000.

Bagi kebanyakan orang, Hanna adalah orang yang ceria dan dikenal anti-romantic kelas dewa. Diajak kencan tidak mau, dikenalin ke cowok tidak mau, sampai ada yang confess pun dia tolak tanpa ba-bi-bu.

Meskipun begitu, karakternya yang ceria. Dia selalu sibuk menutup topengnya yang lemah itu, Hanna selalu berusaha terlihat bahagia dan baik-baik saja di depan semua orang walau sebenernya dia rapuh.

Hanna itu tipe orang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya, walaupun pekerjaannya bukan yang sibuk-sibuk banget tapi dia suka menyibukkan diri. Alasannya hanya ingin lebih lama berada di kafenya. Selain itu, dia juga memang enggan berurusan dengan laki-laki. Baginya satu kali cukup tidak dengan kedua kalinya.

Bisa dibilang dia trauma pasca ditinggal pacarnya yang hilang tanpa kabar apapun itu, jadi dia enggan untuk jatuh cinta lagi atau bahkan pacaran. Terlebih orang tuanya yang berpisah dengan alasan tidak masuk akal makin membuat dia enggan memikirkan laki-laki lagi.

Sementara, Zaffran.

Kebanyakan orang menilainya sebagai dokter yang dingin dan paling irit ngomong. Dia dingin ke semua orang kecuali pasiennya yang anak-anak karena memang dia dokter anak. Tapi tampang mengalahkan segalanya, wajahnya yang tampan dan berwibawa membuat kata dingin itu pun nggak berlaku bagi orang-orang.

Sama seperti Hanna, dia tidak tertarik untuk pacaran. Itu salah satu alasan mengapa selama 28 tahun hidup ini dia masih melajang. Bedanya jika Hanna karena pernah ditinggalin, kalau Zaffran memang belum tertarik saja.

Dijodohin tidak mau, dikenalin juga tidak mau, bahkan beberapa dokter muda yang confess pun nggak ada satupun yang dilirik olehnya. Alasannya selalu sama, nggak tertarik. Padahal temannya itu kepengen sekali sohibnya punya pacar, walau sendirinya masih gamon soal mantannya itu dia selalu sibuk memikirkan gimana caranya supaya Zaffran mau punya cewek. Tapi mau gimana pun usahanya, Zaffran tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

“Lu nggak bosen apa jomblo terus?” Fahri bertanya sambil meminum kopinya.

“Biasa aja,” jawabnya singkat sambil mempelajari beberapa jurnal di komputernya.

“Bung, explore dunia coba biar pikiran lu nggak stuck di pasien terus. Minimal jatuh cinta lah terus pacaran.”

“Nggak tertarik.”

“Et dah masa sedikitpun lu nggak ngerasa jatuh cinta gitu sama orang? Dokter muda disini banyak yang cakep kok.”

“Cinta? Apa itu cinta? Lo aja putus sama Selina.”

Fahri meremas cup coffenya yang sudah habis. “Kampret lu,” ucapnya sembari melempar cup tersebut pada Zaffran. Yang dilempar hanya tersenyum sinis.

Terlepas dari semua itu sebetulnya alasannya Zaffran adalah dia sudah menyukai seseorang sejak lama. Namun dia tidak tahu siapa gadis itu, namanya siapa? Tinggalnya dimana? Orang mana? Semua selalu terlintas dipikirannya selama tiga tahun ini.

Semua berawal saat dia pertama kali bertemu dengannya di Swiss. Dia sedang berlibur bersama temannya hasil giveaway temannya itu. Sementara Hanna, dia berlibur karena ingin menghilangkan nama Keenan alias mantannya itu dalam pikirannya.

Saat itu, di Grindelwald First Cliff Walk, waktu dia dan temannya sedang menikmati pemandangan alam sambil memotret sana sini tanpa sengaja kameranya malah menangkap sosok gadis yang begitu tampak cantik dimatanya. Dia Hanna, gadis yang sibuk menikmati indahnya pemandangan Swiss. Parasnya yang cantik, senyumnya yang indah, hingga helai rambutnya yang bertiup angin mampu membuat laki-laki itu terdiam seribu bahasa.

“Oh damn, she's so pretty,” ucapnya tanpa ia sadari.

Fahri menoleh heran. “Siapa? Gua? Idih merinding gua lu ngomong kayak gitu.”

Zaffran tersadar dari lamunannya. “Minggir!”

“Liat apa lu?”

“Punya gua jangan diliat, minggir!”

“Make nih orang,” ucap Fahri kesal.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia jatuh cinta pada pandangan pertama. Tidak ingin kehilangan kesempatan Zaffran ingin mendekatinya saat itu, namun sayangnya Hanna sudah pergi dulu bahkan sebelum ia melangkah pergi.

Satu hal yang pasti, tertinggalnya gelang milik Hanna membuat Zaffran yakin suatu hari ia akan bertemu dengannya lagi entah dengan cara apa Tuhan mempertemukan mereka. Dia sungguh berharap akan bertemu dengannya lagi.

Sejak saat itu, Hanna adalah bagian dari kehidupan Zaffran.

Bahkan setelah tiga tahun, dia tidak pernah berhenti berharap Tuhan bisa mempertemukannya.