandangnya lemah.&#xA;&#xA;Itulah, mengapa dia begitu menyukai Hanna. Dia berbeda dari kebanyakan gadis yang ia temui. Dia kuat dan tegar.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang. &#xA;&#xA;Di altar pernikahan, dihadapan semesta, dan dihadapan ratusan jiwa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah Hanna duga sebelumnya, yaitu &#39;menikah&#39;. Sesuatu yang bahkan tidak ia inginkan. Hanna, masih tetap bisa tersenyum lebar. Zaffran tahu bahwa dia enggan untuk menikah, apalagi pernikahan atas dasar perjodohan yang sudah jelas-jelas dia sendiri tidak menginginkan itu. Zaffran tahu bahkan untuk membuka hati lagi untuk orang baru saja Hanna masih kesulitan. Tapi entah bagaimana jadinya dia malah memilih memutuskan untuk menerima lamaran Zaffran malam itu. Padahal, sebelumnya Hanna sudah menolaknya mentah-mentah.&#xA;&#xA;Ya, mungkin... karena ada kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin ada salah satu momen tersebut yang membuat Hanna berpikir lain. Zaffran tidak tahu itu. &#xA;&#xA;Zaffran tahu betul belum ada cinta dan bahkan tidak sama sekali yang ia dapatkan dari Hanna. Tapi, berapa banyak  pasangan yang memilih menikah karena cinta dan apa mereka berhasil menjalaninya dan langgeng sampai akhir? Dan berapa banyak pasangan pula yang menikah atas dasar perjodohan? Apakah memilih menikah dengan cara itu tidak membuat mereka bahagia? &#xA;&#xA;Pasangan yang menikah entah karena cinta ataupun perjodohan, semua bergantung pada mereka yang menjalaninya dan bagaimana cara mereka menjalani itu. Lagi pula cinta bisa datang kapan saja, bahkan seiring berjalannya waktu dia dan Hanna jalani. Dia percaya bahwa Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Dia percaya bahwa cinta juga pasti akan tumbuh di setiap momen yang akan datang. Zaffran yakin itu. Hal itu juga yang membawa takdirnya ke hari ini. Hari ketika dia dan Hanna dipersatukan dalam ikatan pernikahan. &#xA;&#xA;&#34;Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan maskawin tersebut, tunai.&#34;&#xA;&#xA;&#34;Bagaimana para saksi? Sah?&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Sah!&#34;&#xA;&#xA;&#34;Alhamdulilah....&#34;&#xA;&#xA;Riuh semua orang yang hadir di dalam sana. Terlihat semua orang berbahagia atas pernikahan mereka. Keluarga dan teman-teman yang bersorak heboh. Tidak lupa juga sederet dokter-dokter yang turut bersorak gembira. Mereka saling mendoakan dan memberi selamat.&#xA;&#xA;© jjaewookims.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bagi banyak orang, jatuh cinta adalah hal yang mudah. Semudah pria dan wanita yang saling bertemu dan bertukar pandang lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada yang berhasil menjadi sepasang kekasih dan ada juga yang hanya sebatas hubungan teman.</p>

<p>Itulah cinta. Tidak tahu kapan datangnya, tidak tahu darimana asalnya, tidak tahu bagaimana akhirnya.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, jatuh cinta adalah hal yang rumit. Bahkan hal yang paling ia hindari. Setelah orang tuanya berpisah sejak ia masih kecil, setelah tiga tahun putus dan ditinggal pergi kekasihnya tanpa kabar dan kejelasan apapun. Ia benci akan jatuh cinta. Ia bahkan bertekad untuk tidak membuka ruang baru untuk siapapun.</p>

<p>Bagi Hanna, fokus berkarir dan membahagiakan diri tanpa campur tangan percintaan adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. <em>“Cinta? Buat apa ada cinta kalau akhirnya harus berpisah?”</em></p>

<p>Kalimat itu bahkan sudah tertanam sejak ia masih kecil. Bodohnya, ia dengan mudah menerima cinta dari lelaki yang bahkan tidak tahu apa dia memang benar jodohnya atau hanya sebatas menjaga jodoh orang.</p>

<p>Ironis, memang.
Ya, namanya juga manusia.
Bukan Tuhan yang bisa tahu bagaimana skenario manusia berjalan. Bukan juga Tuhan yang bisa tahu dengan siapa kita berjodoh.</p>

