000.

Bagi banyak orang, jatuh cinta adalah hal yang mudah. Semudah pria dan wanita yang saling bertemu dan bertukar pandang lalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Ada yang berhasil menjadi sepasang kekasih dan ada juga yang hanya sebatas hubungan teman.

Itulah cinta. Tidak tahu kapan datangnya, tidak tahu darimana asalnya, tidak tahu bagaimana akhirnya.

Tapi bagi Hanna, jatuh cinta adalah hal yang rumit. Bahkan hal yang paling ia hindari. Setelah orang tuanya berpisah sejak ia masih kecil, setelah tiga tahun putus dan ditinggal pergi kekasihnya tanpa kabar dan kejelasan apapun. Ia benci akan jatuh cinta. Ia bahkan bertekad untuk tidak membuka ruang baru untuk siapapun.

Bagi Hanna, fokus berkarir dan membahagiakan diri tanpa campur tangan percintaan adalah hal terbaik yang bisa dilakukannya. “Cinta? Buat apa ada cinta kalau akhirnya harus berpisah?”

Kalimat itu bahkan sudah tertanam sejak ia masih kecil. Bodohnya, ia dengan mudah menerima cinta dari lelaki yang bahkan tidak tahu apa dia memang benar jodohnya atau hanya sebatas menjaga jodoh orang.

Ironis, memang. Ya, namanya juga manusia. Bukan Tuhan yang bisa tahu bagaimana skenario manusia berjalan. Bukan juga Tuhan yang bisa tahu dengan siapa kita berjodoh.

Tapi terlepas dari semua itu, Hanna selalu melempar senyum dan tawa pada semua orang, berusaha untuk terlihat baik-baik saja walau sebenarnya tidak. Entah darimana kekuatan itu berasal, tapi ia hanya tidak ingin orang-orang memandangnya lemah.

Itulah, mengapa dia begitu menyukai Hanna. Dia berbeda dari kebanyakan gadis yang ia temui. Dia kuat dan tegar.

Sama seperti sekarang.

Di altar pernikahan, dihadapan semesta, dan dihadapan ratusan jiwa. Sesuatu yang bahkan tidak pernah Hanna duga sebelumnya, yaitu 'menikah'. Sesuatu yang bahkan tidak ia inginkan. Hanna, masih tetap bisa tersenyum lebar. Zaffran tahu bahwa dia enggan untuk menikah, apalagi pernikahan atas dasar perjodohan yang sudah jelas-jelas dia sendiri tidak menginginkan itu. Zaffran tahu bahkan untuk membuka hati lagi untuk orang baru saja Hanna masih kesulitan. Tapi entah bagaimana jadinya dia malah memilih memutuskan untuk menerima lamaran Zaffran malam itu. Padahal, sebelumnya Hanna sudah menolaknya mentah-mentah.

Ya, mungkin... karena ada kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin ada salah satu momen tersebut yang membuat Hanna berpikir lain. Zaffran tidak tahu itu.

Zaffran tahu betul belum ada cinta dan bahkan tidak sama sekali yang ia dapatkan dari Hanna. Tapi, berapa banyak pasangan yang memilih menikah karena cinta dan apa mereka berhasil menjalaninya dan langgeng sampai akhir? Dan berapa banyak pasangan pula yang menikah atas dasar perjodohan? Apakah memilih menikah dengan cara itu tidak membuat mereka bahagia?

Pasangan yang menikah entah karena cinta ataupun perjodohan, semua bergantung pada mereka yang menjalaninya dan bagaimana cara mereka menjalani itu. Lagi pula cinta bisa datang kapan saja, bahkan seiring berjalannya waktu dia dan Hanna jalani. Dia percaya bahwa Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Dia percaya bahwa cinta juga pasti akan tumbuh di setiap momen yang akan datang. Zaffran yakin itu. Hal itu juga yang membawa takdirnya ke hari ini. Hari ketika dia dan Hanna dipersatukan dalam ikatan pernikahan.

“Saya terima nikah dan kawinnya Hanna Maheswari binti Hasan Maheswari dengan maskawin tersebut, tunai.”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah!”

“Sah!”

“Alhamdulilah....”

Riuh semua orang yang hadir di dalam sana. Terlihat semua orang berbahagia atas pernikahan mereka. Keluarga dan teman-teman yang bersorak heboh. Tidak lupa juga sederet dokter-dokter yang turut bersorak gembira. Mereka saling mendoakan dan memberi selamat.

© jjaewookims.