<p>Tapi terlepas dari semua itu, Hanna selalu melempar senyum dan tawa pada semua orang, berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak. Entah darimana kekuatan itu berasal, tapi ia hanya tidak ingin orang-orang memandangnya lemah.</p>

<p>Itulah, mengapa dia begitu menyukai Hanna. Dia berbeda dari kebanyakan gadis yang ia temui. Dia kuat dan tegar.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Di altar pernikahan, dihadapan semesta, dan dihadapan ratusan jiwa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah Hanna duga sebelumnya, yaitu <em>&#39;menikah&#39;</em>. Sesuatu yang bahkan tidak ia inginkan. Hanna, masih tetap bisa tersenyum lebar. Zaffran tahu bahwa dia enggan untuk menikah, apalagi pernikahan atas dasar perjodohan yang sudah jelas-jelas dia sendiri tidak menginginkan itu. Zaffran tahu bahkan untuk membuka hati lagi untuk orang baru saja Hanna masih kesulitan. Tapi entah bagaimana jadinya dia malah memilih memutuskan untuk menerima lamaran Zaffran malam itu. Padahal, sebelumnya Hanna sudah menolaknya mentah-mentah.</p>

<p>Ya, mungkin... karena ada kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin ada salah satu momen tersebut yang membuat Hanna berpikir lain. Zaffran tidak tahu itu.</p>

<p>Zaffran tahu betul belum ada cinta dan bahkan tidak sama sekali yang ia dapatkan dari Hanna. Tapi, berapa banyak  pasangan yang memilih menikah karena cinta dan apa mereka berhasil menjalaninya dan langgeng sampai akhir? Dan berapa banyak pasangan pula yang menikah atas dasar perjodohan? Apakah memilih menikah dengan cara itu tidak membuat mereka bahagia?</p>

<p>Pasangan yang menikah entah karena cinta ataupun perjodohan, semua bergantung pada mereka yang menjalaninya dan bagaimana cara mereka menjalani itu. Lagi pula cinta bisa datang kapan saja, bahkan seiring berjalannya waktu dia dan Hanna jalani. Dia percaya bahwa Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Dia percaya bahwa cinta juga pasti akan tumbuh di setiap momen yang akan datang. Zaffran yakin itu. Hal itu juga yang membawa takdirnya ke hari ini. Hari ketika dia dan Hanna dipersatukan dalam ikatan pernikahan.</p>

<p>“Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan maskawin tersebut, tunai.”</p>

<p>“Bagaimana para saksi? Sah?”</p>

<p>“Sah!”</p>

<p>“Sah!”</p>

<p><em>“Alhamdulilah....”</em></p>

<p>Riuh semua orang yang hadir di dalam sana. Terlihat semua orang berbahagia atas pernikahan mereka. Keluarga dan teman-teman yang bersorak heboh. Tidak lupa juga sederet dokter-dokter yang turut bersorak gembira. Mereka saling mendoakan dan memberi selamat.</p>

<p>© jjaewookims.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-srs9</guid>
      <pubDate>Fri, 27 Dec 2024 18:19:45 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Prolog</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/prolog-pyhn?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[4 tahun lalu, Hanna Maheswari atau Hanna menghadiri acara meet and great perdana Diego bersama kedua temannya, Gilang dan Maudy. Hari itu perasaan Hanna sangat kalut, tak ingin berada di sana namun kedua temannya memaksa ia untuk hadir di acara tersebut. Kapan lagi meet and great dengan idola diadakan secara gratis? Tentu saja kedua teman Hanna yang sudah lebih dulu menyukai Diego akan menghadirinya, bukan sekedar karena suka gratisan melainkan mereka hanya ingin menghibur Hanna setelah apa yang menimpa dirinya dua minggu yang lalu. Sementara Hanna ia tidak suka dengan semua ini. Hanna lelah, ia muak dengan semua orang-orang sampai rasanya ingin mati. &#xA;&#xA;Sampai akhirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Maudy, dan memutuskan untuk pergi dari kerumunan tersebut dan meninggalkan kedua temannya. Ia pun pergi menuju sebuah minimarket membeli minuman beralkohol. Sepertinya, rasa sakit akibat jatuh cinta pada pria benar-benar membuat luka besar di hatinya. &#xA;&#xA;Dua langkah Hanna terasa berat karena terus teringat perkataan terakhir kekasihnya. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan membuatnya terdistraksi.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Kak,&#34; ucap Hanna sambil menunduk, lengkap dengan nada lemahnya.&#xA;&#xA;Bukannya mendengar ucapan Hanna, Zaffran justru melihat ke arah kantong plastik berisikan minuman beralkohol yang Hanna bawa. Lalu, ia mengambil kantong plastik itu dan menukarnya dengan sebuah album perdana Diego, lengkap dengan tanda tangan sang artis. &#xA;&#xA;&#34;Aku nggak tau seberat apa masalahmu, tapi menyiksa diri dengan minum-minum nggak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu boleh marah pada dunia, kamu boleh marah pada keadaan, bahkan kamu juga boleh marah pada semua orang kok. Tapi pikirkanlah keluargamu, hm?&#34; Zaffran berucap sambil menulis beberapa kata-kata semangat pada album tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Aku ambil ini,&#34; ucap Zaffran sembari memegang kantong kresek itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu.&#xA;&#xA;Hanna menghela napas berat, perkataan Zaffran terlalu menyayat hatinya. Ia tiba-tiba teringat Papa, Oma, dan juga kedua temannya. Sambil berjalan perlahan ia tersadar kantong kreseknya sudah berubah menjadi sebuah buku berukuran kecil, sebut aja album. &#xA;&#xA;&#34;Bertahanlah….&#34;&#xA;&#xA;Langkah Hanna berhenti setelah Zaffran mengatakan itu. Ia membalikkan badannya, menatap tepat mata Zaffran yang sedang menatapnya juga. Itu kali pertama ia bertemu dengan Zaffran dan kali pertamanya juga ia mengagumi seseorang lebih dulu.&#xA;&#xA;&#34;No way… nggak mungkin gue suka sama orang segampang ini,&#34; ucap Hanna dalam hati.&#xA;&#xA;Ah, tunggu! &#xA;&#xA;Hanna membuka album tersebut dan melihat sebuah nama. San Diego.&#xA;&#xA;&#34;Hah? Diego? Tadi tuh Diegooo?! Cowok yang selalu Gilang dan Maudy omongin?&#34; monolog Hanna dengan wajah penuh tidak percaya &#xA;&#xA;Sejak saat itu, semangat hidup Hanna kembali. Diego adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan, juga alasan mengapa Hanna menyukai Diego.&#xA;&#xA;Tapi ia tidak tahu, bahwa pria yang memakai hoodie beserta masker di wajahnya itu bukanlah Diego, melainkan Zaffran.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>4 tahun lalu, Hanna Maheswari atau Hanna menghadiri acara <em>meet and great</em> perdana Diego bersama kedua temannya, Gilang dan Maudy. Hari itu perasaan Hanna sangat kalut, tak ingin berada di sana namun kedua temannya memaksa ia untuk hadir di acara tersebut. Kapan lagi <em>meet and great</em> dengan idola diadakan secara gratis? Tentu saja kedua teman Hanna yang sudah lebih dulu menyukai Diego akan menghadirinya, bukan sekedar karena suka gratisan melainkan mereka hanya ingin menghibur Hanna setelah apa yang menimpa dirinya dua minggu yang lalu. Sementara Hanna ia tidak suka dengan semua ini. Hanna lelah, ia muak dengan semua orang-orang sampai rasanya ingin mati.</p>

<p>Sampai akhirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Maudy, dan memutuskan untuk pergi dari kerumunan tersebut dan meninggalkan kedua temannya. Ia pun pergi menuju sebuah minimarket membeli minuman beralkohol. Sepertinya, rasa sakit akibat jatuh cinta pada pria benar-benar membuat luka besar di hatinya.</p>

<p>Dua langkah Hanna terasa berat karena terus teringat perkataan terakhir kekasihnya. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan membuatnya terdistraksi.</p>

<p>“Maaf, Kak,” ucap Hanna sambil menunduk, lengkap dengan nada lemahnya.</p>

<p>Bukannya mendengar ucapan Hanna, Zaffran justru melihat ke arah kantong plastik berisikan minuman beralkohol yang Hanna bawa. Lalu, ia mengambil kantong plastik itu dan menukarnya dengan sebuah album perdana Diego, lengkap dengan tanda tangan sang artis.</p>

<p><em>“Aku nggak tau seberat apa masalahmu, tapi menyiksa diri dengan minum-minum nggak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu boleh marah pada dunia, kamu boleh marah pada keadaan, bahkan kamu juga boleh marah pada semua orang kok. Tapi pikirkanlah keluargamu, hm?”</em> Zaffran berucap sambil menulis beberapa kata-kata semangat pada album tersebut.</p>

<p><em>“Aku ambil ini,”</em> ucap Zaffran sembari memegang kantong kresek itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu.</p>

<p>Hanna menghela napas berat, perkataan Zaffran terlalu menyayat hatinya. Ia tiba-tiba teringat Papa, Oma, dan juga kedua temannya. Sambil berjalan perlahan ia tersadar kantong kreseknya sudah berubah menjadi sebuah buku berukuran kecil, sebut aja album.</p>

<p><em>“Bertahanlah….”</em></p>

<p>Langkah Hanna berhenti setelah Zaffran mengatakan itu. Ia membalikkan badannya, menatap tepat mata Zaffran yang sedang menatapnya juga. Itu kali pertama ia bertemu dengan Zaffran dan kali pertamanya juga ia mengagumi seseorang lebih dulu.</p>

<p>“<em>No way</em>… nggak mungkin gue suka sama orang segampang ini,” ucap Hanna dalam hati.</p>

<p>Ah, tunggu!</p>

<p>Hanna membuka album tersebut dan melihat sebuah nama. San Diego.</p>

<p>“Hah? Diego? Tadi tuh Diegooo?! Cowok yang selalu Gilang dan Maudy omongin?” monolog Hanna dengan wajah penuh tidak percaya</p>

<p>Sejak saat itu, semangat hidup Hanna kembali. Diego adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan, juga alasan mengapa Hanna menyukai Diego.</p>

<p>Tapi ia tidak tahu, bahwa pria yang memakai hoodie beserta masker di wajahnya itu bukanlah Diego, melainkan Zaffran.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/prolog-pyhn</guid>
      <pubDate>Sun, 08 Oct 2023 12:15:07 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Prolog</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/prolog?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[4 tahun lalu, Hanna Maheswari atau Hanna menghadiri acara meet and great perdana Diego bersama kedua temannya, Gilang dan Maudy. Hari itu perasaan Hanna sangat kalut, tak ingin berada di sana namun kedua temannya memaksa ia untuk hadir di acara tersebut. Kapan lagi meet and great dengan idola diadakan secara gratis? Tentu saja kedua teman Hanna yang sudah lebih dulu menyukai Diego akan menghadirinya, bukan sekedar karena suka gratisan melainkan mereka hanya ingin menghibur Hanna setelah apa yang menimpa dirinya dua minggu yang lalu. Sementara Hanna ia tidak suka dengan semua ini. Hanna lelah, ia muak dengan semua orang-orang sampai rasanya ingin mati. &#xA;&#xA;Sampai akhirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Maudy, dan memutuskan untuk pergi dari kerumunan tersebut dan meninggalkan kedua temannya. Ia pun pergi menuju sebuah minimarket membeli minuman beralkohol. Sepertinya, rasa sakit akibat jatuh cinta pada pria benar-benar membuat luka besar di hatinya. &#xA;&#xA;Dua langkah Hanna terasa berat karena terus teringat perkataan terakhir kekasihnya. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan membuatnya terdistraksi.&#xA;&#xA;&#34;Maaf, Kak,&#34; ucap Hanna sambil menunduk, lengkap dengan nada lemahnya.&#xA;&#xA;Bukannya mendengar ucapan Hanna, Zaffran justru melihat ke arah kantong plastik berisikan minuman beralkohol yang Hanna bawa. Lalu, ia mengambil kantong plastik itu dan menukarnya dengan sebuah album perdana Diego, lengkap dengan tanda tangan sang artis. &#xA;&#xA;&#34;Aku nggak tau seberat apa masalahmu, tapi menyiksa diri dengan minum-minum nggak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu boleh marah pada dunia, kamu boleh marah pada keadaan, bahkan kamu juga boleh marah pada semua orang kok. Tapi pikirkanlah keluargamu, hm?&#34; Zaffran berucap sambil menulis beberapa kata-kata semangat pada album tersebut. &#xA;&#xA;&#34;Aku ambil ini,&#34; ucap Zaffran sembari memegang kantong kresek itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu.&#xA;&#xA;Hanna menghela napas berat, perkataan Zaffran terlalu menyayat hatinya. Ia tiba-tiba teringat Papa, Oma, dan juga kedua temannya. Sambil berjalan perlahan ia tersadar kantong kreseknya sudah berubah menjadi sebuah buku berukuran kecil, sebut aja album. &#xA;&#xA;&#34;Bertahanlah….&#34;&#xA;&#xA;Langkah Hanna berhenti setelah Zaffran mengatakan itu. Ia membalikkan badannya, menatap tepat mata Zaffran yang sedang menatapnya juga. Itu kali pertama ia bertemu dengan Zaffran dan kali pertamanya juga ia mengagumi seseorang lebih dulu.&#xA;&#xA;&#34;No way… nggak mungkin gue suka sama orang segampang ini,&#34; ucap Hanna dalam hati.&#xA;&#xA;Ah, tunggu! &#xA;&#xA;Hanna membuka album tersebut dan melihat sebuah nama. San Diego.&#xA;&#xA;&#34;Hah? Diego? Tadi tuh Diegooo?! Cowok yang selalu Gilang dan Maudy omongin?&#34; monolog Hanna dengan wajah penuh tidak percaya &#xA;&#xA;Sejak saat itu, semangat hidup Hanna kembali. Diego adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan, juga alasan mengapa Hanna menyukai Diego.&#xA;&#xA;Ia tidak tahu, bahwa pria yang memakai hoodie beserta masker di wajahnya itu bukanlah Diego, melainkan Zaffran.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>4 tahun lalu, Hanna Maheswari atau Hanna menghadiri acara <em>meet and great</em> perdana Diego bersama kedua temannya, Gilang dan Maudy. Hari itu perasaan Hanna sangat kalut, tak ingin berada di sana namun kedua temannya memaksa ia untuk hadir di acara tersebut. Kapan lagi <em>meet and great</em> dengan idola diadakan secara gratis? Tentu saja kedua teman Hanna yang sudah lebih dulu menyukai Diego akan menghadirinya, bukan sekedar karena suka gratisan melainkan mereka hanya ingin menghibur Hanna setelah apa yang menimpa dirinya dua minggu yang lalu. Sementara Hanna ia tidak suka dengan semua ini. Hanna lelah, ia muak dengan semua orang-orang sampai rasanya ingin mati.</p>

<p>Sampai akhirnya, ia melepaskan diri dari pegangan Maudy, dan memutuskan untuk pergi dari kerumunan tersebut dan meninggalkan kedua temannya. Ia pun pergi menuju sebuah minimarket membeli minuman beralkohol. Sepertinya, rasa sakit akibat jatuh cinta pada pria benar-benar membuat luka besar di hatinya.</p>

<p>Dua langkah Hanna terasa berat karena terus teringat perkataan terakhir kekasihnya. Namun, tiba-tiba tanpa sengaja ia menabrak seseorang dan membuatnya terdistraksi.</p>

<p>“Maaf, Kak,” ucap Hanna sambil menunduk, lengkap dengan nada lemahnya.</p>

<p>Bukannya mendengar ucapan Hanna, Zaffran justru melihat ke arah kantong plastik berisikan minuman beralkohol yang Hanna bawa. Lalu, ia mengambil kantong plastik itu dan menukarnya dengan sebuah album perdana Diego, lengkap dengan tanda tangan sang artis.</p>

<p><em>“Aku nggak tau seberat apa masalahmu, tapi menyiksa diri dengan minum-minum nggak akan bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu boleh marah pada dunia, kamu boleh marah pada keadaan, bahkan kamu juga boleh marah pada semua orang kok. Tapi pikirkanlah keluargamu, hm?”</em> Zaffran berucap sambil menulis beberapa kata-kata semangat pada album tersebut.</p>

<p><em>“Aku ambil ini,”</em> ucap Zaffran sembari memegang kantong kresek itu kemudian pergi meninggalkan gadis itu.</p>

<p>Hanna menghela napas berat, perkataan Zaffran terlalu menyayat hatinya. Ia tiba-tiba teringat Papa, Oma, dan juga kedua temannya. Sambil berjalan perlahan ia tersadar kantong kreseknya sudah berubah menjadi sebuah buku berukuran kecil, sebut aja album.</p>

<p><em>“Bertahanlah….”</em></p>

<p>Langkah Hanna berhenti setelah Zaffran mengatakan itu. Ia membalikkan badannya, menatap tepat mata Zaffran yang sedang menatapnya juga. Itu kali pertama ia bertemu dengan Zaffran dan kali pertamanya juga ia mengagumi seseorang lebih dulu.</p>

<p>“<em>No way</em>… nggak mungkin gue suka sama orang segampang ini,” ucap Hanna dalam hati.</p>

<p>Ah, tunggu!</p>

<p>Hanna membuka album tersebut dan melihat sebuah nama. San Diego.</p>

<p>“Hah? Diego? Tadi tuh Diegooo?! Cowok yang selalu Gilang dan Maudy omongin?” monolog Hanna dengan wajah penuh tidak percaya</p>

<p>Sejak saat itu, semangat hidup Hanna kembali. Diego adalah alasan utama mengapa dia harus bertahan, juga alasan mengapa Hanna menyukai Diego.</p>

<p>Ia tidak tahu, bahwa pria yang memakai hoodie beserta masker di wajahnya itu bukanlah Diego, melainkan Zaffran.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/prolog</guid>
      <pubDate>Sun, 08 Oct 2023 12:04:24 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Our Wedding Day.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/our-wedding-day-41q3?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p><em>Katanya,</em> “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/our-wedding-day-41q3</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:30:29 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-0bbv?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Our Wedding Day.&#xA;&#xA;Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Our Wedding Day.</em></p>

<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p><em>Katanya,</em> “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-0bbv</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:25:20 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-2183?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Our Wedding Day&#xA;&#xA;Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Our Wedding Day</em></p>

<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p><em>Katanya,</em> “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-2183</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:25:10 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>Our Wedding Day</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/our-wedding-day-0s0z?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p><em>Katanya,</em> “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/our-wedding-day-0s0z</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:24:23 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-wlz4?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Our Wedding Day&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Our Wedding Day</em></p>

<hr/>

<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p><em>Katanya,</em> “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-wlz4</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:22:21 +0000</pubDate>
    </item>
    <item>
      <title>000.</title>
      <link>https://jjaewookims.writeas.com/000-nryx?pk_campaign=rss-feed</link>
      <description>&lt;![CDATA[Our Wedding Day&#xA;&#xA;--- &#xA;&#xA;Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.&#xA;&#xA;Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati? &#xA;&#xA;Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.&#xA;&#xA;Sama seperti sekarang.&#xA;&#xA;Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.&#xA;&#xA;Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.&#xA;&#xA;Katanya, &#34;Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.&#34;&#xA;&#xA;© jjaewookims.]]&gt;</description>
      <content:encoded><![CDATA[<p><em>Our Wedding Day</em></p>

<hr/>

<p>Bagi banyak orang, menikah adalah momen sakral yang paling indah dan terbaik dalam sebuah hubungan terikat. Laki-laki dan wanita akan hidup berdampingan dan bersama membangun sebuah keluarga usai melewati stase percintaan yang lama. Saling mengasihi, mencintai, menyayangi dan menjaga kepercayaan satu sama lain.</p>

<p>Tapi bagi Hanna, menikah adalah momen paling buruk dalam sebuah hubungan yang dia jalani saat ini. Ketika cinta, kasih sayang, dan kepercayaan yang ia berikan untuk seseorang malah berakhir dengan rasa sakit dan air mata. Lalu, untuk apa cinta itu ada? Untuk apa berjanji jika tidak menepatinya? Untuk apa percaya jika akhirnya dikhianati?</p>

<p>Padahal hari itu, ia bahkan memberanikan diri untuk menerima orang tersebut. Tapi siapa sangka? Dia, yang membuat dirinya mengubur semua masa lalu kelamnya, hari itu juga dengan orang yang sama masa lalunya kembali menghantuinya. Sejak saat itu, jatuh cinta dan pernikahan menjadi hal yang paling ia takuti.</p>

<p>Sama seperti sekarang.</p>

<p>Saat janji mereka terikrar di depan ratusan manusia, ada rasa takut yang menggerogoti tubuhnya dan ketakutan itu nyaris menghancurkan semuanya. Tetapi, Zaffran meraih dan menggenggam erat kuat tangannya, sembari mengucap ijab qobul pernikahan dengan lancar.</p>

<p>Selesai bertukar cincin, Hanna mencium tangan suaminya. Setelah itu, Zaffran maju dan membawa Hanna dalam pelukannya. Ia kecup keningnya, lalu membisikkan sesuatu.</p>

<p>Katanya, “Hanna, jangan takut, aku di sini untukmu. Kamu tidak sendiri, aku di sini bersamamu. Aku… tidak akan meninggalkanmu.”</p>

<p>© jjaewookims.</p>
]]></content:encoded>
      <guid>https://jjaewookims.writeas.com/000-nryx</guid>
      <pubDate>Sun, 24 Sep 2023 09:20:48 +0000</pubDate>
    </item>
  </channel>
</rss>